MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 211


__ADS_3

Terlihat ada sebuah gelombang besar yang turun dari langit sama seperti gelombang angin tornado menghantam sebuah gunung. Ternyata Qinli benar-benar telah kembali ke bumi.


"Ayah, Ibu, aku pulang!" ucap Qinli sambil tersenyum.


Kini Qinli benar-benar berada di hadapan kedua orang tuanya bersama Si Putih yang setia berada di bahu Qinli.


"Aku pulang!"


"Li'Er?" sapa kedua orang tuanya secara bersamaan.


"Waktunya pas sekali, di saat anomali muncul, Li'Er kembali!" ucap Ayah Qinli di dalam hati.


Merasa jika kejadian spektakuler yang terjadi barusan adalah ulah putranya, Ayah Qinli segera menanyakan hal itu secara langsung padanya.


"Li'Er, apakah kau yang menyebabkan gelombang di atas tadi?" tanya Ayah Qinli.


Tanpa keraguan, Qinli mengatakan kebenarannya.


"Di atas langit? Seharusnya iya, padahal tadi aku melakukannya dengan pelan-pelan ...."


Sontak saja kedua orang tuanya terkejut dengan ucapan Qinli barusan.


"Aku tidak menyangka kekuatanmu sekarang sudah ...." ucap mereka bersamaan kembali.

__ADS_1


Ibu Qinli yang sangat sensitif dan kritis terhadap sesuatu hal segera menanyakan binatang yang berada di bahu putranya itu.


"Li'Er, binatang yang ada di atas bahumu itu adalah binatang peliharaan spiritual dalam legenda, bukan?"


Karena yang ia tahu, rubah dengan ekor sembilan hanya ada di dalam sebuah cerita legenda. Sangat jarang bisa ditemui di alam modern seperti saat ini. Maka dari itu ibunya Qinli menanyakannya secara langsung.


"Ya, namanya Si Putih," ucap Qinli sambil menoleh ke arah binatang peliharaannya.


Ibu Qinli yang gemas dengan Si Putih segera mendekatinya, lalu menyentuhkan telapak tangannya ke arahnya. Dengan senangnya Si Putih juga mengulurkan tangannya ke depan hingga bersentuhan dengan telapak tangan Ibu Qinli.


"Lucu sekali."


Sebagai seorang ayah, tentu saja kekhawatiran Ayah Qinli berlebihan. Hingga ia menanyakan kembali apakah di luar sana Qinli mendapatkan banyak kesulitan atau tidak.


Mengerti akan kerisauan ayahnya, Qinli mencoba untuk tidak mengatakan hal yang sesungguhnya pada mereka.


"Tidak perlu khawatir, ayah ...."


Dengan gaya dan nada bicara yang sangat tenang, Qinli menceritakan keseruannya di alam lain tersebut.


"Meski bertemu bahaya, aku mendapatkan banyak keberuntungan dan juga menemukan pil obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkan Qingyin."


"Sungguh?" tanya keduanya secara bersamaan.

__ADS_1


"Ceritanya panjang, antar aku ke kamar Qingyin dulu," pinta Qinli.


Dengan senang hati kedua orang tuanya mengantar Qinli menuju kamar Qingyin.


"Benar juga, sekarang bukan waktunya untuk bercerita, ayo jalan!"


Beberapa saat kemudian, Qinli sudah berada di dalam ruang rawat Qingyin. Keadaan istrinya sama sekali belum ada perubahan. Hingga Qinli kembali memeriksa keadaan sang istri.


Dengan segera Qinli mulai mengobati sang istri. Agar lebih nyaman ketika terdengar derap langkah masuk, ia segera pergi.


"Obatnya sudah di serap habis."


"Denyut nadinya juga sudah stabil, seharusnya dia sudah sembuh!"


"Namun, kenapa Qingyin masih belum bangun?"


Tampak raut wajah Qinli kembali diracuni semua kekhawatiran tentang kesehatan sang istri. Akan tetapi ia tetap berharap jika istrinya benar-benar siuman lagi.


Qinli menoleh ke arah pil yang ia racik sebelumnya.


"Apakah aku melakukan kesalahan di saat aku meracik pil?"


Sebenarnya Qingyin sudah siuman, hanya saja ia berniat mengerjai suaminya sendiri. Sudah terlalu lama tidak bertemu membuatnya merindu.

__ADS_1


__ADS_2