MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 187


__ADS_3

Terlihat jika Nona Ling'Er bisa merasakan kondisi lubang dimensi yang menarik mereka sangat berbahaya. Tangan Nona Ling'Er masih dipegang erat oleh Qinli.


"Guru ... Aku merasa di dalam celah ini sangat berbahaya," ujar Nona Ling'Er.


"Ling'Er punya kemampuan persepsi yang luar biasa kalau di dalam berbahaya," ucap Qinli di dalam hati.


Lubang dimensi tersebut sangatlah kuat hingga bisa menarik keduanya ke dalam suatu tempat yang terasa sangat asing baginya. Karena kecepatannya tiba-tiba bertambah, tautan tangan Qinli dan Nona Ling'Er terlepas.


"Pegang tanganku!" teriak Qinli.


"Iya!" ucap Nona Ling'Er dengan mata terpejam karena ketakutan.


...KRAK ... KRAK .......


...ARGH!...


...BUGH!...


Saat mereka terjatuh, mereka berada di dalam sebuah bangunan rumah. Lebih tepatnya di dalam sebuah kamar dengan dekorasi yang mewah.


"Di mana ini?" ucap Qinli terkejut.


Padahal ia mendarat di sebelah tempat tidur seekor rubah yang sedang tertidur.


"Gu ... Guru!" panggil Nona Ling'Er.


"Gu ... Ughhh--"


Namun, tiba-tiba mulut Nona Ling'Er ditutup oleh tangan seseorang, sehingga ucapannya terpotong. Ternyata bukan tangan Qinli yang membekapnya melainkan tangan seorang wanita. Ia pun berbisik kepada Nona Ling'Er.


"Sstt~ pelankan suaramu!" bisiknya.


"Ikut denganku kalau kalian tidak ingin mati!" ucapnya kemudian.


Di hadapannya ada seekor rubah ekor sembilan yang sedang tertidur. Salah seorang wanita yang tadi membekap mulut Nona Ling'Er kini menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil mengucapkan sesuatu pada rubah ekor sembilan itu.


KRUK ... KRUK ....


Di dalam ruangan itu ada beberapa wanita yang memegang tugasnya masing-masing. Ada yang bertugas mengipasi rubah ekor sembilan itu, ada pula yang bernyanyi agar ia semakin terlelap. Di bagian belakang ada yang menyiapkan makanan untuknya.


Nona Ling'Er yang penasaran langsung menyuarakan isi hatinya. "Mereka sedang apa?" ucapnya penasaran.


Qinli yang berdiri di barisan paling belakang juga ikut bertanya, "Apa kalian murid dari Sekte Bumi?"


"Benar, kami adalah murid dari Sekte Bumi, Anda siapa?" tanya salah seorang wanita pada Qinli.


"Namaku Qinli," ucapnya sambil tersenyum.


Tiba-tiba saja wanita di depannya langsung berlutut dan memberi hormat.


"Hormat, pemimpin!"

__ADS_1


"Kau tahu aku!" tanya Qinli penasaran.


Wanita itu seketika wajahnya terlihat sangat bahagia saat bertemu dengan Qinli.


"Tentu saja! Tetua Xia selalu menceritakan kepada kami mengenai dirimu!"


"Dengar-dengar, kalian sedang mencari orang di Gunung Feilong. Tapi kenapa kalian berada di dalam perbatasan ini? Bahkan melayani seekor rubah kecil?" tanya Qinli.


Prajurit wanita itu kemudian bercerita pada Qinli.


"Aih~panjang ceritanya. Kami diperintahkan Tetua Xia untuk mencari Nona Zitan ...."


"Di saat prajurit itu menangkap Nona Zitan, dia langsung menghancurkan tempat persembunyian yang ada di sekitar dan menyebabkan terciptanya ruang terbuka besar yang ada di luar. Kemudian, prajurit itu membawa Nona Zitan pergi melalui jalur ruang waktu."


"Kami tidak memperhatikan kalau di dalam ruang terbuka ada sebuah celah ruang waktu yang dipecahkan oleh prajurit itu, jadi kami tersedot masuk. Lalu menemukan seekor rubah kecil ...."


Sesaat kemudian prajurit wanita itu mengingat sesuatu. "Oh iya, Nona Zitan berteriak sebelum ditangkap. Sepertinya dia berteriak ... Keluarga Lei?"


"Jalur ruang waktu? Keluarga Lei?"


Sejenak Qinli teringat akan seorang laki-laki yang memakai jubah putih berwarna panjang.


"Jangan-jangan orang itu?"


"Kami sudah mencoba segala cara tapi tidak dapat keluar dari perbatasan ini."


Wajah prajurit wanita itu tiba-tiba berubah panik. Lalu segera memperingatkan Qinli dan Nona Ling'Er agar meninggalkan tempat itu sebelum rubah itu bangun.


"Kalian harus segera pergi! Kalau rubah kecil itu bangun, kalian tidak akan bisa keluar dari sini!" ucapnya memperingatkan.


"Berisik sekali! Siapa yang berani mengangguku berkultivasi!"


Rubah tersebut berdiri dari tempat tidurnya lalu menatap Qinli dengan sorot mata menyala. Ia benar-benar marah karena kultivasinya terganggu.


Qinli langsung bersiap untuk melawannya, tetapi sebelum ia pergi Qinli menyuruh Ling'Er untuk mencari tempat persembunyian yang aman.


"Ling'Er, kalian cari tempat persembunyian, semakin jauh semakin bagus!" teriak Qinli sambil menghunus Pedang Zhanlu.


"Iya."


Setelah mengucapkan iya, kedua wanita itu langsung berlari secepat mungkin.


Rubah kecil itu langsung menggunakan kesembilan ekornya untuk mengeluarkan kekuatannya.


"Kalian tidak bisa berbuat sesuka hati kalian di wilayahku!" ucap rubah itu.


"Energi spiritual yang sangat kuat!"


"Aku harus turun tangan terlebih dahulu selagi kekuatannya belum sepenuhnya bangkit!"


KETIGA, KEKUATAN TERATAI

__ADS_1


WUNG ... WUNG ... WUNG ....


SYUH


Namun, di luar dugaan, rubah tadi justru berubah menjadi manja terhadap Qinli. Ia seolah menari bahagia saat bertemu dengan Qinli. Sementara itu Nona Ling'Er sudah membayangkan jika Qinli akan meninggal.


Saat ini ia sedang mempersiapkan sebuah nisan dengan nama yang tertulis di atasnya, "MAKAM GURU QINLI."


"Guru, kalau kau mati, aku juga akan mati. Biar aku urus pemakamanmu dulu," ucap Nona Ling'Er sambil menatap haru ke arah nisan yang baru saja ia buat.


"Hanya ini yang bisa aku lakukan! Hu ... Hu ...."


Nona Ling'Er menangis tersedu-sedu saat itu. Saat ia menangis terdengar sebuah suara yang aneh, hingga mengganggu acara hari tersebut.


CIT CIT CIT ....


"Suara apa itu?"


Nona Ling'Er menoleh ke arah sumber suara.


"Guru, guru ...."


Nona Ling'Er yang khawatir segera berlari ke arah Qinli.


"Guru, kau tidak apa-apa, kan?"


Wajah Nona Ling'Er kemudian menjadi pias seketika. Di hadapannya terlihat jika rubah kecil sedang bermanja di dalam pangkuan Qinli.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


CIT CIT CIT


"Aku juga tidak tahu, padahal dia tadi sangat galak!" ucap Qinli kebingungan.


Salah satu tangannya memegang tubuh rubah itu, tangan lainnya mengelus bulu di kepalanya.


Tiba-tiba saja suasana berubah. Saat Qinli sedang memeluk rubah itu, terjadi sebuah gumpalan kekuatan besar di sana. Di bawah kaki Qinli yang berpijak muncul sebuah lubang dengan cahaya yang menyilaukan mata.


"Apa ini?"


Besarnya kekuatan itu membuat Nona Ling'Er dan prajurit wanita itu terlempar. Tidak lama kemudian sebuah ledakan terjadi di tempat Qinlu berpijak.


...BOOM...


...KRAK ... KRAK .......


"Guru ...." teriak Nona Ling'Er cemas.


"Lepaskan aku! Cepat selamatkan guru!"


"Apa kau sudah lupa apa yang dikatakan oleh pemimpin? Ayo cepat pergi dari sini!"

__ADS_1


Ternyata ledakan itu cukup kuat dan meledak sekali lagi. Hingga akhirnya Nona Ling'Er ditarik oleh prajurit wanita itu pergi. Sementara itu Qinli dan rubah kecil itu terlempar ke dalam dimensi lain.


Apakah Chu Zitan akan segera diketemukan kembali? Atau perjalanan Qinli masih panjang? Simak terus novel ini hingga selesai ya, makasih.


__ADS_2