
"Benar, aku Qinli."
Prajurit bertumbuh tambun itu tersenyum sambil mengusap tengkuknya.
"Ternyata Tuan Qin, kenapa tidak memberi tahu terlebih dahulu? Nona Han secara pribadi menyuruhku untuk menyambut Tuan Qin!"
Merasa jika penjaga tadi tidak menyambut Qinli dengan baik, prajurit tambun itu memukul penjaga dengan tiba-tiba serta memakinya.
"Kau ini buta, ya? Beraninya menghalangi Tuan Qin!"
Sesaat kemudian seorang penjaga di belakangnya memberikan sebuah plakat untuk Qinli sembil membungkuk hormat.
"Tuan Qin, ini adalah plakat tamu terhormat Keluarga Han, silakan diambil!"
Sesaat kemudian prajurit tambun itu segera melesat ke atas.
"Tuan Qin, silakan ikut denganku!" ajaknya.
AREA BELA DIRI KELUARGA HAN
Ternyata kedatangan Qinli sudah dinantikan oleh mereka. Saat melihat dia cahaya di langit, salah seorang prajurit memberitahukan kepada rekan satu timnya.
"Sudah datang ...."
Benar saja setelahnya kedua orang itu segera datang di hadapan Tuan Muda Han Yu. Setelah datang prajurit bertubuh tambun itu membungkuk hormat kepadanya.
"Tuan Muda Han Yu, aku sudah membawanya kemari!"
Qinli yang merasa asing dengan lelaki di hadapannya kemudian bertanya.
"Siapa kau? Di mana Han Xinxin?"
"Kau tidak berhak menyebut nama Nona Han, kau hanya prajurit dari daratan level rendah!" ucap Tuan Muda Han Yu dengan nada sombong.
Bukannya takut, Qinli justru terlihat santai.
"Kenapa kau sengaja membawaku ke sini?"
"Tentu saja ingin melihat kemampuan yang dimiliki oleh Tuan Qin sampai bisa merebut posisiku!"
Tidak lama kemudian ia terlihat mengeluarkan tenaga dalamnya untuk menyerang Qinli. Melihat hal itu Qinli tersenyum.
"Jangan bilang aku tidak memberimu kesempatan, aku akan membiarkanmu mengeluarkan jurusmu dulu!" ucap Tuan Muda Han Yu.
"Ternyata aku sudah merebut posisinya! Pantas saja dia sangat marah ...."
"Apa kau yakin membiarkanku turun tangan dulu!" tanya Qinli.
"Iya!" ucap Tuan Muda Han Yu.
Dalam sekejap saja Qinli sudah memberikan satu bogem mentah kepada wajah Tuan Muda Han Yu. Hanya dengan satu pukulan dari tangan kiri Qinli, Tuan Muda Han Yu sudah terlempar jauh hingga membuat lantai di sana rusak dan terlepas marmernya.
...BAM!...
__ADS_1
Tiba-tiba saja ada Ketua yang datang ke tempat itu karena mendengar keributan yang terjadi.
"Kenapa ramai sekali?"
Ternyata ketua datang bersama Nona Han. Melihat Qinli sudah datang, Nona Han menyapanya.
"Qinli!" teriak Nona Han sambil melambaikan tangan.
"Ternyata kau Qinli!" teriak prajurit yang lainnya.
Seketika ketika prajurit di belakang Qinli marah karena Tuan Muda Han Yu dihajar olehnya.
"Bocah, kami akan memberimu pelajaran!"
Sorot mata Qinli menyipit ke arah mereka.
"Dasar sekumpulan bocah tengik! Bukannya pergi berlatih malah membuat masalah di sini!" umpat Qinli kesal.
Tidak lama kemudian muncul satu prajurit yang lebih kuat.
"Kakek kedua! Kenapa kakek ke sini?" tanya Nona Han terkejut akan kedatangannya.
Baru saja mendarat, rupanya ia didatangi oleh prajurit yang merasa Qinli berbuat onar di sana.
"Tetua Kedua, orang ini datang ke Rumah Han dengan niat jahat, dia juga melukai Tuan Muda Han Yu! Anda harus memberikan keadilan untuk Tuan Han!" ucap salah seorang prajurit melapor.
Ternyata yang datang barusan benar-benar Tetua Kedua Keluarga Han. Di dalam benak Qinli, aura tidak suka dari Tetua Kedua bisa ia rasakan.
"Apakah pria tua ini akan menggantikannya untuk maju melawanku?"
"Apa kau Qinli yang diceritakan Han Xinxin?"
"Beraninya kau datang ke sini dan melukai murid Keluarga Han!"
Mengetahui jika Qinli dijebak, Nona Han segera mengeluarkan pendapatnya untuk membela Qinli.
"Kakek Kedua mereka berbohong! Kakek tahu seperti apa sifat Han Yu, pasti dia ...."
Tetua Kedua justru mengarahkan telapak tangannya ke arah Nona Han.
"Sepertinya kau kelelahan karena latihan berlebihan. Pengawal, paha nona kembali untuk beristirahat."
Betapa bahagianya para prajurit yang mengetahui hal itu apalagi saat ini yang akan melawan Qinli secara langsung.
"Tetua Kedua akan melawannya!" teriak prajurit bertubuh tambun itu terlihat senang.
"Tetua Kedua sudah lama mencapai Alam Reinkarnasi, sekarang sepertinya sudah mau mendekati puncak ...."
"Huh! siapa suruh bocah ini berani berperilaku tidak sopan! Dia pantas mendapatkannya!"
Nona Han tidak bisa menolak permintaan dari Kakeknya. Apalagi dua prajurit wanita sudah memegang kedua tangannya dan hendak mengajak pergi masuk ke kediamannya. Ia pun hanya bisa memperingatkan Qinli dari kejauhan.
"Qinli! Hati-hati!" teriaknya.
__ADS_1
Bukannya ketakutan, justru menanggapi hal itu dengan sebuah candaan.
"Apakah ini cara tujuh Keluarga Besar menyambut tamu? Benar-benar unik!"
"Ha ha ha, karena Tuan Qin tidak puas, maka biarkan aku yang menyambutmu!" ucap Tetua Kedua sambil tertawa.
Meskipun begitu ternyata Tetua Kedua tetap menguji kekuatan Qinli. Tenaga dalamnya langsung menyerang ke arah Qinli. Beruntung Qinli langsung bisa menghadapinya.
"Sebagai tetua Kedua Keluarga Han, kekuatan spiritualnya tidak seharusnya berada di tingkat ini ... apa dia sedang mengujiku?"
"Bocah ini lumayan juga, dia bisa menahan lima puluh persen dari seranganku!"
"Gawat!"
Ternyata Qinli mampu mengembalikan serangan dari Tetua Kedua.
"Apa! Ternyata Qinli lebih unggul!"
Tetua kedua masih belum terima ketika ia kalah, saat ini ia justru mencoba kembali kekuatan dari Qinli.
"Bocah, sekali lagi!" teriaknya.
Tetua Kedua melompat tinggi dan segera menyerang Qinli sekali lagi dengan kekuatan yang lebih besar.
"Berhenti!"
Qinli dan Tetua Kedua terkejut ketika mendengar suara dari seorang laki-laki.
...SWOOSH ... SWOOSH .......
Ternyata lelaki yang tadi bertemu dengan Qinli saat berburu juga sudah datang ke tempat itu. Melihat hal itu ada sebuah suara yang menegur Tetua Kedua dan Qinli.
"Kepala keluarga turun tangan ...." ucap lelaki itu.
"Kakak kedua, Qinli adalah tamu terhormat Keluarga Han. Sepertinya kau sudah keterlaluan."
Tetua Kedua ternyata sangat menghormati lelaki yang baru saja datang.
"Ha ha ha ... melihat ada junior yang begitu hebat, seketika aku jadi ingin mengujinya ...."
Seketika Tetua Kedua segera meregangkan kedua tangannya.
Qinli yang mendengar suara itu segera melihat ke angkasa. Ia bisa merasakan begitu hebatnya kekuatan Kepala Keluarga Han hanya saja wujudnya tidak terlihat.
"Suara Kepala Keluarga Han begitu terdengar jelas seolah-olah dia ada di tempat. Keluarga Han benar-benar tidak dapat ditebak ...."
Setelah merasa sudah siap, Tetua Kedua segera mengajak Qinli dan Tuan Feng untuk mengikutinya pergi.
"Feng, Tuan Qin, ikutlah denganku!" ucap Tetua Kedua kemudian.
"Iya!" teriak Tuan Feng sambil berlari menuju ke arah Tetua Kedua.
Namun, hal yang membuat Qinli terkejut dan ilfeel adalah ketika Tuan Feng menoleh dan mengedipkan salah satu matanya ke arah Qinli. Mengingat Tuan Feng adalah lelaki, pikiran buruk menghantui Qinli.
__ADS_1
"Orang ini ... tidak mungkin suka pada sesama, 'kan?" batin Qinli.