
Akhirnya beberapa hari telah berlalu, semuanya terlihat senang dan sudah siap berangkat bersama Qinli. Kini giliran Ekali berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Kalian harus berhati-hati dan harus kembali dengan selamat," pesan Ibu Qinli pada putranya.
Wajah Qinli terlihat sendu saat berpamitan.
"Iya, setelah aku kembali nanti, aku akan menghabiskan waktu dan menemani kalian baik-baik."
Ayah Qinli memegang bahu putranya.
"Kami juga ingin menghabiskan waktu kami denganmu," ucapnya dengan tersenyum.
"Iya, tolong jaga Qingyin untukku."
Dari arah belakang, Nona Mo Yao mengangkat tangannya ke atas melambai ke arah Qinli.
"Sudah waktunya kita berangkat!"
Akhirnya ke empat orang tersebut berangkat dan meninggalkan kediaman Qin. Kedua orang tua Qinli memandang putranya dengan rasa khawatir.
"Qinli sudah dewasa. Kita harus percaya padanya," ucap Ayah Qinli.
"Iya."
Sesaat kemudian, Ayah Qinli teringat sesuatu.
"Kita sudah tertidur lelap begitu lama. Kita perlu membantu Qinli membersihkan anggota jahat yang ada di Keluarga Qin."
Ibu Qinli tersenyum dan menjentikkan jarinya.
"Iya, aku hampir saja lupa. Kita juga harus membantu Qinli menjelaskan ini pada besan."
Lalu kedua orang tua Qinli tersenyum dan saling memandang.
Sementara itu kapal yang dikendarai Qinli dan yang lainnya masih dalam perjalanan menuju alam semesta memasuki dimensi lain. Qinli yang memegang kendali saat ini.
__ADS_1
"Aku ingat rute yang kami ambil terakhir kali seperti ini, seharusnya tidak salah ...." ucap Qinli di dalam hati.
Tiba-tiba saja di atas kapal mereka ada kapal asing. Tetua Xia yang melihat hal tersebut terkejut.
"Sejak kapan kapal itu muncul?" teriaknya.
Dari atas kapal asing tersebut muncul dua orang kestria. Salah satunya adalah Tuan Muda dari Keluarga Lei dan yang satunya adalah adik perempuannya Luo Xin.
Tuan Muda Keluarga Lei tampaknya tidak suka ketika Qinli melewati jalur kapal mereka dan ia langsung menegurnya.
"Beraninya kapal dari daratan level rendah muncul di wilayahku!"
"Sudah bosan hidup, ya!" ucapnya sambil menyerang Qinli dan yang lainnya secara mendadak.
...SRASH!...
Beruntung Qinli bisa menahan serangannya.
"Siapa yang menentukan bahwa jalan ini hanya boleh dilewati olehmu!" ucap Qinli dengan lantang.
"Orang ini jauh lebih kuat daripada orang yang aku temui terakhir kali. Namun, masih belum saatnya aku mengeluarkan seluruh kekuatanku," gumam Qinli.
Tuan Muda dari Keluarga Lei tampak menyeringai dan sedikit memuji kekuatan Qinli.
"Kau lumayan hebat juga. Tapi, orang lain yang ada di kapalmu ini sepertinya tidak sehebat dirimu!"
Benar saja ketiga teman Qinli yang berada di belakangnya terkena serangan dari Tuan Muda Lei. Mereka terjebak akan kekuatan darinya.
"Apa ini?" tanya Nona Mo Yao yang sudah terlilit kekuatan dari Tuan Muda Keluarga Lei.
Sementara itu Tetua Xia dan Zitan juga bernasib sama.
"Aku tidak dapat menggunakan energi spiritualku?"
"Aku juga!" teriak Tetua Xia.
__ADS_1
Tiba-tiba saja mereka dibawa mendekat ke arah Tuan Muda dari Keluarga Lei. Serempak mereka berteriak.
"Kakak ipar!"
"Qinli ....!"
"Zitan, Yufei, Mo Yao!" teriak Qinli.
Benar saja ketiga gadis itu dibawa ke hadapannya. Lalu Nona Mo Yao memaki laki-laki tersebut.
"Dasar sekumpulan baji**n, beraninya menyerang secara diam-diam! Lepaskan aku!" teriaknya.
Qinli berhasil mengejar mereka dan naik ke kapal mereka.
"Kita belum pernah bertemu sebelumnya, kan? Atas dasar apa kau menahan orang-orangku?" tanya Qinli sambil membawa Pedang Zhanlu di tangan kanannya.
"Huh, memangnya harus memberikan alasan kepada seekor ulat sepertimu?"
"Bagaimana kalau sekarang?"
Tiba-tiba Qinli mengarahkan pedangnya ke leher Tuan Muda. Ia pun menyuruh adiknya untuk mundur.
"Mundurlah!"
"Baik."
Tuan Muda Keluarga Lei kemudian mengeratkan kekuatannya agar membelit ketiga gadis orang-orang Qinli dengan sangat kuat.
"Kalau aku mati, mereka juga akan mati, pikirkanlah baik-baik!" gertaknya.
"Lalu apa maumu?"
"Orang daratan sampah sepertimu bisa berkultivasi sampai level ini tidaklah mudah, kan?"
"Begini saja, kau hancurkan kultivasimu dan aku akan melepaskan mereka!"
__ADS_1