MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 231


__ADS_3

Nasib kesatria berbadan tambun tidak sebaik keberuntungan yang menyelimuti Qingyin. Saat ia hendak menyerang Tuan Muda Jiang dan Tuan Muda Xu, ada sebuah dinding es yang menghalangi langkahnya.


Rupanya Qingyin menyerang secara diam-diam hingga membuat tubuh kesatria tambun itu terkurung dalam penjara es buatannya.


...PENJARA CERMIN ES!...


Hanya dalam sepersekian detik berikutnya, es yang memenjarakan tubuh kesatria tambun itu meledak. Menggetarkan area sekelilingnya.


...BOOM!...


Ledakan itu memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Bahkan membuat Tetua Xia dan Nona Mo Yao bahkan hampir terlempar.


Tetua Liu menatap miris kepada temannya yang sudah hancur akibat serangan dari Qingyin. Bahkan saat ia masih melamun, rupanya dengan sangat cepat Qingyin menghunuskan pedang ke arah dagunya.


Keringat dingin mengucur deras dari kening dan pelipis Tetua Liu. Beberapa saat kemudian, saat Qingyin hendak melanjutkan serangan darinya, tubuh Tetua Liu sudah menghilang. Rupanya dia diselamatkan oleh sosok kesatria berwajah cantik. Bibirnya bahkan memakai lipstik dan kedua pipinya merona karena blush on.


Beberapa saat kemudian kesatria berwajah cantik itu meneteskan kuas miliknya dan berubah menjadi sebuah lingkaran hitam yang menutupi Sekte Bumi. Kakek tentu saja marah.


"Pembatas alami! Ini adalah pembatas alam! Si waria ini prajurit Alam Dominasi."


Tentu saja kesatria itu marah karena disebut sebagai waria. Ia menggertakkan giginya.


"Waria? Kau bilang siapa yang waria?"


Beberapa saat kemudian ia menari dan mulai melancarkan serangan pada Kakek Tua.


...BOOM!...


"Aku bahkan tidak melihat adanya serangan! Jangan-jangan itu kekuatan ruang? Tidak benar, seharusnya itu adalah kekuatan atributnya ..."


"Reaksi yang lumayan bagus, tidak tahu apakah orang lain bisa mengelaknya atau tidak, ya~


Rupanya, kesatria cantik itu mengarahkan serangan yang berasal dari kuasnya dan diarahkan kepada Tetua Xia.


Kuas bertinta hitam itu sangat kuat dan serangannya mampu mengunci tubuh lawan hingga menimbulkan sebuah ledakan.


...BOOM!...


Nona Mo Yao dan kakek berteriak melihat ledakan itu. Kebetulan pada saat itu Tetua Xia sedang berdiri sendiri.


"Nona Xia!"

__ADS_1


"Tetua Xia!"


Saking senangnya, kesatria berwajah cantik itu bertepuk tangan sambil tersenyum. "Beres, selanjutnya siapa, ya?"


"Selanjutnya ...."


"Giliranmu!"


Ternyata pada saat yang tepat Qinli mampu menghalangi serangan dari kesatria cantik itu. Hingga kini ia bersiap untuk menyerang balik kesatria berwajah cantik (lady boy) tersebut.


Kesatria itu tersenyum manja ke arah Qinli, ia seolah meremehkan keberadaan Qinli.


"Ternyata dia bisa memengaruhi Pembatas Alamku, kelihatannya kekuatan atributmu lumayan hebat."


Sejenak ia mulai mengerakkan kembali kuas cat miliknya yang merupakan senjata milik kesatria cantik itu.


"Tapi, kau telah menodai kertas gambarku, hukuman apa yang harus aku berikan padamu, ya?"


Tubuh Qinli sangat bercahaya, mengeluarkan api dari dalam tubuhnya. "Pembatas Alam yang seperti lukisan tinta ini sungguh merepotkan!"


...GROAR!...


Lukisan tinta hitam milik kesatria cantik itu membentuk sebuah naga berwarna hitam, sementara itu kekuatan Qinli menyala seperti api yang siap membakar apa saja yang berada di depannya.


Rupanya naga hitam miliknya tidak mampu mengungguli kekuatan Qinli. Padahal ia hanya menggunakan sebagian kekuatannya.


"Level semacam ini tidak akan bisa memadamkan apiku!"


Kesatria berwajah cantik itu kembali menari untuk mengunakan kekuatan kuas hitam miliknya.


"Kau memang sangat kuat, tapi apakah orang lain mampu menahannya?"


Serangannya ditujukan ke arah Qingyin dan yang lainnya. Beruntung benteng yang dibuat Qinli dengan api miliknya mampu menahan serangan itu.


"Sepertinya kau sudah lupa ...."


"Kami tidak sedang bertarung sendirian!" teriak Qingyin yang juga sedang menggunakan kekuatan miliknya.


"Aku tidak menyangka jika wanita ini mampu menahan seranganku. Sekte Bumi ini memang bukan sekte biasa," gumam kesatria berwajah cantik penuh amarah.


Dengan gaya tenangnya, Qinli menunjuk ke arah matahari yang bersinar terang.

__ADS_1


"Hei, berhenti melamun, langit sudah mau terang!"


"Apa!" ucapnya terkejut.


Kesatria itu juga sama terkejutnya ketika di kepalanya terdapat sebuah Piramida berwarna hijau yang siap jatuh ke arahnya.


"Kapan ini terjadi? Apa naga api tadi yang membuatnya?"


"Sampai jumpa!" teriak Qinli dengan tersenyum.


"Ini cuma serangan Alam Hidup dan Mati."


"Mustahil aku tidak bisa melawannya!"


Beberapa saat kemudian terdengar dua kali ledakan yang sangat besar.


...BOOM!...


...BOOM!...


"Bos, memang hebat! Sekali serang langsung ...."


Kening Qingyin berkerut karena masih melihat sosok kesatria berwajah cantik itu di dalam serpihan bangunan.


"Masih belum berakhir ...."


"Dia masih belum mati ...."


"Berengsek!" teriak kesatria berwajah cantik itu sambil mengusap bibirnya yang mengeluarkan cairan berwarna merah pekat.


Sementara itu Qingyin bergerak mendekatinya sambil menyerang dengan jurusnya.


"Waria, kau melupakanku lagi ...."


Menyadari jika Qingyin menyerang dari arah belakang, kesatria itu menepisnya dengan salah satu tangan. Dari arah depan, Qinli membantu istrinya.


"Akan kubunuh ...."


...BAM...


Telapak kaki Qinli lebih dulu mengenai wajah kesatria berwajah cantik itu hingga membuatnya babak belur. Bahkan ia terjatuh hingga daratan dan sempat melihat wajahnya berubah buruk rupa.

__ADS_1


"Wajahku ... yang cantik ...."


"Aku tidak akan mengampuni kalian! Akan aku habisi kalian!" teriaknya penuh amarah.


__ADS_2