
Happy reading all😎
.
.
Hampir keseluruhan prajurit yang dipimpin oleh Yu Quanxing menyerang Qinli, ada beberapa yang pergi mengejar Qinli ataupun memasuki rumahnya. Para prajurit itu menyisir setiap ruangan yang ada di dalam rumah. Tak ada satu pun ruangan yang terlewat.
"Tidak ada orang di lantai dua."
"Lantai satu juga tidak ada."
Beberapa prajurit itu berkumpul di lantai satu untuk berdiskusi.
"Tidak ada satu orang pun di sini. Yu Quanxing si brengsek itu, tidak mungkin benar-benar membohongi kita, 'kan?"
"Sudah terlambat jika ingin mengejar Qinli sekarang! Sial!"
Mereka tampak kesal karena telah mempercayai Yu Quanxing dan malah tak mengejar Qinli.
Sedangkan di balik dinding itu, Qingyin merasa cemas karena mereka begitu dekat dengan dirinya saat itu.
"Apakah orang-orang ini datang untuk memilih Qinli?" batin Qingyin.
Tetapi di tempat lain, lebih tepatnya di dalam kamar Qinli dan Qingyin, Yu Quanxing tampak lancang membuka lemari milik istri Qinli. Tepat dihadapannya saat ini, berjajar beberapa stel lingerine dan ****** ***** milik Qingyin.
"Wow!" ucap Yu Quanxing terpesona.
Mata keranjang milik Yu Quanxing meleleh menatap pemandangan di depannya kali ini. ****** ***** yang tergantung rapi bersebelahan dengan lingerie begitu indah di bayangan Yu Quanxing.
"Qinli sungguh beruntung!"
Bahkan dengan gilanya ia mengambil salah satu ****** ***** milik Qingyin dan membayangkan hal-hal liar yang akan ia lakukan jika menemukan istri Qinli itu.
"Jika aku menemukan istrinya, aku juga harus menikmatinya."
Sayang, belum sempat membayangkan lebih jauh, kerah bajunya sudah ditarik ke belakang hingga membuatnya terlempar hingga sampai di bibir pintu kamar Qinli.
...PLAK ... SWOOSH...
Tubuh Yu Quanxing terkapar di lantai. Sedangkan di depan pintu beberapa prajurit yang menggeledah kediaman Qinli berkumpul di sana.
"Aduh!" keluh Yu Quanxing.
"Di mana istrinya?" tanya prajurit yang berkepala botak dengan memegang sebilah golok di belakang kepalanya.
"Beraninya kau membohongi kami!" gertak yang lainnya.
Satu kepala prajurit itu mengarahkan pisau belatinya ke wajah Yu Quanxing.
"Jika kau berani membuatku kehilangan uang, aku akan mengulitimu!" gertaknya.
"Semuanya tenanglah, dengarkan aku ..." ucap Yu Quanxing berdalih.
Sesaat kemudian terdengar beberapa prajurit membawa seorang wanita ke ruangan tengah.
"Sudah ditangkap! Kami sudah menangkap wanita itu!" teriak mereka.
Dua orang prajurit itu membawa seorang wanita mirip Qingyin, mengikat tangannya ke belakang dan dibawa ke depan Yu Quanxing.
__ADS_1
"Siapa kalian? Lepaskan aku!" ucap Nona Zhou.
Ternyata Nona Zhou sedang mendatangi rumah Qinli. Hingga ia saat ini tertangkap prajurit karena mengira jika ia adalah Qingyin. Terlebih di rumah itu hanya dirinya yang tertangkap.
Yu Quanxing bangkit lalu menatap kedatangan Nona Zhou beserta dua prajurit yang berjalan mendekati mereka.
"Itu dia, kita bisa menggunakannya untuk menangkap Qinli," ucap Yu Quanxing.
Nona Zhou berteriak, "Di mana Qinli? Kenapa dia tidak muncul?"
"Apakah dia menyuruh kalian datang untuk menindasku? Dasar baj*ngan tidak berperasaan ... " ucap Nona Zhou murka.
Apalagi tangan prajurit itu menyentuh kulit wajahnya.
"Karena Qinli tidak menginginkanmu, bagaimana kalau kau bersamaku!"
"Suara ini? Ini!" batin Qingyin.
"Gawat!" ucapnya sambil menoleh!"
Qingyin yang kebetulan hafal suara Nona Zhou begitu cemas saat ini. Satu sisi kemanusiaannya menyuruhnya keluar untuk menolong, tapi pesan dari suaminya jauh lebih penting dari segalanya.
Prajurit satunya juga ikut membelai pipi mulus Nona Zhou.
"Kami tidak mungkin menindasmu, kami hanya ingin menyayangimu," ucapnya.
Tapi respon lain diberikan oleh Nona Zhou, ia mengigit tangan prajurit itu.
"Aaaargh!"
"Beraninya kau mengigitku!" ucap prajurit itu.
...JLEB!...
"Argh!" ucap Nona Zhou sembari muntah darah.
Yu Quanxing berteriak dari tempatnya.
"Kenapa kau membunuhnya!"
.
.
Sementara itu, di tengah hutan, Qinli sedang bertarung bersama beberapa prajurit yang mengejarnya. Rata-rata level mereka lumayan tinggi, sehingga membutuhkan waktu yang cukup banyak.
...**SWOOSH...
...BANG ... BANG ... BANG** ......
Beruntung kekuatan Qinli sudah jauh lebih meningkat dari biasanya. Sehingga mereka berhasil di lumpuhkan olehnya.
"Para pembunuh dari Keluarga Tersembunyi ini cukup sulit untuk dihadapi!" batin Qinli sambil menoleh pada mayat-mayat para pembunuh tadi.
Tapi kemudian terdengar suara pergerakan orang dari arah semak-semak di belakang Qinli.
...SRASH ... SRASH ......
"Masih ada lagi?"
__ADS_1
Semakin lama diperhatikan semakin terdengar jelas derap langkahnya, lalu muncullah Nona Mao dari dalam semak belukar.
"Kau rupanya!"
Qinli dan Nona Mao sama-sama terkejut akan pertemuan tidak sengaja mereka malam itu. Nona Mao mendengkus kesal sambil memejamkan mata.
"Kelihatannya langit menginginkanku untuk mati. Bisa-bisanya bertemu denganmu di saat seperti ini ... Ayo lakukanlah!" ucapnya pasrah.
"Aku tidak tertarik pada orang yang terluka berat, cepat minumlah!" ucap Qinli sambil melemparkan satu botol obat Pil Xishui pada Nona Mao.
...PLAK...
"Ini ... Pil Xisui!" ucap Nona Mao tak percaya menatap apa yang berada di tangannya saat ini.
Ia juga terkejut akan respon Qinli saat ini, kalau bukan Qinli, sudah pasti ia akan di bunuh sejak tadi. Tetapi saat ini, ia malah diberikan obat penyembuh olehnya.
Nona Mao menggenggam botol itu lalu menatap Qinli yang hendak pergi meninggalkannya.
"Jelas-jelas aku akan membunuhmu, kenapa kau malah menolongku?"
Qinli berbalik badan, lalu menjawab pertanyaan dari Nona Mao.
"Terserah mau minum atau tidak!"
Mendengar hal itu, Nona Mao langsung menenggak Pil Xisui tersebut. Sementara itu Qinli meliriknya lewat ekor matanya.
"Karena aku salah satu dari mereka, mungkin dia tau sesuatu mengenai Keluarga Tersembunyi," batin Qinli.
Nona Mao tercengang karena luka-luka di tubuhnya menutup sempurna dalam waktu yang singkat.
...CCSSTT...
Luka di lengan kirinya menutup sempurna. Lalu tubuhnya merasa lebih bugar dari sebelumnya. Efek obat yang diberikan Qinli benar-benar berbeda dengan Pil Xisui yang pernah ia minum.
"Tidak disangka efek Pil Xisui ini lebih hebat dari yang pernah aku minum sebelumnya."
Nona Mao masih menatap tak percaya dengan apa yang ia alami barusan. Lalu, siapa Qinli, kenapa dia bisa mempunyai ramuan hebat seperti ini?
Melihat Qinli terus berjalan meninggalkannya, Nona Mao menegurnya.
"Hei! Aku tidak ingin berhutang budi padamu, aku akan mencabut perintah pembunuhanmu," teriaknya.
Sambil melihat bekas lukanya, Nona Mao masih mengomel.
"Kau adalah orang pertama yang bisa membuat aku mencabut perintah pembunuhan!"
Qinli menoleh karena mendengar omelan Nona Mao.
"Lantas kenapa?"
"Jika bukan kau yang melukaiku, aku juga tidak akan dimanfaatkan oleh Keluarga Huang, terlebih lagi tidak berhutang budi padamu!"
"Dasar penjahat, bisa-bisanya bersikap seperti itu!" omel Nona Mao sambil menunjuk ke arah Qinli.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1