MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 160


__ADS_3

Karena mendengar suara teriakan dari salah seorang keturunannya, beberapa prajurit dari Kerajaan tersebut marah. Mereka segera membuat kubah pelindung untuk daerah mereka karena merasa keberadaan mereka terancam. Satu tujuan mereka membuat kubah tersebut adalah agar para penyusup tidak bisa kabur dan mereka bebas membalas dendam kepadanya.


Beberapa saat kemudian datanglah satu pasukan berpakaian baja datang dari langit.


"Siapa kalian? Beraninya membunuh orang dari Daratan Tianxia!" ucap salah satu pemimpin pasukan tersebut.


Qinyin dan yang lainnya kini terancam. Qingyin yang menyadari hal tersebut tidak bisa tinggal diam. Ia menggunakan kekuatan dewi yang bersemayam di dalam tubuhnya untuk membuat jalan pintas agar mereka berempat dengan mudah melarikan diri.


"Sial!" ucap Qingyin sambil mengepalkan tangan.


Dengan cepat ia mengumpulkan kekuatannya dan membuka jalan ke langit. Seperti sebuah jalan menuju dimensi lain. Melihat hal itu, Qingyin tidak ingin menyia-nyiakan waktunya. Ia segera berteriak agar Qinli dan yang lainnya cepat masuk ke dalam jalan tersebut.


"Cepat pergi! Aku tidak dapat bertahan lebih lama lagi!"


Qinli dan yang lainnya tidak ingin membuang kesempatan itu, semuanya melesat masuk ke dalam jalan yang dibuat oleh Qingyin. Begitu semua sudah masuk, Qingyin menyusul di urutan paling belakang. Lalu sesaat kemudian jalan tersebut tertutup.


Para prajurit Dataran Tianxia hanya bisa menatap kepergian mereka dari kejauhan. Ternyata jalan tersebut membawa Qinli dan yang lainnya kembali ke dalam prasasti. Mereka mendarat di sana dengan berbagai kondisi.


"Benar-benar gila! Ini seperti berlari tujuh hari tujuh malam dengan perut kosong, seluruh tubuhku lemas dan sakit!" Keluh Nona Mo Yao yang jatuh terlentang ke tanah.


Seluruh tubuhnya berkeringat seperti orang yang habis berperang. Sementara yang lainnya juga berada di dalam posisi yang sama.


"Aku juga ...." ucap Chu Zitan memegang kepalanya yang sakit.


Qinli menopang tubuh istrinya Qingyin. Mungkin karena ia menggunakan seluruh kekuatannya, ia menjadi pingsan. Tentu saja hal itu membuat Qinli khawatir.


"Qingyin, bangunlah!" teriak Qinli panik.


Melihat tidak ada respon darinya, Qinli menggunakan kekuatannya untuk memeriksa kening Qingyin. Dengan menggunakan tenaga dalamnya ia mencoba mengetahui kondisi tubuh istrinya itu.


Beberapa saat kemudian ia telah memasuki alam bawah sadar Qinli. Di tempat itu, Qinli mencoba memanggil dewi yang bersemayam di tubuh istrinya itu.


"Keluarlah!" teriak Qinli.

__ADS_1


Sama sekali tidak ada respon di sana, maka dengan terpaksa Qinli berteriak sekali lagi.


"Keluar sekarang!"


"Hei! Keluarlah sekarang dan jelaskan padaku!"


Qinli masih mencoba berpikir positif terhadap dewi tersebut.


"Meski dia selalu tinggal di dalam tubuh Qingyin, tapi dia tidak pernah melakukan sesuatu yang menyakiti kami, melainkan terus membantu kami ...."


"Sudah aku tunggu begitu lama tapi tidak ada kabar darinya, tidak mungkin benar-benar terjadi masalah padanya, kan?"


Begitu lama Qinli menunggu tetapi hasilnya sama saja. Hingga Qinli sudah tidak sabar lagi, apalagi ini menyangkut nyawa istrinya, Qingyin.


"Hei! Kalau kau tidak muncul! Aku tidak akan membantumu dalam berkultivasi ...."


Sesaat kemudian terdengar suara dewi tersebut meneriaki Qinli dari arah belakang.


Qinli menoleh, ternyata dewi tersebut juga terluka seperti istrinya. Posisinya saat ini sedang duduk di lantai dengan memegangi perutnya. Tampak sekali jika ia kehilangan banyak energi tenaga dalam.


"Beraninya bocah seperti dirimu mengancam, aku akan ...."


Ucapannya terpotong karena ia terbatuk, "Uhuk ...."


Qinli yang mengetahui kondisi dewi itu hanya bisa mendekatinya untuk memastikan apakah prediksinya benar atau salah.


"Sudah seperti ini saja masih sok kuat!" ucap Qinli.


"Tapi kelihatannya kau tidak dalam masalah serius!" Ucap Qinli sambil tersenyum menyeringai.


"Meski dia adalah makhluk spiritual, tapi aku juga tidak tahu apakah cara itu bisa berguna untuk mengobatinya," gumam Qinli.


Saat ini Qinli berniat untuk menyembuhkan dewi tersebut terlebih dahulu. Dari dalam cincin yang ia pakai, Qinli mengeluarkan sebuah pil berwarna merah dari sana. Dewi itu menerka-nerka apa yang akan dilakukan Qinli setelah ini kepadanya.

__ADS_1


"Apa yang mau kau lakukan!" tanya dewi itu.


"Kakak tertua! Kau sudah lemah seperti itu, memangnya apa yang bisa aku lakukan kepadamu?"


"Siapa yang kau maksud kakak tertua!" ucap dewi itu tidak terima.


"Jangan berbicara!" gertak Qinli.


Saat ini, Qinli sedang memeriksa keadaan dewi tersebut dengan mengarahkan jari telunjuknya ke kening dewi itu. Qinli menggunakan seluruh tenaga dalamnya dan juga memasukkan pil tersebut ke dalam tubuh dewi.


Sesaat kemudian dewi tersebut pingsan, Qinli menopang tubuhnya untuk beberapa saat. Saat obat itu mulai bereaksi, dewi itu bangun dan protes pada Qinli karena reaksi obat itu begitu aneh.


"Obat apa yang kau berikan padaku? Kenapa aku merasa tubuhku panas!" ucap dewi itu.


Dewi itu telah bangkit dan berdiri, sementara itu Qinli masih terduduk dan berwajah pucat. Ia baru saja mengunakan kekuatan tenaga dalam pada dewi itu.


"Tentu saja obat untuk menambah energi. Memangnya ada obat apa lagi yang bisa aku berikan padamu? Namun, efek sampingnya begitu besar!"


Keringat terus mengucur dari kening Qinli, ia benar-benar kelelahan dan dalam kondisi lemah. Sementara itu di luar sana, Chu Zitan dan Nona Mo Yao penasaran dengan apa yang dilakukan Qinli pada Qingyin.


"Kakak ipar sudah memeriksa kondisi kakak begitu lama, tapi tidak ada respon apa pun, apakah sungguh terjadi sesuatu pada kakak?" ucap Chu Zitan penasaran.


Begitu pula dengan Nona Mo Yao yang memeriksa Qinli lebih dekat. Ia pun berubah terkejut karena melihat wajah Qinli yang memerah.


"Aku lihat sepertinya benar-benar terjadi sesuatu!" ucap Nona Mo Yao panik.


Lalu apakah yang sebenarnya terjadi di sana?


.


.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2