
Mendengar ancaman tersebut, bukan berarti ia takut atau pun merasa kalah. Qinli dengan tenangnya malah menjawab tantangan Nona Mo dengan sangat tenang.
"Jika ingin membunuhku, harus lihat dulu apakah kalian punya kemampuan itu atau tidak!" ucap Qinli.
Sementara itu pemilik cafe yang masih berada di belakang Qinli memanggilnya dengan sebutan, Iron Man.
"Hei! Iron Man!" panggil pemilik cafe.
Qinli menoleh, sedangkan pemilik cafe hanya tersenyum sambil memperlihatkan kedua tangannya dengan jari tengah terangkat ke atas.
Tentu hati pemilik cafe sangat terluka akibat cafenya saat ini telah runtuh karena mereka. Tapi apalah daya, ia hanya bisa menunjukkan kekesalannya dengan gaya tangan fu*k-nya dan ekspresi wajah yang datar ke arah Qinli.
"Kenapa wanita itu mencari masalah di saat seperti ini? Kakek Badao masih .... "
"Kelihatannya, hanya bisa meminta bantuan darinya," batin Qinli menatap aneh pemilik cafe.
Dari arah samping kanan terdengar suara ambulan dan sirine yang berasal dari mobil polisi.
"Tidak disangka gelombang energi spiritual tadi berasal dari dirimu dan wanita itu."
Tiba-tiba lelaki berkaca mata yang kapan hari bertemu dengan Qinli kembali datang menemuinya.
Qinli menoleh ke arah lelaki berkaca mata itu.
"Kau rupanya? Kau kenal dengan Mo Yao!"
Lelaki berkacamata itu menghela nafasnya.
"Tidak kenal, tapi aku menonton kalian bertarung, jurus yang dikeluarkan wanita itu sedikit familiar."
Lalu lelaki berkaca mata itu turun mendekati Qinli, sedangkan pemilik cafe berada di tengah Qinli dan lelaki itu, tapi ia diabaikan keberadaannya saat ini.
__ADS_1
"Ternyata kau datang untuk melihat pertunjukan?" tanya Qinli pada lelaki berkaca mata itu.
Lelaki itu hanya meringis ketika mendapati tuduhan Qinli. Sedangkan pemilik cafe semakin diabaikan. Sesaat kemudian, lelaki berkaca mata itu berdehem.
"Biasanya aku tidak mudah turun tangan," ucapnya sambil menutup mata.
"Katakanlah, untuk apa kau datang mencariku?"
"Hampir saja aku lupa. Coba lihat ini!"
Lelaki berkaca mata itu menyerahkan ponselnya pada Qinli agar ia bisa melihat langsung apa yang ada di dalam ponsel miliknya.
"Ini!"
"Kakek Badao!" ucap Qinli terkejut.
Di dalam ponsel itu, ia melihat Kakek Qin Badao sedang berada di dalam tabung bersama beberapa kesatria yang bernasib sama dengannya.
"Namun, dilihat dari kekuatan yang kakek punya, seharusnya dia tidak akan mudah tertangkap!" seru Qinli.
Tapi seketika ia menjadi teringat akan sesuatu hal.
"Apa karena ilmu yang diturunkan padaku waktu itu menyebabkan kekuatan kakek ...." batin Qinli.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Qinli pada lelaki berkaca mata itu.
"Heh! Aku siapa?"
"Apa kau tidak bisa tebak aku?" ucapnya sambil membenarkan kaca mata miliknya.
"Bisa dikatakan seperti ini. Qin Badao adalah kakekmu dan juga adalah kakekku."
__ADS_1
Akibat ucapan lelaki berkaca mata itu, banyak sekali pertanyaan yang bermunculan di kepala Qinli.
"Kami semua adalah anggota Keluarga Qin Tersembunyi, termasuk orang tuamu!"
Qinli yang terkejut lalu memegang kedua bahu lelaki berkaca mata itu.
"Lalu apa kau tahu di mana orang tuaku?"
"Aku tidak tahu. Namun, jika kau ingin mencari orang tuamu, kau boleh bertanya pada Kakek Qin."
"Kakek Badao?" tanya Qinli tak percaya.
"Waktu itu, Kakek Qin meninggalkan Keluarga Qin tanpa ijin, dan dia dikeluarkan oleh Kepala Keluarga."
"Aku tidak bisa menolongnya, jadi hanya bisa mengandalkanmu, lokasi persisnya akan aku kirimkan padamu."
Tak lama kemudian, notif pesan di ponsel lelaki berkaca mata itu berbunyi, ia pun melihatnya.
"Minggu, 19 April, pukul setengah tiga sore."
"Berita Shangjing, Keluarga Tersembunyi mengeluarkan perintah membunuh Qinli, hadiah ..." begitulah bunyi notif di ponsel miliknya.
"Keluarga Tersembunyi sudah mengeluarkan perintah untuk membunuhmu, waktumu sudah tidak banyak."
"Aku pasti akan menyelamatkan Kakek Badao!" seru Qinli percaya diri.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1