
Nona Tan begitu terkejut karena seingatnya kakek tadi masih berada di zebra croos hendak menyeberang. Lalu tiba-tiba dari sebelah kiri datang sebuah mobil dengan kecepatan tinggi hendak menabraknya.
Hingga sesaat kemudian terjadi sebuah tabrakan di depan sana, lalu bagaimana caranya sang kakek bisa selamat dan berpindah berdiri di samping Qinli?
Merasa hidupnya telah diselamatkan oleh Qinli, kakek itu mengucapkan terima kasih kepadanya. Kakek memegang kedua tangan Qinli, "Terima kasih, anak muda! Kalau bukan dirimu, aku pasti sudah mati."
"Baguslah, kalau tidak apa-apa."
Nona Tan kemudian berlari ke arah kakeknya, "Kakek, kau tidak apa-apa, 'kan? Mengagetkanku saja .... "
Tidak disangka Nona Tan menangis karena hal itu lalu sang kakek mengusap pucuk kepalanya.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Jangan menangis, riasanmu akan luntur."
Qinli mendekati kakek dari arah belakang. Ia memperingatkan kakek tentang kejadian tadi.
"Sepertinya mobil itu sengaja ingin menabrak Anda."
Kakek mengingat tentang sesuatu hal, "Ada yang tidak ingin aku kembali. Aku tahu itu."
Kemudian Nona Tan memperkenalkan Qinli pada kakeknya.
"Kakek, ini Qin Lin, aku pernah menceritakannya padamu."
"Oh, dia anak yang sangat baik. Cucuku memang mempunyai selera yang bagus."
Nona Tan mengira kakeknya salah paham lalu tidak terima. "Kakek, kau bicara apa? Dia teman yang baru aku kenal."
Tetapi sang kakek malah tertawa, "Oh, ternyata cucuku bisa tersipu malu juga."
Sesaat kemudian, Kakek Tan Zhongguo menarik tangan Qinli agar ia mengikuti langkah kakek.
__ADS_1
"Aku sudah mendengar cerita dari Huan tentang masalahmu. Ayo, ikut aku kembali ke Rumah Tan!" ajak kakek.
"Ini, tidak baik, 'kan?" ucap Qinli kebingungan.
Qinli menoleh pada Tuan Muda Jiang, tetapi sepertinya dia pura-pura tidak bisa membantu dan tersenyum mengejek ke arahnya. "Itu ... aku juga tidak bisa membantumu, bos."
Qinli merubah mimik wajahnya kecewa, "Apa? Kau sekejap langsung berubah menjadi pengkhianat."
Melihat aura penolakan pada Qinli, Kakek Tan Zhongguo segera berakting terjatuh. Ia bahkan mengancam pada Qinli akan berguling-guling di tanah agar menarik simpati orang-orang yang melihatnya jika Qinli tidak mengikuti permintaannya.
Kakek Tan Zhongguo terjatuh, "Kalau kau tidak mau ikut, aku akan berguling-guling di tanah."
"Kakek dan cucu sama saja kelakuannya," batin Qinli terkejut.
Akhirnya mereka berempat segera pergi ke Rumah Keluarga Tan. Tentu saja ayah Nona Tan langsung tidak suka saat melihat kehadiran mereka berempat.
"Dasat idiot! Beraninya kembali ke rumah ini lagi!" teriaknya tidak suka."
Tentu saja Nona Tan langsung berdiri di depan Qinli dan Tuan Muda Jiang untuk menghadapi ayahnya yang sudah keterlaluan terhadap tamu.
Lalu dari gerbang muncullah Kakek Tan Zhongguo, "Aku yang memintanya kemari."
Tentu saja kepulangan Kakek Tan Zhongguo mengejutkan kepala keluarga Tan, Ayah Rouhan.
"A, ayah, Anda sudah pulang .... " ucapnya terkejut.
Kakek langsung memarahi Ayah Rouhan.
"Jika aku tidak pulang, keluarga ini akan hancur dibuatmu! Sekarang, minta maaf pada Tuan Qin Lin!" titahnya.
"Ayah, aku .... "
__ADS_1
Tanpa membuang waktu, kakek langsung menampar Ayah Rouhan, Tuan Tan.
"Kau mencaci maki Tuan Qin, tapi Tuan Qin tetap mau menyelamatkan nyawaku tanpa memperhitungkan masa lalu, kau harus meminta maaf padanya, jika tidak, kau tidak usah menjadi pemimpin keluarga ini lagi!"
"Tuan Qin, ini semua salahku! Aku minta maaf!" ucap Tuan Tan sambil menunduk dan menutup mata.
Padahal sejatinya ia tidak sudi meminta maaf pada Qinli, terlebih dari kecil ia merasa tidak pernah dipermalukan seperti ini. Giginya gemertak memendam gejolak amarah di dalam dirinya.
"Dari kecil hingga dewasa, aku tidak pernah dipermalukan seperti ini. Brengsek aku tidak akam pernah mengampunimu!" rutuk Tuan Tan dalam hatinya.
.
.
Beberapa saat kemudian, mereka berempat duduk di ruang tamu. Qinli menceritakan semuanya pada Kakek Tan Zhongguo.
"Kakek Tan, begitulah cerita kami."
"Ternyata begitu."
Kakek menoleh ke arah Nona Tan Rouhan.
"Lembah raja obat beberapa hari ini akan mengadakan kompetisi membuat Pil Chuansu. Selain itu, hadiah juara pertama adalah Tetesan Embun Jiuqiong yang dibeli dari kami dengan harga tinggi."
"Pantas saja mereka membeli dengan harga tinggi, ternyata untuk hal ini," ucap Nona Tan Rouhan.
"Apa ada persyaratan untuk mengikuti kompetisi ini?"
Dengan terseyum dan tanpa beban saat mengatakannya, Kakek Tan Zhongguo berkata, "Syaratnya kau harus menikahi cucuku!"
Tentu saja Tuan Muda Jiang kaget dan menyemburkan minuman tehnya yang baru saja ia teguk.
__ADS_1
"Kakek, jangan berbicara yang tidak-tidak!" protes Nona Tan Rouhan.
Sementara itu Kakek Tan Zhongguo malah tertawa terbahak-bahak.