
Tiba-tiba saja wanita cantik tadi menjelma menjadi seekor rubah kecil yang tadi bersama Qinli. Ia terlihat menggemaskan ketika menjadi rubah daripada saat menjadi gadis garang seperti tadi.
"Ternyata aku secara tidak sengaja membuat kontrak dengan rubah kecil ini, pantas saja aku sangat familiar kepadanya."
Dengan cekatan, rubah kecil itu melompat ke gendongan Qinli dan bermanja di sana.
"Tuan ...." ucap rubah kecil itu manja.
Tangan Qinli terulur untuk membelai lembut kepala rubah itu.
"Ini pertama kalinya aku memelihara binatang, aku harus memberikanmu sebuah nama."
"Akan aku panggil si putih saja," ucap Qinli kemudian.
Namun saat Qinli menyebutkan nama panggilan untuk rubah kecil itu, seketika wajahnya mengisyaratkan ia tidak suka dengan nama itu. Qinli pun menyadarinya.
"Ka ... kau tidak suka?"
Tidak menjawab pertanyaan dari Qinli, rubah itu justru tertidur di dalam gendongannya.
Sementara itu Pimpinan Keluarga Wu dan para tetuanya sedang bermain kartu di halaman belakang rumahnya. Ternyata alasan ia menolak untuk ikut mengantar Qinli masuk ke Gunung Feilong adalah agar ia mudah mengambil barang-barang berharga milik Sekte Bumi.
"Sudah lewat dua hari, tidak tahu apakah Qinli sudah mati atau belum," ucap Tetua Kedua Keluarga Wu.
"Tempat itu sudah pernah aku jelajahi sendiri ...." ucap Pemimpin Wu ikut menimpali.
Tetua kedua tercengang ketika melihat Pemimpin Wu mengambil sebuah kartu bergambar wanita seksi dari Sekte Bumi.
"Kepala keluarga, kapan kau mengambil kartu ini?"
"Ha ha ha, sudah mengaku kalah, 'kan? Serahkan barangnya padaku!" ucapnya tersenyum sambil memandang Ketua Kedua.
Tidak lama kemudian, terdengar seorang mata-mata dari Keluarga Wu berlari ke arah mereka.
"Kepala keluarga!" serunya sambil ngos-ngosan.
"Kepala keluarga! Orang-orang dari Sekte Bumi telah kembali."
"Qinli juga ikut kembali bersama mereka?" tanya Pemimpin Wu panik.
"Aku tidak melihatnya, seharusnya dia sudah ...." ucapnya sambil memperagakan orang meninggal.
Seketika raut wajah mereka tersenyum bahagia.
61
"Hehe, barang-barang Sekte Bumi akan menjadi milik kita!"
"Huh, beraninya dua prajurit level langit dari sekte kecil menyimpan cincin penyimpanan!" ucap Pemimpin Wu penuh amarah.
Saat Qinli sampai di sebuah kota, jalanan terlihat sepi dan lengang membuat ia bertanya-tanya sedang terjadi apa di sana.
"Ke mana orang-orang? Aku tidak melihat ada orang lain di sepanjang jalan," gumam Qinli.
Namun, indera penciuman rubah kecil itu sangat tajam. "Bau darah yang sangat menyengat!"
__ADS_1
Ternyata di halaman kediaman Sekte Bumi sedang terjadi pertikaian. Pemimpin Wu benar-benar datang ke tempat itu dan mengancam Tetua Xia dan Nona Mo Yao.
"Serahkan padaku!" gertak Pemimpin Wu.
Nona Mo Yao mengusap bekas da-rah di bibirny, "Phui! Jangan harap!"
Nona Mo Yao yang cenderung cepat marah segera mengepalkan tangannya dan bersiap untuk menyerang Pemimpin Wu.
"Tua bangka, walaupun aku mati di sini, aku juga tidak akan menyerahkan cincin penyimpanan padamu!"
"Jangan marah begitu."
"Aku melakukan ini demi keselamatan Sekte Bumi kalian! Kalian punya banyak sekali sumber daya, hanya kalian berdua Alam Langit yang menyimpannya."
"Aku takut benda itu diincar oleh petarung kuat yang serakah ... Bagaimana kalau kau serahkan padaku saja untuk aku simpan."
Rupanya Pemimpin Wu sangat mengincar cincin penyimpanan itu. Buktinya dengan menggunakan segala cara ia ingin mendapatkannya.
Tetua Xia yang melihat amarah Nona Mo Yao segera berdiri di depannya.
"Jangan menghalangiku Kak Xia! Aku ingin menghajar baji**an ini sampai mati!" teriak Nona Mo Yao.
"Jangan gegabah! Kau bawa murid-murid dulu, akan aku pikirkan cara untuk menahan mereka ...."
"Bagaimana denganmu, Kak Xia? Jangan-jangan kau mau ... tidak boleh!"
Tanpa mereka sadari, Qinli berjalan mendekati mereka. Kini ia sudah berdiri di depan gerbang.
"Kelihatannya luka kalian sudah sembuh!" ucap Qinli sambil tersenyum.
Si rubah kecil itu juga berdiri di hadapan Qinli dan menatap nyalang ke arah para bedebah yang berkedok petarung.
"Aku baik-baik saja! Namun ... Pemimpin Wu yang bermasalah."
"Hahahaha ...."
Pemimpin Wu justru tertawa dengan sangat kencang, menertawakan kedatangan Qinli dan ucapannya barusan.
"Aku? Hahaha! Meski kau bisa melenyapkan ratusan binatang spiritual alam dewa, tapi kau hanyalah Petarung Alam Langit!"
"Sekarang kami punya sekitar ratusan Petarung Alam Langit!"
"Karena kau sudah kembali, maka serahkan cincin penyimpanannya kepadaku!"
Dengan santainya Qinli menanggapi ucapan Pemimpin Wu.
"Memangnya punya ratusan Petarung Alam Langit sudah merasa kuat?"
Sesaat kemudian semua petarung itu dikelilingi sebuah aura spritual yang sangat kuat dan menjulang ke langit.
"Energi spiritual yang sangat luar biasa!" seru mereka.
Mata mereka memandang takjub pemandangan di depannya itu.
"Itu alam reinkarnasi!"
__ADS_1
Ternyata gelombang spiritual yang sangat luar biasa itu berasal dari rubah kecil peliharaan Qinli.
"Tekanan yang begitu kuat! Aku tidak bisa bertahan lagi!"
"Rubah? Ban-banyak sekali ekornya."
"Jangan-jangan ...."
Katanya di zaman kuno, ada rubah langit berekor sembilan turun dari dunia abadi ke tempat ini, yang menarik ada banyak prajurit untuk datang ke sini mencari oportunitas!
"Apakah legenda itu benar adanya?"
Rubah milik Qinli itu mengibaskan ke sembilan ekornya, matanya merah menyala hingga membuat para parjurit yang meremehkan Qinli tadi tidak bisa bertahan lagi.
...BOOM...
"A ... Aku mengaku kalah!"
"Jangan bunuh aku!"
Banyak sekali prajurit yang meminta pengampunan dari Qinli. Padahal sebelumnya mereka sangat menghina dan meremehkan kemampuan Qinli.
"Aku dipaksa melakukan ini! Tolong ampuni aku!"
Sementara itu si putih tersenyum menyeringai. Ia sudah tidak tahan untuk menghabisi para pecundang itu dengan kekuatannya. Namun, Qinli masih mempunyai hati yang baik.
"Hentikanlah, Putih!" seru Qinli.
Dalam sekejap saja kemarahan Putih sirna dan rubah itu segera kembali melompat ke bahu Qinli.
"Aku tidak salah lihat, 'kan?"
"Rubah yang begitu kuat bisa ditaklukkan olehnya! Orang itu pasti sangat kuat!"
"Guru hebat!" teriak Nona Ling'Er dengan bersorak.
Dari atas, Qinli langsung menanyakan sesuatu hal kepada Pemimpin Keluarga Wu.
"Mudah untuk melepaskan kalian ... Tapi, aku ingin tahu Keluarga Lei."
"Keluarga Lei? Keluarga Lei yang mana?"
"Aku tidak pernah mendengarnya?"
Pemimpin Wu mengingat sesuatu lalu berkata pada Qinli, "Aku tahu satu Keluarga Lei!"
"Pemimpin Wu tahu mengenai Keluarga Lei?" tanya Qinli sambil mendarat ke tanah.
"Benar, Keluarga Lei berada di Daratan Tianlong. Konon katanya Keluarga Lei punya banyak petarung hebat Alam Reinkarnasi dan Alam yang lebih tinggi."
Mendengar penjelasan dari Pemimpin Wu, Qinli pun berniat untuk melakukan meditasi. Ia perlu meningkatkan beberapa kekuatan tenaga dalamnya. Agar nanti bisa digunakan lebih maksimal saat menghadapi Keluarga Lei.
Akankah Qinli bisa menemukan Chu Zitan? Atau ia akan menghadapi masalah lain lagi?"L
BERSAMBUNG
__ADS_1