
Beberapa hari kemudian, Nona Zhou berkunjung ke kediaman Villa Jiangjun. Hari itu ia berpakaian sangat seksi. Ia pun mengetuk pintu villa itu.
"Apakah Komandan Qin di rumah?"
Kebetulan di ruang tamu ada Lian Qing yang duduk sambil memainkan belati pemberian Qinli. Karena ada ketukan dari arah pintu yang tak berhenti ia pun terusik hingga membuatnya beranjak untuk membuka pintu.
Untung Lian Qing menaruh belati itu di meja sebelum ia membuka pintu.
"Kau cari siapa?" tanya Lian Qing saat membuka pintu.
"Komandan, pagi!" sapa Nona Zhou manja.
Saat mengetahui yang membuka pintu adalah wanita, seketika Nona Zhou membeku.
Tanpa dipersilakan masuk, ternyata Nona Zhou malah memaksa masuk.
"Hm, apakah Komandan Qinli tidak tinggal di sini?"
"Komandan? Bos juga menjadi orang militer?" batin Lian Qing.
"Siapa wanita ini? Kenapa aku merasa sedikit familiar," batin Nona Zhou sambil menoleh.
"Eh, aku bertanya padamu, apakah Komandan Qin ada di sini?"
Tiba-tiba dari lantai atas terdengar suara aneh."
"Eng ... eng ... ah ... Qinli! Ka-kau pelan sedikit ... eng_
Tiba-tiba mata Nona Zhou bergairah.
"Ka-kapten kau sedang ...."
"Tidak heran dia adalah pria yang kusukai, tidak kurang dalam aspek apapun!" batin Nona Zhou senang.
"Eng ... eng ... aaah ....!
Suara itu terdengar semakin keras dari dalam kamar Qinli. Padahal di dalam kamar Qinli sedang melatih Qingyin gerakan dasar ilmu bela dirinya.
__ADS_1
Qinli semakin menekan kaki Qingyin.
"Bagaimana Qingyin, masih bisa tahan?" tanya Qinli.
"Eeeng ... aaahh ...." teriak Qingyin dengan wajah memucat.
"Aa-aku ... bisa ...."
Krak! Karena Qinli terlalu melipat kaki Qingyin ke atas sehingga segitiga bermuda milik istrinya jtu makin kelihatan.
Hingga Qingyin berteriak, "Aaaahhhhh ...."
Sedangkan di lantai bawah, pikiran mesum Nona Zhou semakin berkelana.
"Kapten sangat hebat!"
Sementara itu Lian Qing malah malu karena suara-suara aneh itu.
Lalu Qinli mengendong Qingyin dan mengantarkannya untuk berendam.
"Berendamlah, lepaskan kelelahanmu, aku keluar dulu."
"Huft, sakit sekali," ucap Qingyin ketika Qinli sudah keluar dari kamar mandi.
Qinli terlihat segar setelah mandi, ia pun masih mengeringkan rambutnya saat turun ke bawah. Ia kaget ketika melihat Nona Zhou ada di sana.
"Kapten! Akhirnya kau selesai juga," ucapnya senang.
"Kenapa kau datang?"
Banyak pertanyaan di kepala Qinli akibat perkataan Nona Zhou barusan. Lalu Nona Zhou memperagakan adegan dewasa dengan isyarat tangannya. Akhirnya Qinli tau apa yang dimaksud oleh Nona Zhou.
"Bukan seperti yang kau pikirkan."
Melihat suaminya kedatangan tamu wanita Qingyin segera bertindak. Ia pun memanggil Qinli.
"Suamiku!" teriaknya dari tangga atas.
__ADS_1
Ia pun bergerak turun untuk menemui suaminya.
"Kau lupa mengambil barangmu!"
Lalu ia pun menuruni tangga dan mendekati Qinli.
"Tidak di sangka Qinli menyukai wanita seperti ini," batin Nona Zhou.
Qingyin pun meletakkan lembaran kertas itu pada tangan Qinli secara kasar, sementara salah satu tangannya mencubit punggung Qinli.
"Siapa lagi dia?" itulah arti senyuman dari Qingyin pada Qinli.
Untung Qinli bisa membaca arti dari senyuman Qingyin. Hingga ia pun ikut berpura-pura dengan istrinya.
"Lihatlah ingatanku ini!" seru Qinli sambil mengusap kepalanya.
Setelah itu, Qinli lalu memperkenalkan istrinya dan juga Lian Qing pada Nona Zhou.
"Perkenalkan, ini istriku, Chu Qingyin. Dan yanh di sana adalah Lian Qing, teman sekolahku, sekarang bekerja di toko obat China-ku."
"Dia Zhou Xuanyi, sama sepertiku, dia adalah salah satu peserta yang mewakili Shangjing berpartisipasi dalam Kompetisi Prajurit."
"Punya istri yang begitu cantik, kenapa sebelumnya kapten menyembunyikannya?"
Lalu Qingyin bergelayut manja di lengan suaminya, "Dia orangnya rendah hati, tidak suka pamer kemesraan."
"Kenapa kalau sudah menikah, apakah tidak bisa bercerai?" ucap Nona Zhou.
"Waktu itu Jiangran, tidak disangka datang satu lagi," batin Qingyin.
"Qingyin datang ke Shangjing demi menemaniku, sebelumya terus sibuk dengan perusahaannya, jadi tidak pernah muncul."
Qinli pun membela istrinya, Qingyin.
Kedua wanita itu saling melemparkan aura permusuhan, lalu membuang muka setelahnya. Sedangkan Qinli bingung harus bersikap seperti apa.
"Aku telah menetapkan jadwal latihan sesuai kondisi masing-masing, kalian lihat dan pelajari dulu," ucap Qinli sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Setelah itu, Qinli membawa ketiga wanita itu untuk latihan di ruang terbuka alias outdoor.
"Sekarang, masih tersisa waktu setengah bulan sebelum pergi, ikut kompetisi prajurit."