MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 78


__ADS_3

BRAK!!


Lelaki berhodie hitam itu terbangun, ia pun mulai menjelaskan semuanya pada Kapten Xu.


"Aku mendapatkan informasi yang salah! Sebelumnya, sekelompok prajurit yang gagal dalam perburuan ular itu kembali dan berbohong padaku bahwa ular itu punya kekuatan level master, tapi sama sekali tidak benar!"


"Kali ini juga gagal menghabisi si bocah Qinli itu!" ucapnya penuh amarah.


"Sebenarnya ada dendam apa antara kau dan Qinli? Bukankah dulunya kau sangat mengaguminya?" tanya Kapten Xu penasaran.


"Awalnya, aku memang mengaguminya. Namun, setelahnya aku mendapat kabar bahwa dia ternyata anak dari dua orang itu!"


"Aku juga punya pilihan lain! Orang tuanya berhutang padaku dan hutang itu harus dibayar lunas olehnya!" ucap Ketua Wang.


Ternyata lelaki berhodie hitam itu adalah Ketua Wang. Ia pun menyimpan dendam pribadi pada Qinli.


"Kuperingatkan kau! Apa pun dendam yang kau punya terhadap Qinli, jangan melibatkan adikku lagi! Jika tidak jangan salahkan aku, karena bersikap kasar padamu!" gertak Komandan Xu sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Ketua Wang.


"Komandan Xu, tolong perhatikan sikapmu!" ucap Ketua Wang lantang.


Situasi sempat memanas kala itu. Hingga Ketua Wang segera merubah mimik wajahnya. Ia pun seolah bersikap menyerah kala itu.


"Oke, oke, tenanglah! Aku juga tidak menyangka kau begitu peduli dengan saudara tirimu itu!" ucapnya sambil menyeringai.


Dengan amarah yang masih menggebu, Komandan Xu berniat segera meninggalkan tempat itu. Tetapi sebelumnya ia mengancam Ketua Wang sekali lagi.


"Karena melihat kau adalah rekan seperjuanganku selama bertahun-tahun, maka masalah hari ini tidak akan aku perhitungkan lagi. Bersikaplah dengan baik!" ucapnya sebelum pergi.


Lalu setelahnya ia pun membanting pintu dengan sangat keras.


"Xu Qiang, kau sangat tidak patuh. Kalau seperti ini jangan salahkan aku!" ucapnya sambil membetulkan kaca matanya.


Sesaat kemudian ia mengambil ponsel miliknya lalu menghubungi seseorang.


"Mulai bergerak!" perintahnya.


Sambil menyeringai orang di sebelah sana mengiyakan perintah Ketua Wang.


"Ok."


...⚜⚜⚜...


...Rumah Sakit Rakyat Shangjing...


Hari itu Tuan Muda Xu sudah siuman.


"Ugh ... di mana aku?"


"Adik, akhirnya kau siuman?" ucap Nona Xu terharu.


Ia pun bangkit dan mulai mendekati brankar milik adiknya itu.


"Kau ada di rumah sakit dan tidak sadarkan diri selama beberapa hari ini. Untung saja jantung ular itu bekerja," ucap Qinli.


Tuan Muda Xu mulai bangkit dan mencoba duduk tetapi tiba-tiba kakak perempuannya memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Kau benar-benar membuatku khawatir," ucapnya dengan terisak.


"Ugh, Kak. Pelan-pelan, sakit!" ucap Tuan Muda Xu.


Ia pun mengusap kepalanya.


"Sebenarnya, aku dalam kondisi setengah sadar, aku bisa mendengar beberapa percakapan kalian. Kalau bukan berkat kak Qin, aku pasti ...."


"Untungnya, Nona Xu memberi tahuku mengenai kondisimu tepat waktu, jika tidak kau benar-benar tidak dapat tertolong lagi!"


Tuan Muda Xu mengingat sesuatu, "Hanya kakak besar yang melihat obat yang diberikan Kak Qin kepadaku. Selain itu aku dan Jiangjun meminum obat itu ...."


"Oh iya, di mana kakak besar?"


"Beberapa hari ini dia terus menjagaku sepanjang hari, kenapa sekarang malah menghilang?"


Karena perasaan wanita lebih sensitif, Nona Xu terisak.


"Kakak besar, dia ...."


"Ada apa dengan kakak besar? Kakak, cepat katakan!"


"Mungkin karena belakangan ini dia terlalu kelelahan. Dalam perjalanan kembali tadi malam, dia mengemudi mobil keluar dari jalur pegunungan dan jatuh ke jurang perbukitan," terang Qinli mencoba menjelaskan semuanya.


"Mobilnya hancur dan dia meninggal."


"Apa!"


🍃Keesokan harinya.


"Komandan Xu adalah rekan seperjuangan berprestasi yang pantas kita kenang selamanya!" ucap Ketua Wang.


"Selanjutnya silakan semuanya mengheningkan cipta!"


"Aih," ucap Kader He sambil menunduk.


Sementara itu Nona Xu kembali menangis. Tetapi bayangan indah semasa kecil bersama sang kakak membuat Tuan Muda Xu bersedih.


Waktu yang mereka lewati bersama sewaktu kecil nyatanya kembali berputar siang itu. Saat-saat bermain layang-layang bersama, melindungi dirinya saat ada hewan buas, melihat kakak besarnya berlatih bela diri membuat kenangan masa kecilnya sangat berwarna kala itu.


Belum lagi ucapan sang kakak yang tidak bisa ia lupakan saat ini.


"Aku rasa kau tidak menjadi prajurit ada bagusnya, selama kakak masih hidup, tidak ada yang bisa melukaimu!" ucap Komandan Xu sewaktu kecil dengan sangat bahagia.


"Kakak!" seru Tuan Muda Xu memendam amarah.


Terlihat sekali kekecewaan di dalam kedua bola matanya saat melihat nisan kakaknya, Xuqiang.


Ketua Wang lalu mendekati Tuan Muda Xu sambil memberikan support padanya. Ia memegang pundak Tuan Muda Xu.


"Aku turut berduka cita!"


"Iya ...."


Sesaat kemudian terdengar tembakan meriam berjumlah delapan kali.

__ADS_1


Ketua Wang terkejut kali ini, ia pun bertanya pada Kader He.


"Delapan meriam? Bukankah itu pemakaman standar tertinggi dalam organisasi?"


"Benar, Xuqiang selama ini telah berjuang berdedikasi untuk organisasi, delapan meriam ditembakkan di saat bersamaan sebagai penghargaan atas kontribusinya dan untuk menunjukkan rasa hormat padanya," ucap Kader He.


"Iya, dia pantas mendapatkannya!" ucap Ketua Wang sambil berbalik badan.


Tapi isi di dalam hatinya berbeda. "Tidak disangka kematiannya malah membuatnya menjadi pahlawan."


Melihat Ketua Wang pergi, Kader He teringat sesuatu.


"Shouyi, kau harus membantu mencarikan kandidat baru untuk mengambil alih posisi Xuqiang, aku khawatir keluarga lain ...."


"Tenang saja pemimpin, aku sudah mengatur semuanya!"


Lalu semua pelayat kembali pulang, tapi di saat yang sama Jiangjun kehilangan Qinli.


"Huh, dimana Qin?" ucapnya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


Beberapa saat kemudian, prajurit yang masih berjaga di area makam melihat ada orang lain yang mendekati area pemakaman Xuqiang.


"Mundur! Orang luar tidak boleh memasuki pemakaman!" gertaknya.


Tanpa berkata apapun, orang itu langsung menonjok mata prajurit penjaga itu hingga membuatnya terpental jauh. Sedangkan pelakunya malah tertawa.


"Benar-benar menyenangkan! Sepertinya akan ada banyak gundukan tanah lagi di pemakaman ini," serunya saat menghajar prajurit tadi.


Di belakangnya ada banyak puluhan orang yang berkekuatan sama dengan dirinya juga bersiap menunggu pemerintah sang kapten.


"Ayo maju! Jangan biarkan satu pun dari mereka kabur!" ucapnya sambil mengarahkan jarinya ke arah para prajurit penjaga.


"Bunuh!" seru mereka sambil berlari.


Bukan hanya dengan tangan kosong tapi beberapa diantara mereka ada yang membawa senjata.


"Membunuh kalian semua sangatlah mudah, sama sekali tidak merasakan kepuasan apa pun."


"Kita sudah sangat lama menunggu hari ini tiba!"


Ucapan beberapa penjahat tadi memang terlihat sebagai sebuah pembalasan dendam, oleh karena itu salah satu prajurit yang hampir mati sempat berteriak.


"Musuh menyerang!" teriaknya.


Kader He, Tuan Muda Xu dan Nona Xu belum sempat pergi dari sana dan melihat penyerangan itu.


"Bisa-bisanya menyerang di hari seperti ini, nyali mereka sungguh besar!" seru Kader He.


"Para anggota Qingtang datang membunuh!"


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


__ADS_2