
"Maka dari itu kita harus mendapatkan jantung hewan spiritual, membantunya merombak nadi spiritualnya untuk menyelamatkannya."
Nona Xu seperti mengingat sesuatu.
"Dulu, organisasi kami pernah bertemu monster serupa seperti yang kau katakan, di pegunungan Lianshan tidak jauh dari Shangjing."
Lalu Nona Xu memperlihatkan sesuatu pada Qinli, "Lihat ini!"
Qinli terperangah.
"Ini ... sepertinya ular berkepala tiga!" ucapnya terkejut.
"Sayangnya tim yang diutus oleh organisasi kami kalah dalam pertempuran dan dengar-dengar kekuatan ular ini setidaknya sama seperti prajurit level tujuh!" ucap Nona Xu menghela nafas.
"Kekuatan parjurit level tujuh ...." seru Qinli.
Lalu Qinli bergegas meninggalkan Rumah Sakit sambil berpesan pada Nona Xu.
"Kalian jaga dia baik-baik, aku akan pergi ke pegunungan Lianshan untuk mencari ular itu."
Sementara itu Kapten Xu melihat adiknya yang terbaring lemah.
"Kalian harus membuat Tuan Muda Xu bertahan!"
.
.
...⚜⚜⚜...
...Pegunungan Lianshan...
Hari itu juga, Qinli pergi bersama Jiangjun pergi bersama menuju Pegunungan Lianshan.
"Nona Xu bilang ular berkepala tiga ini sudah menetap bertahun-tahun di sini dan selalu ada prajurit yang datang untuk memburunya. Tapi tidak pernah berhasil."
"Tapi hari ini berbeda, tidak hanya kita yang datang ke sini, aku mendapatkan kabar bahwa Keluarga Wei juga mengincar ular ini!" ucap Jiangjun.
"Tidak peduli saingan kita siapa, bagaimanapun jantung ular ini harus kita dapatkan!" ucap Qinli bersemangat.
Tiba-tiba terdengar suara raungan yang amat keras dari depan mereka.
...ROARRR!!...
"Suara raungan yang begitu keras!" ucap Jiangjun.
"Suara itu sepertinya ada di depan kita!"
"Cepat!" seru Qinli sambil berlari ke arah sumber suara.
"Astaga!"
Ternyata di depan mereka ada beberapa prajurit yang sedang melawan ular tersebut. Dengan mulut yang terbuka lebar, salah satu kepala ular itu siap menelan salah seorang prajurit. Benar saja sesaat sebelum prajurit itu berteriak, ular itu sudah mengoyak tubuhnya.
__ADS_1
Kekuatan ular itu sangat luar biasa, hingga membuat para prajurit yang berjumlah belasan itu lari kalang kabut.
"Bagaimana bisa seperti ini? Jurus kita sama sekali tidak mampu melukainya!" teriak mereka sembari berlari menjauh.
"Cepat kabur! Kita sama sekali bukan lawannya! Kalau tidak kabur, kita semua akan mati di sini!"
Di saat mereka kabur, datanglah seorang kakek dan wanita yang mendekati ular tersebut.
Sambil mengarahkan pedangnya ke arah ular tersebut ia menyebutkan namanya.
"Aku adalah Wei Jingluan, prajurit dari Keluarga Wei!"
"Hari ini datang untuk membunuh binatang iblis ini. Orang luar, orang luar segera minggir!" teriaknya.
"Pedang Zhanlu! bantu aku kalahkan dia!"
...BAM!...
"Bagus sekali! Prajurit Keluarga Wei datang, nyawa kita tertolong!"
"Tidak heran mereka adalah salah satu dari empat keluarga besar, serangannya luar biasa! Ular berkepala tiga ini pasti mati!"
...SSSHHH!!...
Ular berkepala tiga itu menggeliat, kepalanya bergerak ke sana ke mari, kali ini ia benar-benar sangat marah. Terlihat dari gerakannya ular ini berada diatas prajurit level tujuh.
"Gawat! Ular ini benar-benar marah!" ujar Jiangjun.
Laki-laki tua itu berteriak pada majikannya untuk pergi.
"Nona besar, binatang iblis ini sudah terpancing emosinya, aku sarankan lebih baik kau berhati-hati dan bersembunyi!" teriaknya sambil mengarahkan pedang pada kepala ular tersebut.
Nona muda itu dengan santainya duduk di atas batu sambil melihat pertunjukan di depannya. Dia adalah Wei Nuannuan.
"Tenang saja, aku datang hari ini hanya untuk melihat rupa binatang spiritual seperti apa, tidak akan menghambatmu. Lebih baik kau perhatikan keselamatanmu," ucapnya sambil tersenyum.
Tak ada raut ketakutan sama sekali dari gadis cantik itu. Sementara itu lelaki tua itu sangat yakin akan kemampuan yang dimilikinya.
"Dengan adanya pedang Zhanlu ini, bahkan jika binatang ini adalah seorang master, aku juga tidak takut!"
"Jika tidak ingin berlumuran darah dibuatnya, maka cepatlah pergi!" teriaknya sekali lagi.
"Binatang iblis, matilah!" ucapnya sambil meloncat ke arah kepala ular.
Ia pun berusaha untuk menghunuskan pedang itu ke arah leher ular. Bertepatan dengan itu, si ular berkepala tiga juga menyerang lelaki tua itu menggunakan sisiknya.
Sebuah sisik berbentuk belah ketupat menyerupai berlian diamond berwarna ungu menyerang tepat mengenai dada lelaki tua itu. Menghunus tajam ke arah bawah, merobek apapun yang dikenai-nya.
...SYUH ... JLEB ... DUARR .......
Lelaki tua itu terjatuh ke atas tanah dengan begitu kuatnya, belum lagi dadanya yang terluka akibat sisik ular.
Dari kejauhan, Jiangjun mengomentari hal itu pada Qinli.
__ADS_1
"Orang-orang bilang sisik ular berkepala tiga ini adalah harta paling istimewa, lebih keras dari baja dan sangat terkenal," ujar Jiangjun.
"IQ ular ini ribuan tahun yang lalu bisa dibilang sebanding dengan manusia, si kakek itu terlalu menganggap enteng!" ucap Qinli.
Sementara itu para prajurit yang hendak lari tadi kembali dan sibuk memunguti sisik ular yang sudah berjatuhan tadi. Mereka tampak senang mendapatkan hal tersebut.
"Kita ke sini demi sisik ular ini! Kali ini kita untung besar, ayo cepat pergi!" ucap salah seorang prajurit yang sudah menggendong salah satu sisik itu.
"Aku kira si lelaki tua itu sangat hebat! Kelihatannya dia hanyalah orang tak berguna!"
Lelaki tua itu bangkit lalu menoleh ke arah orang-orang itu, "Kalian!"
Lelaki tua itu kaget karena tiba-tiba kepala ular itu mendekatinya, lalu ia berpura-pura meminta pertolongan.
"Nona besar! Aku tidak bisa melawannya lagi, ce ... cepat bantu aku!" teriaknya meminta pertolongan.
Karena iba, Wei Nuannuan mendekati lelaki tua itu hendak menolongnya.
"Cepat bangun!" ucapnya sambil menggoyangkan tubuh lelaki tua itu.
"Maaf nona besar!"
Lelaki tua itu menyeringai, memegang lengan Wei Nuannuan lalu melemparkannya ke arah ular berkepala tiga itu.
"Jadilah makanan ular berkepala tiga ini!" ucapnya sambil melempar tubuh Wei Nuannuan.
BRUK!
"Aduh ...." teriaknya kesakitan.
Sementara lelaki tua itu berlari menjauhinya. Saat itu pula si ular berkepala tiga hanya diam sambil memandangi gadis di depannya itu.
Lalu dengan cepat kepala ular-ular itu mulai bersiap menyerangnya. Tentu saja Wei Nuannuan berteriak ketakutan.
"Aaaa ...." ucapnya sambil memegang kepalanya.
Tiba-tiba Qinli datang dan berhasil menebas salah satu kepala ular itu. Begitu pula dengan serangan yang dilakukan olehnya kembali.
...SRET ... SRET ... BUGH .......
Kepala-kepala ular itu kini berjatuhan ke tanah. Sedangkan Wei Nuannuan tampak terpukau akan kekuatan dan kelihaian Qinli barusan.
"U ... Ular berkepala tiga itu putus hanya dengan dua tebasan?" ucapnya kaget.
Lalu Qinli pun turun dari udara setelah berhasil menaklukkan ular berkepala tiga itu.
"Be ... begitu mudahnya?" ucap Qinli sambil melihat potongan-potongan kepala ular yang berjatuhan itu.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1