MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 184


__ADS_3

Qinli menanggapi ucapan Tetua Kedua Keluarga Wu dengan santai.


"Di mana ada gelombang binatang spiritual, aku tidak melihatnya ketika datang ke sini," ucap Qinli dengan tersenyum.


Tentu saja tanggapan Qinli dianggap meremehkan oleh Tetua Kedua dari Keluarga Wu.


"Sepertinya kau ingin bermain denganku ...." ucap Tetua Kedua Keluarga Wu tidak terima.


Saat ketegangan mulai terjadi dari pintu gerbang terdengar suara laki-laki yang berteriak.


"Tetua Kedua ... Tetua Kedua ...." panggilnya dengan nafas yang terdengar tidak beraturan.


Benar saja sesaat kemudian seorang prajurit dengan kondisi yang penuh peluh memanggil Tetua Kedua.


"Te ... Tetua Kedua. Hosh ... Hosh (mengap-mengap) gelombang binatang spiritual di luar .... Hosh ... Hosh (mengap-mengap)


"Ada apa dengan gelombang binatang spiritual? Apa tidak ada yang berhasil menghentikan mereka dan menerobos masuk ke kota?" hanya Tetua Kedua dengan wajah sangat panik.


Sementara itu prajurit tadi belum normal pernafasannya, ia masih terlihat terengah-engah ketika berbicara.


"Hosh, Bu ... Bukan begitu, gelombang binatang spiritual ... Telah dihentikan oleh seorang prajurit misterius!"


Sontak saja Tetua Kedua segera mendekati prajuritnya dan memastikan jika pendengarannya tidak salah.


"Apa? Dihentikan oleh seorang prajurit? Apa kau yakin?" tanya Tetua Kedua.


"Yakin seribu persen! Orang ini hanya mengeluarkan satu jurus dan dalam sekejap melenyapkan ratusan binatang spiritual itu!" ucap prajurit itu dengan penuh keyakinan.


"Dengan kekuatan seperti itu, pasti orang tersebut diutus oleh tujuh keluarga besar! Lalu sekarang dimana orang itu?" tanya Tetua Kedua dengan antusias.


Prajurit yang melapor barusan merasa jika percakapan mereka diperhatikan oleh seseorang dan ternyata benar. Qinli sedang menyimak obrolan mereka. Ia pun menoleh ke arah Qinli dengan tatapan terkejut.


"Di ... Dia ...." ucap prajurit itu tergagap.


"Katakan dimana?" tanya Tetua Kedua tidak sabar.


"Di ... Dia berdiri di depanmu!" tunjuk prajurit itu kepada Qinli.


Tentu saja ucapan prajurit barusan membuat Tetua Kedua terkejut buka main.'


"A ... Apa kau yakin?"


"Iya ... Aku sangat yakin!" ucap prajurit itu penuh rasa percaya diri.


Seketika raut wajah Tetua Kedua Keluarga Wu yang sedari tadi meremehkan kekuatan Qinli segera merubah mimik wajahnya menjadi penuh senyum, padahal di hatinya masih tersimpan keraguan yang mendalam saat ini.

__ADS_1


"Tidak disangka, Tuan Qin sudah menyelesaikan masalah gelombang binatang spiritual, sungguh luar biasa," ucapnya sambil membungkuk hormat.


Seketika hilang sudah kesombongannya.


"Kami hanya mengutus satu prajurit, jadi apakah kita harus memberikan pil?"


Tetua Kedua dari Keluarga Wu tertawa sungkan.


"Hehe ... Tidak perlu lagi karena Tetua Qin yang turun tangan sendiri, kalau begitu aku pamit, dulu, ya?"


Setelah menyelesaikan hal itu dengan Tetua Kedua Keluarga Wu, Qinli segera mendekati Tetua Xia dan Nona Mo Yao. Namun, sepertinya Qinli terkejut karena adiknya tidak bersama mereka.


"Apa katamu? Zitan tidak bersama kalian?"


Nona Mo Yao segera menjelaskan duduk perkaranya kepada Qinli agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Biar aku jelaskan. Hari itu setelah jatuh di ruang hampa, kami bertiga jatuh di celah ruang hampa dan pingsan. Ketika bangun, hanya ada aku dan Tetua Xia saja, sama sekali tidak melihat adik iparmu."


"Jadi, kami menduga seharusnya adik iparmu juga ada di daratan ini, jadi kami pergi berkeliling mencarinya."


"Saat kami tiba di Kota Feilong, kami tidak sengaja bertemu seorang pria bertopeng dan berkerudung dan memangsa para prajurit wanita. Aku tidak tahan melihatnya, jadi aku turun tangan menyelamatkan mereka."


"Lalu Kak Xia kasihan melihat sekelompok prajurit wanita ini, jadi terpikir untuk membuat sekte dan sekalian menerima mereka uopeng memperluas sekte agar kau dan adik iparmu bisa menemui kami," jelas Nona Mo Yao padanya.


Pikiran Qinli langsung teringat pada sekelompok orang yang sebelumnya ia temui di rumah pelelangan kapan hari.


Setelah itu Tetua Xia datang dan membawa teh. Ia menuang teh tersebut ke dalam cangkir milik Qinli sambil menjelaskan sesudahnya.


"Akhirnya kami menemukan bahwa jejak Zitan ada di gunung pinggir Kota Feilong. Selain itu, kami juga sudah mengutus murid kami ke gunung itu untuk mencari keberadaan Zitan ...."


"Dan seharusnya para murid kembali hari ini, tapi sampai sekarang, masih belum kembali ...."


"Gunung ...."


Belum sempat mereka kembali berdiskusi, beberapa saat setelahnya ada yang berteriak memanggil nama Qinli.


"Tetua Qin ... Tetua Qin ...."


Ternyata Pemimpin Keluarga Wu datang bersama para prajuritnya.


"Gawat! Tetua Qin, sekte kalian dalam masalah!" teriaknya.


Nona Xia segera menjelaskan siapa yang datang barusan pada Qinli.


"Orang ini adalah Pemimpin Keluarga Wu, pasukan nomor satu di Kota Feilong," terang Tetua Xia.

__ADS_1


"Tuan Wu, apa yang terjadi?"


"Para muridku menemukan adanya keganjalan saat mereka menjelajahi Gunung Feilong, binatang spiritual di dalam gunung berhamburan melarikan diri."


"Takutnya para murid dari sekte Anda menemukan sesuatu yang aneh ketika menelusuri pegunungan dan terjadi sesuatu pada mereka."


Setelah mengetahui fakta tersebut ia segera mengucapkan terima kasih kepadanya.


"Terima kasih untuk informasinya, aku berencana pergi ke gunung untuk menyelidiki hal ini," ucapnya sambil memberikan hormat.


Namun, di dalam hati Qinli mengatakan hal lain.


"Pemimpin Keluarga Wu ini menyampaikan pesannya di saat seperti ini ...."


Akhirnya Qinli berangkat ke Gunung Feilong bersama Pemimpin Keluarga Wu.


"Di sinikah Gunung Feilong?" tanya Qinli ketika melihat hamparan gunung di sana.


"Benar!" ucap Pemimpin Keluarga Wu.


Beberapa saat kemudian Pemimpin Keluarga Wu terbatuk.


"Uhuk!"


"Uhuk ... uhuk .. aku terluka parah karena melawan gelombang binatang spiritual, sepertinya aku tidak bisa masuk bersama Tuan Qin," ucap Pemimpin Keluarga Wu sambil menunduk.


Saat ini ia sedang berakting agar tidak diajak masuk gunung. Oleh karena itu, ia melukai dirinya sendiri.


"Tidak apa-apa Pemimpin Keluarga Wu. Namun, aku tidak familiar dengan tempat ini, bagaimana kalau kedua Tetua masuk gunung bersamaku?"


Seketika kedua Tetua di belakang Pemimpin Wu berwajah pias, mereka terlihat sangat takut dengan penawaran Qinli, hingga mereka pun ikut berbohong.


"Anu ... Sejujurnya kami berdua juga terluka parah, Tuan Qin!"


"Oh, aku bisa sedikit ilmu pengobatan, bagaimana kalau aku mengobati kalian bertiga?" ucap Qinli menawarkan kebaikan hatinya.


Ucapan Qinli barusan semakin membuat ketika orang tadi semakin berwajah pias.


"Tidak disangka Tuan Qin bisa ilmu pengobatan. Kalau begitu terima kasih ...." ucap Pemimpin Wu.


"Kita bertemu pria tangguh!" ucap Kedua Tetua di belakang Pemimpin Wu.


"Sama-sama, Pemimpin Wu," ucap Qinli sambil memeriksa denyut nadi Pemimpin Wu.


Akan tetapi tidak disangka, saat itu salah satu tangan Pemimpin Wu menyentuh jantung dan melukai dirinya sendiri.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2