
Qinli dan yang lainnya sudah berjalan cukup lama menjauhi tempat relix kuno tersebut, mencoba berkeliling mencari kera raksasa tersebut.
"Kita sudah berjalan begitu lama tapi tidak menemukan kera raksasa api. Entah apa yang ditemukan oleh orang tuamu waktu itu sampai kera raksasa api itu muncul," ucap Kakek Badao.
Tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita dari belakang.
"Qinli, awas!"
Qinli yang terkejut langsung menoleh ke belakang. Ternyata Qin Xiaotian sedang berusaha menghunuskan pedangnya ke arah Qinli.
"Qinli, beraninya kau melukai putraku! Matilah kau!"
Hanya sekali pandang, kekuatan tenaga dalam Qinli mampu melumpuhkan kekuatan tenaga dalam milik Qin Xiaotian tanpa berkelahi. Bahkan tubuh Qin Xiaotian babak belur di buatnya. Kini ia terduduk di bawah sedang berlutut untuk meminta pengampunan pada Qinli.
"Aku salah! Ini semua salah putraku yang tidak tau diri itu!"
Sementara itu Nie Bosang (kaki tangan sekaligus orang kepercayaan lelaki bertopeng) merasa mendengar sebuah teriakan dan bertanya pada barisan prajurit dibelakangnya tentang hal itu.
"Siapa yang berteriak barusan?"
"Aku!" ucap seorang wanita rambut merah yang memakai penutup kepala.
Chu Zitan (adik Qingyin yang terkena mantra ilusi oleh lelaki bertopeng) menoleh ke barisan prajurit miliknya yang rata-rata memakai penutup kepala semua. Mengetahui salah satu penyusup ada dibarisan prajurit di belakangnya, Chu Zitan langsung memasang kuda-kuda dan melancarkan serangan terhadapnya.
...BANG!...
Ternyata yang berteriak saat mengingatkan Qinli tadi adalah Nona Mo Yao yang menyusup di antara barisan prajurit. Sayang Chu Zitan sudah berkultivasi cukup tinggi sehingga membuat Nona Mo Yao terluka dengan serangan mendadak barusan.
Mo Yao terlempar beberapa meter dari sana. Beruntung tubuhnya berhasil di tangkap oleh Qinli.
"Aargh!"
Qinli memandang Zitan dari kejauhan, "Zitan?"
Sementara itu Qingyin juga mengenali adiknya, "Adik!"
Nie Bosang merangkul pundak Chu Zitan, "Dia sudah menjadi bagian dari kami!"
"Bagaimana bisa .... " ucap Qinli terkejut.
__ADS_1
Qingyin pun terkejut akan ucapan Nie Bosang barusan, "Itu tidak benar, kan, Zitan bicaralah!"
Nie Bosang lalu memberikan perintah pada barisan prajurit yang memakai penutup kepala dibelakangnya.
"Anak-anak, sudah waktunya kalian turun tangan!" ucap Nie Bosang sambil menyeringai jahat.
Ternyata barisan prajurit yang berada di belakangnya adalah beberapa manusia hasil eksperimen dari lelaki bertopeng di pulau tersembunyi tempat Kakek Qin Badao pernah di sekap dan diteliti tubuhnya.
Qinli yang melihat tubuh Nona Mo Yao terluka segera memberikan pil padanya, "Telan pil obat ini dan beristirahatlah!"
"Iya, kalian harus hati-hati. Mereka sulit di lawan!"
Melihat barisan prajurit eksperimen di depan, Kakek Qin Badao dan Tetua Ke empat memasang kuda-kuda di hadapan Qinli.
"Serahkan saja padaku! Aku familiar dengan mereka!" ucap Kakek Qin Badao.
"Aku akan membantumu!" teriak Tetua Ke empat.
Dari kubu lawan, Kepala Keluarga Huang ingin menggabungkan kekuatan bersama Nie Bosang untuk menghabisi Qinli.
"Qinli tidak mudah dihabisi, ayo kita serang bersama-sama!"
Dari kejauhan Qinli mulai mengeluarkan tenaga dalam miliknya, sementara itu Chu Zitan sudah bersiap menyerang Qingyin.
"Zitan, aku kakakmu!"
Sesaat kemudian, sang dewi kini yang mengambil alih tubuh Qingyin. Ia berhasil menghindar dari Chu Zitan.
"Gadis kecil, kau tidak berperasaan sekali, bahkan kakak kandungmu ingin kau bunuh."
"Kalau begitu, aku akan mewakilinya untuk memberimu pelajaran."
Qingyin mengeluarkan tenaga dalamnya lalu menyerang Chu Zitan.
"Gadis lemah sepertimu juga berani menyerangku!"
...PAK ... PAK ... PAK .......
"Dari kecil, kakakmu memberikan semua yang terbaik untukmu dan menyayangimu, bagaimana kau bisa memperlakukannya seperti ini?"
__ADS_1
Tiba-tiba kesadaran Qingyin kembali. Saat dewi yang menguasai tubuh Qingyin itu hendak menyerang Zitan dengan cambuk dari langit, tangannya menolak.
"Jangan memukulnya lagi! Dia adalah adikku!"
Zitan rupanya sedang membaca situasi, saat melihat Qingyin berperang batin, ia pun menyerang Qingyin.
Kekuatan Zitan mampu menembus badan Qingyin dan membuatnya muntah darah, "Zi ... tan ...."
Qinli yang mendengar teriakan Qingyin menoleh ke arah istrinya, "Qingyin!"
Sayangnya saat itu Qinli sedang bertarung dengan Nie Bosang. Saat melihat Qinli tidak fokus ia pun menyerang secara diam-diam pada tubuh Qinli.
"Aku paling benci lelaki yang tidak fokus saat bertarung denganku!"
...BANG!...
Tubuh Qinli berhasil dilukai oleh Nie Bosang. Beruntung kekuatan Nie Bosang tidak ada seberapanya kekuatan Qinli, sehingga hanya seperti debu ketika Nie Bosang menyerangnya. Qinli menoleh.
"Aku tidak punya waktu berurusan dengan kalian!"
Sesaat kemudian Qinli berbalik dan langsung menyerang balik ke arah Nie Bosang. Tentu saja dengan kekuatan tenaga dalam milik Qinli yang telah mencapai alam dewa, Nie Bosang langsung terkapar di tanah. Hal itu membuat Kepala Keluarga Huang ketakutan dan hendak kabur.
"Aku harus kabur!"
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Qinli sudah mengeluarkan Pedang Zhanlu miliknya dan kini pedang itu sudah mengarah ke arah Kepala Keluarga Huang dan berhasil melumpuhkannya dalam sekali waktu.
Kepala Keluarga Huang langsung terkapar saat tebasan Pedang Zhanlu berhasil melukainya. Kepalanya bahkan terlepas dari tubuhnya yang masih tegak berdiri.
Setelah membereskan masalah kecil itu, Qinli berbalik dan segera menuju tempat Qingyin berada. Tenyata Chu Zitan sedang menghajar Qingyin dengan membabi buta.
Chu Zitan berada di atas tubuh Qingyin dan sedang mencekik lehernya.
"Matilah! Matilah! Matilah!" teriak Chu Zitan sambil menatap tajam wajah Qingyin.
Lalu dari arah belakang, Qinli sedang berlari dan menuju ke arah Qingyin dengan membawa pedang Zhanlu.
"Berhenti!" teriak Qinli.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1