
Lelaki bertopeng merah itu menanyakan sesuatu pada Nyonya Bangsawan.
"Apa kau membawa barangnya?"
Nyonya Bangsawan menunjukkan sebuah botol kecil yang berisi sebagian kecil tenaga dalam Qinli yang ia serap lalu ia pindahkan ke dalam botol kecil itu.
"Tentu saja, aku meracuni diriku demi mendapatkan barang ini," ucapnya bangga akan pekerjaannya.
Setelah itu, ia melemparkan botol itu ke arah pimpinan yang memakai topeng berwarna merah itu dengan cepat.
...TAK...
Botol itu berhasil di tangkap olehnya. Lalu sesaat kemudian ia membuka tutup botolnya, ia lalu mencium dan menghirup tenaga dalam milik Qinli.
Ia tampak memejamkan kedua matanya untuk sesaat.
"Energi spiritual Qinli memang luar biasa, tidak heran dia adalah keturunan pasangan suami istri Keluarga Qin itu. Mana eksperimen tubuh yang baru?"
"Sudah dikirim ke laboratorium," ucap Nyonya Bangsawan palsu.
"Bagus."
Saat ini pimpinan bertopeng merah itu terlihat merogoh saku bajunya di sisi kanan. Lalu ia mengeluarkan sebuah pil dari sana.
"Kau sudah bekerja keras, Nie Bosang. Ini penghargaan untukmu!" ucap pimpinan bertopeng merah itu.
Nyoya Bangsawan palsu tampak menelan ludah. Ia sudah tidak sabar untuk segera menyantap pil yang dewa itu.
"Terima kasih, pemimpin," ucap Nyonya Bangsawan palsu.
__ADS_1
"Oh iya! Untuk sementara waktu, kau tinggal di pulau dulu untuk membantuku mengurus masalah di sini!"
Saat Nyonya Bangsawan palsu hendak mengambil pil tersebut, pimpinan bertopeng merah itu mengatakan keberatannya saat melihat Nie Bosang berpakaian wanita.
"Namun, aku sedikit muak melihat topeng wajahmu," ucap pimpinan bertopeng merah.
Nyonya Bangsawan palsu mengerutkan alisnya, lalu ia melepas aksesoris yang ia kenakan, yaitu melepaskan rambut palsunya.
"Ini gampang," ucap Nyonya Bangsawan sambil tersenyum.
Ia melepas rambut palsunya yang berwarna kuning itu. Hingga saat ini rambut palsunya mulai terlihat. Berwarna putih dengan potongan rambut gaya laki-laki macho, tapi berwajah cantik karena make up yang masih melekat di wajahnya.
"Apa Anda suka?" tanya Nyonya Bangsawan palsu itu.
"Ya, lebih enak dilihat. Oh iya, kau harus segera melaporkan padaku semua pergerakan Qinli," titah pimpinan bertopeng merah itu.
Dengan tersenyum manis, Nyonya Bangsawan palsu itu menjawabnya, "Baik."
.
.
Sementara itu di salah satu Rumah Sakit, Tuan Muda Xu masih terbaring lemah di atas brankar. Sedangkan Qinli masih berdiri di samping brankar untuk menunggunya. Tak lama kemudian, Nona Mo Yao masuk ke dalam ruang rawat Tuan Muda Xu.
"Sudah aku selidiki, tetesan embun Jiujing yang kau mau ada di Chuanshu," ucap Nona Mo Yao sambil terus berjalan mendekati Qinli.
"Chuanshu?" tanya Qinli memastikan pendengarannya.
Nona Mo Yao benar-benar menjelaskan semua hal tentang keadaan Chuanshu pada Qinli.
__ADS_1
"Benar, dengar-dengar sedang diadakan acara pelelangan di sana, kau boleh ke sana melihat-lihat."
"Baik."
"Ketua Xia-mu pulang ke Pulau Selatan karena ada urusan, kau tidak berharap aku yang menemanimu pergi ke Chuanshu, 'kan?" tanya Nona Mo Yao dengan percaya diri.
"Aku tidak segampang itu mengiyakanmu, kecuali .... "
Qinli tersenyum ke arah Nona Mo Yao.
"Kau tidak perlu pergi. Orang yang menemaniku ke sana akan segera tiba."
Memang benar, beberapa saat kemudian, Jiangjun menyapa Qinli, "Boss!"
"Aku pulang," ucap Jiangjun sambil melambaikan tangannya ke arah Qinli.
Padahal saat ini, ia baru sampai di ambang pintu.
"Terakhir kali, kau menyuruhku pergi ke wilayah barat bersama Wei Nuannuan untuk membantunya. Sekarang kau harus membawaku bersama pada trip kali ini," ucap Jiangjun dengan bahagia.
"Baik, kau bersiap-siap dulu, kita akan segera berangkat ke Chuanshu," ucap Qinli.
Sedangkan Nona Mo Yao yang tidak mengenal Jiangjun dan tidak dilibatkan dalam percakapan mereka sedikit cemberut.
"Siapa lagi dia?" batin Nona Mo Yao.
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...