
Bangkitnya Kuil Dewa Yin berawal dari jaman kuno. Ada sebuah kesempatan besar yaitu lahirnya rubah langit.
Waktu itu, entah berapa banyak prajurit yang mendapatkan keuntungan dari kesempatan yang diberikan oleh rubah langit! Tapi kesempatan terbesar rubah langit itu sendiri, konon didapatkan oleh Kuil Dewa Yin.
Tetua Kuil Dewa Yin waktu itu harus menciptakan sebuah jurus berdasarkan rubah langit. Dengan jurus ini sebagai inti, Kuil Dewa Yin perlahan-lahan menjadi kuat dan pada akhirnya mencapai puncak.
"Ternyata ada sangkut pautnya dengan ibu Si Putih," gumam Qinli.
Setelah beberapa saat, akhirnya lelaki tua tersebut menghentikan ceritanya. "Yang ku ketahui hanya ini, tidak tahu apakah bisa membantu Tetua Qin atau tidak?"
Qinli menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Terima kasih, banyak."
Tiba-tiba saja dari arah luar kesatria yang semula mengantarkan Qinli berteriak. "Pengurus!"
Tampak dari raut wajahnya ia begitu kelelahan karena berlari. "Pengurus! Kuil Dewa Yin ... Kuil Dewa Yin ...."
"Tidak usah panik! Katakan dengan pelan-pelan!"
"Kuil Dewa Yin lagi!" gumam Qinli.
Kesatria itu membungkuk hormat sambil mengucapkan informasi penting. "Kuil Dewa Yin menyebarkan berita mengatakan kalau Tetua Qinli dari sekte bumi, mendapatkan warisan Dewa Obat di Lembah Obat dan pil level sepuluh-Pil Pengubah Nasib!"
"Apa!" ucap senior itu panik.
__ADS_1
"Pil level sepuluh yang melegenda, benar-benar ada!"
Qinli yang mendengar hal itu tentu saja bisa menyimpulkan sesuatu. "Menyebarkan berita pil level sepuluh dan menarik perhatian prajurit lain untuk datang merebut, Kuil Dewa Yin ini sengaja membuat aku jadi musuh semua prajurit!"
Belum juga Qinli mengatakan sesuatu, senior prajurit di depannya sudah membungkuk hormat.
"Tetua Qin, kalau ada permintaan apapun, kamar dagang Tianyuan bersedia berkorban untuk Anda!"
Seketika Qinli teringat sesuatu, "Gawat! Pasukan lain tidak tahu kalau aku ada di Kota Tianyuan, takutnya mereka sedang menuju ke Lembah Dewa Obat!"
Tanpa mengurangi rasa hormat, Qinli langsung berpamitan. "Maaf, aku ada urusan mendadak. Aku pamit dulu!"
Dugaan Qinli tidak pernah meleset, rupanya banyak prajurit yang datang secara berbondong-bondong ke Lembah Dewa Obat. Beruntung, Qingyin dan yang lainnya sudah siap sedia.
"Ada apa kalian datang berbondong-bondong datang ke Lembah Dewa Obat?" tegur Qingyin di barisan depan.
"Baru saja datang ke daratan tersembunyi dewa untuk mengurusi sesuatu sudah menghadapi masalah seperti ini. Waktu itu, kau mempermalukanku, kali ini aku akan balas berkali-kali lipat!"
"Di sini kami mempunyai sepuluh prajurit alam dominasi dan tiga prajurit puncak alam dominasi! Ku sarankan lebih baik kalian menyerah saja!"
Tiba-tiba saja dari arah belakang, Qinli mulai menyerang salah satu prajurit itu. Pedang Shi Tiab berhasil menancap sempurna pada punggung dan membuatnya langsung jatuh tersungkur.
"Kali ini tersisa dua prajurit Puncak Alam Dominasi."
__ADS_1
Qinli muncul dengan lingkaran hitam di belakang tubuh. Auranya sangat mencekam, bahkan membuat Qingyin dan yang lainnya terkejut. Semuanya bahkan bergidik ngeri.
"Dengar-dengar ...."
Qinli tampak menyeringai, mengetahui para prajurit tersebut mulai ketakutan ketika menyadari orang yang mereka cari sudah sampai di sana. Prajurit yang tadi diserang oleh Qinli kini masih menggelepar di bawah sana.
"Kalian mencariku ...."
Setelahnya Qinli mencabut pedang miliknya. "Ada apa kalian mencariku?"
Salah satu prajurit yang mempunyai rambut berwarna merah segera mengomando para prajurit lainnya untuk menyerang Qinli. "Ayo semuanya maju! Walaupun dia sudah mencapai Alam Dominasi, dia tetap bukanlah tandingan kita!"
Namun, sejujurnya di dalam hatinya, ia sempat takjub dengan perubahan yang terjadi pada Qinli. Kekuatannya meningkat pesat.
"Kekuatannya meningkat begitu pesat dalam waktu singkat! Takutnya kekuatannya itu sudah berada di level sepuluh besar daftar master!" gumamnya sambil menggertakkan giginya.
"Kelihatannya aku harus kabur duluan!"
Sesuai perkataannya, lelaki itu langsung kabur. "Setelah mereka selesai bertarung, aku datang lagi."
Akan tetapi baru beberapa detik, punggungnya membentur sesuatu. Suara dentumannya sangat terasa.
"Aduh! Bajingan mana yang ...." ucapannya menggantung.
__ADS_1
Sekelebat bayangan siluet merah dan putih seakan menyertai kepergian lelaki itu. Cahaya itu hampir saja menyerang tubuhnya.
"A-apa ini?"