
Saat ini tubuh Qinli penuh berkeringat. Bahkan wajahnya memerah menahan gejolak pil yang sudah diserap olehnya. Sementara itu Zitan merasa panik karena kakaknya justru mengalihkan semua efek pil tersebut ke dalam tubuhnya. Sehingga kakak iparnya tersiksa saat merasakan apa yang sudah dirasakannya tadi.
"Ce-cepat jauhi aku!" teriak Qinli pada Zitan.
Zitan yang kesal menggembungkan salah satu pipinya karena kakaknya justru menginginkan dirinya pergi. Padahal ia ingin jika kakaknya dan dirinya berhubungan layaknya seperti seorang suami istri, tetapi Qinli justru menolaknya.
"Oh, baiklah!"
Zitan memang sengaja membuat Qinli tersiksa dengan ia yang tidak mau pergi dan justru mendekatkan dirinya ke arah Qinli. Salah satu tangannya memegang lutut Qinli dan membuat sang pemiliknya gemetar.
"Ce-cepat!" teriak Qinli sekali lagi.
Qinli berusaha untuk tetap menahan dirinya. Ia bahkan terus menutup matanya agar tidak tergoda dengan penampilan Zitan yang sudah menggoda.
Bukan Zitan namanya jika pantang menyerah. Dengan sangat sengaja ia justru menabrakkan bukit kembarnya tepat ke arah Qinli. Hal itu sukses membuatnya seolah tersengat aliran listrik dan membuka mata.
Wajah Qinli terlihat merah padam, apalagi wajah Zitan sengaja ia dekatkan ke arah wajah kakak iparnya itu. "Kakak ipar, bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Menurutmu?" ucap Qinli dengan tubuh gemetar.
Ia bahkan tidak bisa berpikir jernih saat itu, tetapi Zitan justru membuatnya semakin sulit.
"Benar-benar membuatku gila!" pekik Qinli kesal di dalam hati.
__ADS_1
Beruntung tidak lama kemudian muncul Ling'Er bersama yang lainnya berlari ke arah Qinli.
"Guru!"
"Guru!"
"Guru, Anda tidak apa-apa, 'kan?" tanya Ling'Er sambil melambaikan tangannya.
Seketika kedua mata Qinli berbinar karena di antara mereka ada istrinya, Qingyin.
"Akhirnya kalian datang juga!" ucapnya dengan bahagia.
Qinli langsung berlari menjemput Qingyin dan meminta seluruh muridnya untuk meninggalkan mereka berdua.
Terlihat sekali sikap Qinli yang langsung meraih tubuh Qingyin dan mendekapnya. Tentu saja tindakan Qinli membuat ketiga muridnya bertanya-tanya.
Sementara itu Jiangjun dan Tuan Muda Chu justru terlihat kebingungan lalu keduanya berbisik-bisik.
"Apa kultivasi Bos tidak terlalu cepat?" bisik Tuan Muda Chu pada Jiangjun.
"Benar, juga!" jawab Jiangjun yang juga kebingungan.
Zitan yang merasa terabaikan seketika berbicara. "Bi-bisakah seseorang membantuku?"
__ADS_1
Dengan segera Tetua Ketujuh segera mengulurkan tangannya ke arah Zitan dan disambut baik olehnya. Lalu dengan segera mereka melangkah pergi.
Belum terlalu jauh, telinga Ling'Er yang sensitif mendengar bunyi aneh dari dalam gua.
"Suara apa itu?" tanya Ling'Er dengan wajah polosnya.
Sementara itu Zitan hanya mendengus kesal. Lalu berpura-pura agar suara tadi bisa tersamarkan dengan cara bertepuk tangan.
"Aku tadi menepuk tangan! Tanganku terlalu kotor!" ucap Zitan sambil tersenyum.
......................
...Beberapa saat kemudian....
Kini Qinli dan yang lainnya sudah menaiki kapal Paus Lingyun dan bersiap meninggalkan tempat itu. Dari kejauhan terlihat seorang pemuda yang sedang mengamati kepergian Qinli.
"Ternyata wanita itu adalah orang yang selama ini aku cari ...."
Dari arah belakang tampak beberapa prajurit menemuinya. "Tetua!"
"Karena sudah menemukannya, bagaimana kalau ...."
Dengan sangat tenang, lelaki yang dipanggil ketua itu menjawab pertanyaan dari prajuritnya.
__ADS_1
"Tidak perlu buru-buru, aku masih memerlukan mereka untuk mengambil sesuatu di lembah dewa obat ...."