
Happy reading all😎
.
.
"Teratai api suci itu milikku!" teriak Xin Miusi dengan sangat kerasnya.
Merasa tak rela Qinli yang mendapatkan hadiah teratai api suci, ia pun datang dan bersiap untuk merebutnya dari Qinli.
"Milikku ...." ucapnya sambil berlari mendekati Qinli dan bunga teratai api suci itu.
"Teratai api suci adalah benda berharga yang tergolong dalam api ekstrim, jika bergabung dengan efek obat dalam tubuh Xin Miusi, takutnya akibatnya tak akan bisa terbayangkan!"
"Cepat hentikan dia!" teriak Ketua Wang dari bangku penonton.
Melihat Xin Miusi mendekat, Qinli langsung melayangkan satu pukulannya tepat ke wajah Xin Miusi hingga membuatnya jatuh terjerembab.
BAM!
Mendengar teriakan yang sangat ia kenali dari bangku penonton, Xin Miusi mulai menyeringai lalu bersiap untuk melompat ke sana.
"Kau yang telah mencelakaiku seperti ini!" ucap Xin Miusi penuh amarah.
"Aku akan membunuhmu!"
ROAARRR
"Dia!" batin Qinli sambil matanya memicing menatap Ketua Wang.
Secepat kilat sebelum Xin Miusi sampai di depan Ketua Wang, Qinli sudah berhasil menyerang Xin Miusi dengan beberapa jarum akupuntur miliknya.
"Efek obatnya sudah menyebar ke seluruh tubuhnya, hanya bisa menggunakan jarum akupuntur untuk mengunci denyut jantungnya."
SYUH ... SYUH ... PUF ... PUF ....
Jarum akupuntur milik Qinli menghunus tepat ke titik-titik di tubuh Xin Miusi. Sesaat sebelum tangannya menyentuh Ketua Wang, Xin Miusi jatuh ke lantai.
BUGH ...
Kini Xin Miusi masih belum bergerak hingga membuat Ketua Wang dan Nona Zhou menghampiri mereka. Lalu ia pun mengecek kondisi Xin Miusi yang tak bergerak sama sekali.
__ADS_1
"Di-dia sudah mati!" ucap Nona Zhou kaget.
"Begitu cepatnya sudah masuk ke dalam kondisi pura-pura mati!" batin Qinli.
Lalu ia pun mengecek sendiri kondisi Xin Miusi.
"Kelihatannya jurus akupunturnya efektif!"
Ketua Wang lalu mendekati Qinli.
"Kapten Qin tidak perlu mempedulikannya, di arena tantangan pasti ada yang mati dan hidup, aku akan memberi tahu kepala keluarga Qin, upacara pemakamannya akan dilaksanakan dengan penuh kehormatan."
"Pengawal, pindahkan Xin Miusi dari sini," titah Ketua Wang.
"Baik!" ucap pengawal dengan sikap sempurna dan tak lupa memberi hormat.
Setelah itu, Ketua Wang memberinya selamat pada Qinli.
"Selamat, ya, Kapten Qin!" ucapnya sambil tersenyum.
Qinli memandangi Ketua Wang.
"Sebelum sebab dan akibat dari masalah ini belum terselidiki dengan tuntas, Ketua Wang tidak boleh mati. Terlebih lagi Xin Miusi tidak boleh mati!" gumam Qinli.
.
.
Di sebuah jalanan, Qinli berjalan sendirian. Tetapi beberapa saat kemudian ia pun berhenti.
"Keluarlah, Lian Qing!"
Lalu Lian Qing keluar dari persembunyiannya.
"Maaf, Bos."
Dengan menunduk Lian Qing berbicara.
"Aku hanya takut Bos dalam bahaya, jadi aku diam-diam mengikutimu sampai ke Tianhai."
"Ternyata begitu ... Namun, prajurit kota Tianhai sangat banyak, kekhawatirannya bukan tanpa alasan," gumam Qinli sambil menoleh.
__ADS_1
Sementara itu, Lian Qing masih tampak takut kalau sampai Qinli marah kepadanya.
Qinli tersenyum, "Tenang saja, aku hanya pergi menemui Ketua Wang, seharusnya tidak akan ada bahaya."
"Namun, karena kau sudah datang, maka tolong bantu aku lakukan satu hal."
"Eh ...." ucap Lian Qing heran.
Sesudah menyelesaikan urusannya dengan Lian Qing. Qinli segera menaiki mobil bersama Ketua Wang.
Di dalam mobil.
"Aku tahu, Komandan Qin punya banyak kecurigaan."
"Namun, jika kau ingin tahu, maka pakailah ini, ikut aku pergi ke suatu tempat untuk bertemu seseorang."
Ketua Wang lalu menyerahkan sebuah penutup mata pada Qinli. Sebuah penutup mata berwarna hijau army dengan bagian matanya ada gambar mata terbuka. Jadi ketika kita memakainya, kita masih terlihat membuka mata.
Meski ragu, Qinli menerima pemberian dari Ketua Wang itu.
"Aku tidak begitu paham dengan maksud Ketua Wang," ucap Qinli sambil menerima pemberian penutup mata tersebut.
"Komandan Qin jangan tersinggung, ini adalah aturan adat kami."
Ketua Wang kemudian menampilkan mimik wajah senyum.
"Tidak ada izin dari atasan, informasi mengenai tempat ini harus benar-benar dirahasiakan oleh orang luar, jadi ...."
"Ketua Wang, kau salah paham, aku hanya tidak suka warna ini!" ucap Qinli sambil memakai penutup mata tersebut.
"Haha, Komandan Qin sangat bisa bercanda."
Selama perjalanan, pikiran Qinli terus berpusat pada Lian Qing.
"Sudah berlalu begitu lama, tidak tahu bagaimana situasi Lian Qing di sana," batin Qinli.
Sementara itu, Kapten Wang sibuk dengan gadget mililnya.
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...