MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 161


__ADS_3

KEDIAMAN KUNO KELUARGA QIN


Akhirnya setelah perjuangan panjang, Qinli dan yang lainnya berhasil kembali ke Kediaman Kuno Keluarga Qin.


"Akhirnya kita kembali juga," ucap Kakek Qin Badao lega.


Namun, kondisi Kediamaan Qin terlihat sepi dari luar, dan tidak ada yang membuka gerbang untuk mereka. Tentu saja hal itu membuat Tetua Keempat marah besar.


"Kenapa tidak ada orang yang membuka pintu? Di mana penjaga pintu?" teriak Tetua Keempat.


Tiba-tiba saja dari balik gerbang terlihat ada beberapa prajurit yang berdiri di atas gerbang dan salah satu pemimpinnya menaiki kepala ular raksasa penjaga Kediaman Qin.


"Kalian sudah membunuh Kepala Keluarga Qin Xiaotian, dan kalian masih berani kembali?"


Prajurit yang lainnya juga sama berteriaknya.


"Kami sudah melapor pada Kepala Keluarga yang baru dan dia akan segera tiba."


"Kepala Keluarga baru?" ucap Qinli tidak percaya.


Lalu sesaat kemudian pintu gerbang terbuka. Tampillah beberapa sosok orang di sana. Ada seorang Kesatria Tua yang memakai tongkat berkepala tengkorak. Di sampingnya berdiri seorang pemuda putra mantan ketua Keluarga Qin sebelum Qinli yaitu Qin Zhan.


"Tetua Huang, orang-orang ini adalah pembunuh Kepala Keluarga Qin yang sebelumnya! Kau harus membantu kami menegakkan keadilan!" teriak Qin Zhan sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Qinli.


Ternyata lelaki tua itu bernama Tetua Huang. Dia juga mempunyai dendam yang sama pada keluarga Qinli.


"Tenang saja Kepala Keluarga Qin! Perselisihan di antara Keluarga Qin dan Keluarga Huang waktu itu disebabkan oleh kedua orang tua Qinli. Hari ini adalah saatnya untuk menyelesaikan dendam ini," ucap Tetua Huang.


Qinli mendengus kesal. Ia memejamkan kedua matanya untuk sesaat. Lalu kemudian ia mulai berbicara.


"Sungguh konyol, memutarbalikkan fakta!" ucap Qinli.


"Namun, karena kalian semua datang mencari masalah denganku, maka majulah sekaligus!"


Tentu saja pemuda itu (Kepala Keluarga Qin yang baru) tidak percaya pada ucapan Qinli. Terlebih ia beranggapan jika Tetua Huang adalah petarung terkuat saat ini.


"Omong kosongmu besar sekali. Tetua Huang adalah petarung terkuat selain Hong Ming."


"Qinli kau sudah menyinggungnya dan sudah terlambat jika ingin minta ampun."

__ADS_1


Sesaat kemudian, dari arah belakang, Tetua Huang mulai menyerang. Tongkat berkepala tengkorak yang ia miliki bergerak dan kedua lubang matanya memancarkan cahaya merah.


KAKK ... KAKK ... KAKK ....


KAKK ... KAKK ... KAKK ....


Lalu setelah tongkat berkepala tengkorak itu dilempar ke angkasa ia berubah seperti iblis pencabut nyawa yang membawa rantai besi. Sementara itu, Tetua Huang berteriak, "Sihir pengunci jiwa!"


Qinli tersenyum menyeringai, salah satu tangannya sudah memegang Pedang Zhanlu.


"Segala macam jurus yang dikeluarkan tidak akan berguna saat mereka berhadapan dengan ...."


"Kekuatan Mahakuasa."


Tubuh Qinli melesat ke angkasa lalu diarahkannya Pedang Zhanlu itu ke arah Sihir Tetua Huang. Serangan Pedang Zhanlu berwujud seekor naga berwarna keemasan.


...GROAR!...


Hanya satu kali tebasan, sihir dari Tetua Huang berhasil dipatahkan. Sihir pengunci jiwa milik Tetua Huang tidak mampu melindungi pemiliknya. Bahkan serangan Pedang Zhanlu mampu membuat Tetua Huang terluka parah.


"Puft ...."


Kepala Keluarga Qin yang baru (Qin Zhan) sampai terperangah. Wajah sombongnya seketika hilang dan berganti menjadi pias.


"Yang benar saja ...." ucap Qin Zhan.


Saat ini Qinli mendekati Tetua Huang dan mencekik lehernya sambil menggertaknya.


"Sampah sepertimu lebih baik menemani mereka ke alam baka daripada menegakkan keadilan untuk mereka ...."


Di ambang kematiannya, Tetua Huang masih bisa menyebutkan sebuah alasan yang membuatnya berani menyerang Qinli.


"Qin Zhan telah berjanji kepadaku untuk memberiku keuntungan jika aku bisa membunuhmu. Aku bisa membuktikannya padamu dengan batu spiritual dan obat pil yang dia berikan padaku," ucap Tetua Huang.


Tentu saja Qin Zhan semakin ketakutan ketika Tetua Huang mengatakan semuanya.


"Hei, tua bangka! Omong kosong apa yang kau bicarakan!"


Beberapa orang di belakang Qin Zhan mulai bergeming. "Benarkah seperti itu?"

__ADS_1


Qinli melepaskan cengkeraman pada leher Tetua Huang hingga ia terjatuh ke tanah. Lalu dengan tersenyum Qinli memandang Qin Zhan.


"Sekarang kebenaran telah terungkap, apa kalian masih akan tetap memilih mengikuti Qin Zhan atau memilih mengikutiku?" ucap Qinli.


Tetua Keempat kini mulai maju untuk bersuara.


"Masih tidak cepat menangkap Qin Zhan! Keluarga Qin dari dulu adalah keluarga tersembunyi yang jujur."


"Sejak kapan orang sepertimu pantas menjadi kepala keluarga!" gertak Tetua Keempat.


Para prajurit segera mengamankan Qin Zhan dengan mengarahkan pedang pada leher Qin Zhan dan menghujatnya.


"Kau tidak pantas menjadi kepala keluarga kami!"


Tetua Keempat menoleh ke arah Qinli.


"Qin Qiaotian sudah mati, sekarang kau adalah Kepala Keluarga Qin."


"Bagaimana kau ingin menghukum Qin Zhan?" tanya Tetua Keempat.


"Masukkan dia ke penjara es dan tidak boleh keluar untuk selamanya!"


.


.


Malam harinya, Qinli segera pergi ke gua di Gunung Tersembunyi. Saat ini ia sedang berusaha untuk memecahkan segel yang mengunci pada tubuh kedua orang tuanya. Butuh waktu cukup lama untuk melelehkan segel tersebut. Hingga beberapa jam kemudian, tubuh kedua orang tua Qinli berhasil di keluarkan dari sana.


Kedua tubuh orang tua Qinli terjatuh secara bersamaan di dalam pelukan Qinli. Lalu setelahnya Qinli memberikan sebuah pil pada ayahnya, sementara itu Qingyin memberikan pil pada ibu Qinli. Berharap jika keduanya masih bisa diselamatkan.


Sebuah keajaiban akhirnya terjadi, kedua mata orang tua Qinli terbuka secara bersamaan. Lalu apakah yang akan terjadi selanjutnya?


.


.


...Bersambung...


Sambil nunggu up boleh mampir di karya othor yang lain kakak, semoga suka.

__ADS_1


__ADS_2