
Sementara itu di villa, Jiangjun sedang giat berlatih. Ia begitu tekun mengikuti setiap gerakan yang tertulis di buku itu.
"Buku seni bela diri yang diberikan Qin, apakah benar gerakannya seperti ini? Kenapa aku merasa posturnya aneh?"
"Jurus ini gerakannya seperti ini?"
"Atau begini?"
"Sepertinya harus bertanya pada Qin, tapi ...." Jiangjun memejamkan matanya.
"Ini sudah tujuh delapan jam, kenapa masih belum ada pergerakan sama sekali dari Qin?"
Jiangjun memandang ke arah kamar Qinli yang masih tampak sepi.
Ternyata di dalam kamar Qinli sedang memulihkan kekuatan dan meridian miliknya.
"Orang itu jelas-jelas ingin membunuhku, kenapa akhirnya dia malah mengalirkan kekuatan padaku ...."
"Apa sebenarnya tujuan dia?"
"Tapi jika tidak bisa melatih energi spiritual ini, takutnya aku tidak ada kesempatan mengetahuiku jawaban ini."
Tiba-tiba dari arah pintu muncul dua adik Jiangjun yang datang ke Villa itu. Jiangjun pun menoleh.
"Adik ipar, apa yang kalian lakukan?"
"Semalam, para dokter itu tidak menemukan masalah yang ada di tubuh Qinli, tapi aku masih sangat khawatir, jadi membeli ini semua untuk persiapan."
"Adik ipar sangat memperhatikan hal ini."
"Apakah ada yang terjadi pada Qinli ketika kami keluar?"
"Aku terus memperhatikannya tapi sama sekali tidak ada pergerakan."
...BUZZ ... BUZZ ... BOOM .......
Dari kamar Qinli terlihat ada kilatan cahaya merah dari sana.
"A-apa yang terjadi? gempa bumi?" tanya Jiangjun pada kedua adik iparnya.
"Sepertinya itu berasal dari kamar Qinli," ucap Jiangjun panik.
__ADS_1
Karena panik, adik ipar Jianjun lari menuju kamar Qinli.
"Qinli! Kau tidak apa-apa 'kan?" ucap adik ipar Jiangjun ketika berhasil membuka paksa kamar Qinli.
Kemudian di belakangnya ada Jiangjun dan Liang Qing yang menyusulnya di belakang.
Padahal Qinli baru selesai melakukan penyembuhan pada dirinya sendiri.
"Iya, aku baik-baik saja, tapi kenapa kau tiba-tiba datang ke Shangjing?" ucap Qinli sambil menoleh.
"Eh ...."
"Kalau bukan karena Liang Qing yang menelponku ... obat salep kita laris manis di Shangjing, awalnya berencana ke Shangjing beberapa hari lagi untuk memberimu kejutan."
Tiba-tiba Jiangjun menyela, "Qin, karena kau ...."
Tiba-tiba Nona Liang menyeret Jiangjun keluar dari kamar Qinli.
"Anjing lajang selama sepuluh ribu tahun tidak akan mengerti keadaan," gumam Lian Qing pada Jiangjun.
"Eh, apa yang kau lakukan Nona Liang?"
Sementara itu, Qingyin marah karena kehadirannya tidak diharapkan Qinli.
"Ternyata kau telah melakukan banyak hal berbahaya di belakangku!"
"Sepertinya kau sama sekali tidak memikirkanku 'kan?"
"Qingyin, aku bukan ...."
Tiba-tiba Qinli merasakan tidak nyaman pada jantungnya, lalu ia pun muntah darah saat itu juga.
Qingyin panik dan menoleh pada suaminya.
"Qinli! Kau kenapa! Mana yang tidak enak badan?" tanya Qingyin khawatir.
"Qingyin, jangan panik. aku periksa diriku sendiri dulu."
"Baik."
Qinli memegang dadanya, "Ternyata energi spiritual yang dilatih barusan belum sempurna."
__ADS_1
"Jika ingin benar-benar ingin menggabungkan kekuatan itu, masih perlu mencari harta karun yang pernah dibicarakan oleh pria tua itu."
"Tidak apa-apa, ini normal, sepertinya aku latihan terlalu keras."
"Mengagetkanku saja, aku pikir aku membuatmu kesal."
Qingyin pun bergelayut manja di dada Qinli. Lalu Qingyin mulai menanyakan sesuatu.
"Ngomong-ngomong, kau membiarkan Tuan Muda Jiang masuk ke ambang seni bela diri, apakah aku juga bisa berlatih?"
"Kau juga ingin berlatih?" tanya Qinli penasaran?"
"Aku ini istrimu, juga berharap suatu hari bisa berdiri di sisimu."
"Sejak waktu itu, aku sudah memutuskan hidupku ini punyamu," ucap Qingyin malu-malu.
"Baiklah karena kau sudah memikirkannya dengan matang, kalau begitu, ayo kita coba."
Beberapa waktu kemudian, Qingyin sudah tertidur Kini Qinli keluar dari kamarnya. Ia pun turun ke lantai bawah. Qinli melihat Liang Qing belum tertidur.
"Liang Qing, kau belum tidur?"
"Aku baru saja pergi ke tempat Duan Shaofeng, setelah bertukar informasi dengannya, bisa disimpulkan mungkin masalah M119 waktu itu tidak segampang yang dipikirkan."
"Dimata militer, kalian sudah menjadi prajurit yang "Mulia" lebih baik jangan terlalu keluar di kota Shangjing."
"Baik, Bos."
"Terima kasih atas perhatian, Bos."
Lalu Qinli mulai melangkahkan kaki keluar.
"Bos, kau mau keluar?"
"Iya, mengenai pria tua kemarin, aku harus pergi ke suatu tempat untuk melihat."
"Kalau begitu, aku ikut bersamamu."
"Tidak perlu, aku punya rencana untuk masalah ini."
"Masalahku ada hubungannya dengan mereka aku tidak, harus diselidiki dulu baru tahu."
__ADS_1
🌹Bersambung🌹