
Malam semakin larut, yang terdengar hanyalah suara buruk gagak di sekitar area pemakaman.
"Kuak, kuak, kuak ..."
Sementara itu di dalam mobil Duan Shaofeng masih disekap di sana.
"Sudah begitu lama tidak ada pergerakan, tidak mungkin terjadi masalah pada Tuan Qin, 'kan!"
"Aku harus mencari cara untuk memberi tahu mereka secepatnya ...."
Shaofeng lalu berusaha untuk menggapai ponsel yang berada di salah satu saku celananya. Beruntung ia dengan cepat menemukannya lalu berusaha untuk menghubungi seseorang.
Semenatara itu di tempat Qinli, ia masih berjuang dengan lelaki itu di sana. Sepertinya ia kesulitan saat ini. Apalagi lawan yang ia hadapi saat ini mungkin levelnya sudah jauh di atas Qinli.
"Kau juga terlalu meremehkanku!" ucap lelaki itu tidak terima.
Bahkan satu persatu segel yang diciptakan Qinli berhasil ditaklukkan oleh dia.
"Apa? Bagaimana bisa?"
Tiba-tiba saja lelaki itu sudah berhasil menyerang Qinli untuk kedua kali.
"Untuk mencapai hasil yang lebih baik, hanya bisa merangsang batas pertarungan bocah ini."
"Menyingkirkan yang lama dan membuat yang baru," ucap lelaki itu.
...BAM!...
"Kekuatan ini dibanding sebelumya ...." seru Qinli.
Sayang, serangan itu berhasil membuat Qinli muntah darah. Lalu dengan kejamnya, ia masih mau memberikan pelajaran untuk Qinli.
"Bocah, hari ini aku akan membuatmu tahu arti prajurit."
Tubuh Qinli terangkat dan beberapa saat kemudian lelaki itu telah menghadiahi Qinli dengan bogem mentah. Beruntung Qinlo bisa menghindarinya.
"Danzhong cedera, dia seharusnya tidak bisa mengumpulkan energi lagi." batin lelaki itu.
__ADS_1
Hosh, hosh, hosh ....
Nafas Qinli begitu terengah-engah, dan lelaki itu hanya bisa menatapnya dari atas.
"Jelas-jelas kau bisa membunuhku dengan jurus barusan!" seru Qinli sambil menatap lelaki itu.
"Kenapa kau tidak melakukannya?"
Tangan Qinli mengepal.
"Kau sudah dipukul sampai seperti ini masih bisa saja berpikiran jernih," ucap lelaki itu memandang ke bawah arah Qinli.
Karena posisi Qinli ada di bawah, sedang lelaki itu terbang di atas sana.
"Aku tidak takut memberitahumu bahwa tujuanku
adalah melenyapkan meridianmu, membuat keluar dari Shangjing."
"Orang ini ingin mengusirku dari Shangjing, dan hanya ingin melenyapkan ilmu tenaga dalamku."
"Apakah orang ini diutus oleh Keluarga Qin?"
"Serangan terakhir! Berharap bocah ini bisa menahannya, jangan sampai tebunuh olehku," ucap lelaki itu.
Tiba-tiba dari arah samping muncullah seorang wanita yang membantu Qinli. Ia berlari sekuat tenaga dan melempar sebuah belati untuk menghalau serangan dari lelaki itu.
Tap, tap, tap ....
SWOOSH
Lelaki itu menoleh dan kraak ... "Penghalang?"
Wanita itu muncul tiba-tiba di depan Qinli dan menyuruh Qinli pergi.
"Cepat pergi!"
"Pergi, telah mengacaukan rencana baiku dan masih ingin pergi?" ucap lelaki yang berjajar itu, tutupnya terima kasih.
__ADS_1
Merasa lelaki tua itu masih ingin menghajar Qinli, ia pun berusaha untuk menghalangi hal itu dengan menjadikan tameng untuk Qinli.
Karena kekuatan darinya terlalu besar hingga membuat wanita itu jatuh di atas tubuh Qinli. Sayang, topeng yang dipakai wanita itu terlepas.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Qinli dengan mata tertutup.
Karena tak ada respon maka Qinli membuka matanya. Kini kedua mata Qinli terbelalak ketika mendapati kenyataan bahwa yang ingin melindunginya sejak tadi adalah .....
"Liang Qing!" seru Qinli terkejut.
Terlebih saat ini kondisi Liang Qing pingsan. Sementara lelaki di belakang itu terus mendekati Qinli.
"Kali ini tidak akan ada lagi yang bisa mengganggu kita."
"Kau benar," seru Qinli.
"Kebetulan, aku juga ingin mencoba bagaimana kekuatanmu sebenarnya," seru Qinli sambil bangkit.
Sorot mata Qinli memancarkan api.
"Titik Danzhong terluka parah masih bisa mengeluarkan kekuatan yang begitu kuat."
"Benar-benar bertalenta." ujar lelaki tua itu memandang kagum Qinli.
...KRAK ... PLAK ... BOOM!...
Pertarungan sengit pun dimulai, aura tubuh Qinli memancarkan naga biru begitu pula lelaki itu. Pertarungan tenaga dalam mereka terlihat sangat mengagumkan malam itu. Bahkan lelaki itu benar-benar memuji kekuatan Qinli.
Sorot mata Qinli semerah darah, memancarkan api yang begitu merah.
"Kau benar-benar membuatku takjub tapi ...."
"Saatnya untuk mengakhiri semua ini."
Plak, lelaki tua itu menampar pipi Qinli. Kini Qinli pun terbaring tubuhnya memancarkan aura kuning, lalu lelaki itu hendak pergi. Sejenak sebelum ia pergi ia sempat bergumam.
"Hanya ini yang bisa kau lakukan ..." ucapnya sambil membenarkan topengnya.
__ADS_1
"Sisanya tergantung padamu."
...🌹Bersambung🌹...