MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 157


__ADS_3

Karena ledakan di dalam perut naga tersebut sangat kuat, hingga membuat Qinli harus menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk melindungi dirinya.


Namun, rupanya hal tersebut tidak membuat naga tersebut kesakitan. Bahkan hal itu membuat ia mengantuk karena kekenyangan setelah menelan Qinli hidup-hidup.


"Hoam."


Sementara itu, Nona Mo Yao dan Chu Zitan belum juga siuman sedari tadi. Hingga membuat Qingyin harus menjewer pipi gembul dari Chu Zitan dan hidung milik Nona Mo Yao, agar mereka segera bangun.


"Bangunlah!"


Saat keduanya membuka mata, dalam ingatan mereka hanya ada Qinli seorang.


"Qinli!" teriak Nona Mo Yao.


"Kakak ipar!" ucap Chu Zitan.


Sementara itu, Qingyin masih berdiri tegap di belakang mereka berdua.


"Ular itu adalah ular air dan menyukai rumput spiritual air, karena tidak dapat ke darat terlalu lama untuk mencari rumput ini," ucap Qingyin sambil menggenggam erat rumput yang ia maksud.


"Jadi hewan tadi bukan naga?"


"Bukan!" Jawab Qingyin tegas.


"Ia hanyalah ular air."


"Jadi rumput biru air ini, sangat bisa menarik perhatiannya. Mo Yao, pergilah segera cari!"


Nona Mo Yao yang sudah bersiap segera menerima perintah langsung dari Qingyin.


"Oke."


Saat Nona Mo Yao diberi rumput berwarna biru laut dari tangan kanan Qingyin. Maka Chu Zitan juga mendapatkan tugas yang sama. Di tangan kiri milik Qingyin ia sedang memegang sebuah rumput berwarna merah.


"Ini adalah rumput spiritual api. Zitan, kau pergi cari rumput spritual api ini untuk mengendalikan ular itu!" titah Qingyin pada adik perempuannya.


Zitan menerima rumput tersebut dengan mata berbinar, "Baik."


"Aku akan melakukan apa pun untuk kakak ipar!" ucapnya dalam hati.


Qingyin melihat hamparan danau di hadapannya.


"Kalau bukan karena aku kehilangan banyak kekuatan dan tubuh abadiku hancur. Ular kecil itu pasti tidak akan berani lancang di hadapanku."


Qingyin memegang dadanya.


"Tapi untungnya, perlahan-lahan aku sudah bisa beradaptasi dengan energi spiritualku setelah si pemilik asli tubuh dan bocah itu latihan ganda," ucapnya di dalam hati.


Sementara itu di dalam danau, lebih tepatnya di dalam goa sarang ular kecil tersebut tinggal. Ular tersebut sudah lebih dulu tertidur. Suara ular yang mengorok mungkin saja bisa terdengar sampai di luar goa.


...GROOG~...


...GROOG~...


Qinli yang masih berada di dalam tubuh ular tersebut keadaannya semakin melemah. Sepertinya tenaga dalamnya diserap oleh ular tersebut. Pakaian yang ia kenakan mulai terkoyak sedikit demi sedikit, dan tubuhnya perlahan-lahan melemah.

__ADS_1


"Ular ini menyerap energi spiritualku. Sial ... apakah aku akan mati di sini?" ucap Qinli dalam hatinya.


Kelopak hitam yang melingkar di kedua mata Qinli semakin terlihat. Namun, sebuah keajaiban terjadi. Eliksir milik kera raksasa api yang berada di dalam tubuh Qinli bersinar dan melepaskan dirinya dari tubuh Qinli.


Cahaya yang dilepaskan berwarna merah menyala, membuat mata Qinli terbuka dengan lebar.


"Bisakah eliksir api ini membuatku bertahan ...."


"Bagaimana pun aku harus mencobanya!"


Jari telunjuk Qinli mulai menyentuh eliksir api tersebut. Kedua mata Qinli terbuka selebar-lebarnya. Qinli yang sebelumnya terendam cairan di lambung ular tersebut berusaha keluar dari sana.


Asam di lambung ular tersebut mendidih dan meletup-letup. "Blub ... blub ...."


Lalu dalam sekejab mata, Qinli berhasil keluar dari cairan di lambung ular tersebut dan melesat ke atas.


"Sangat tidak sopan memakan seseorang di saat ia sedang tidur!" ucap Qinli penuh amarah.


Sesaat kemudian, Qinli mengeluarkan Pedang Zhanlu miliknya dan mulai mengarahkannya ke atas. Disertai tenaga dalam yang dipadukan dengan kekuatan Pedang Zhanlu Qinli mulai menyerang di dalam tubuh ular tersebut.


"Serangan pilar!" teriak Qinli sambil mengoyak perut ular tersebut.


...GROAR!...


Qinli berhasil keluar dari dalam perut ular tersebut, tentu saja serangan Qinli membuat ular itu terbangun dan marah. Apalagi bagian tubuhnya berlubang akibat ulah Qinli. Kini Qinli terbang dan berada di hadapan ular raksasa tersebut. Mata ular menatap penuh amarah ke arah Qinli.


Ternyata ular raksasa itu membuat sebuah bola air yang sangat besar di dasar lautan. Membuat orang biasa akan masuk dan terhanyut ke dalam arus tersebut.


...SWOOSH...


"Aku juga bisa menggunakan jurus itu!" ucapnya penuh rasa percaya diri.


Qinli mengayunkan Pedang Zhanlu miliknya ke atas lalu mengarahkannya ke arah ular tersebut.


...SYUT...


"Serang!"


...WUSH...


Energi tenaga dalam milik Qinli yang berpadu dengan Pedang Zhanlu kini telah berubah menjadi seekor naga merah raksasa. Ia langsung menyerang ular tersebut tepat pada waktunya.


...BOOM...


...DUAR...


...WUSH...


Pertarungan yang dilakukan Qinli ternyata imbasnya sampai terlihat ke permukaan danau. Penampilan danau yang semula berwarna biru muda, kini terlihat memerah dan menyala.


Qingyin yang kebetulan ada di pinggir danau terkejut akan letusan yang berasal dari dasar kolam tersebut. Nona Mo Yao dan Chu Zitan sama terkejutnya dengan Qingyin.


"Sepertinya aku merasakan energi spiritual Qinli, tapi juga bukan sepenuhnya punya dia!" ucap Nona Mo Yao dengan terkejut.


Qingyin menatap dalam ke arah danau.

__ADS_1


"Itu Qinli dan energi eliksir api, kelihatannya dia tidak memerlukan bantuan kita," ucap Qingyin kemudian.


Sementara itu pertarungan sengit antara Qinli dan ular raksasa itu masih berlangsung di dasar kolam. Dengan cekatan Qinli menyerang bagian kepala ular tersebut dan berhasil menancapkan Pedang Zhanlu ke arah kepala ular tersebut.


Tentu saja ular itu menggeliat, tetapi Qinli berhasil melukainya. Di dalam hati Qinli masih mengkhawatirkan keberadaan istrinya, Nona Mo Yao dan adik iparnya.


"Entah di mana Qingyin dan yang lainnya. Semoga mereka tidak kenapa-kenapa."


Setelah berhasil membunuh dan memenangkan pertarungan tersebut, Qinli melesat keluar dari dalam danau. Saat ini ia berada tepat di hadapan Nona Mo Yao dan yang lainnya. Tentu saja hal itu membuat Nona Mo Yao kagum akan kehebatan Qinli.


Namun, bukan itu saja yang membuat Nona Mo Yao berbinar. Saat Qinli muncul ia tidak memakai pakaian dan hanya memakai pakaian dalam. Sehingga otot dan perut versi roti sobek milik Qinli terekspos sempurna. Membuat mata kaum hawa dimanjakan olehnya.


"Wow! Kau berjuang keras melawan ular setengah naga itu sampai hanya tersisa celana dalammu!" ucap Nona Mo Yao tidak tahu malu.


Sontak saja, Chu Zitan membuang muka agar tidak melihat hal tersebut. Sementara itu Qinli mengusap tengkuknya karena malu.


"Bajuku dimakan habis olehnya, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Qinli sambil tersenyum kikuk.


Meskipun membuang muka, tetapi Chu Zitan tetap perhatian terhadap kakak iparnya tersebut.


"Kakak ipar, kalau kau tidak keberatan, bagaimana kalau aku memberikan bajuku ...." ucap Zitan tetap dengan posisi membuang muka.


Tiba-tiba saja Qingyin datang dari arah belakang dan memukul kepala Qinli dengan baju dan celana baru.


"Cepat pakailah!" ucap Qingyin marah.


Dewi yang berada di dalam tubuh Qingyin ikut berkomentar, "Tidak disangka, pemilik tubuh asli sangat peduli pada laki-laki ini, bahkan hal-hal detail pun bisa terpikirkan olehnya ... Perasaan manusia benar-benar konyol."


Setelah memakai pakaian lengkap, Qinli mengajak semuanya untuk bergegas pergi.


"Ayo kita pergi sebelum mereka merusuh!"


Belum sempat mereka pergi, terdengar sebuah ledakan di langit.


...BOOM...


Keempat orang itu menoleh secara bersamaan ke arah sumber ledakan. Tiba-tiba saja ada sebuah arus yang sangat kuat menyeret salah satu diantara ke empat orang itu.


...WUNG...


Sebuah cahaya berbentuk pintu menyala dari sana dan menyeret tubuh Zitan. Chu Zitan berteriak meminta tolong.


"Kakak ipar, tolong aku!" teriak Zitan.


Ketidaksiapan mereka dalam mendapatkan serangan itu membuat mereka kehilangan Zitan


"Zitan!" teriak Qinli.


Lalu bagaimanakah perjuangan Qinli dan yang lainnya dalam upaya penyelamatan kali ini?


Simak kelanjutannya di hari Minggu


.


.

__ADS_1


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2