MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 190


__ADS_3

Merasa setelah ini lawannya akan semakin sulit, Qinli memutuskan untuk segera bermeditasi. Sementara itu Nona Ling'Er ingin segera bertemu dengan Qinli.


"Kenapa guru sangat terburu-buru untuk pergi meditasi tertutup?"


Nona Ling'Er lebih memilih untuk duduk sendirian di taman dengan memangku kedua tangannya di atas meja. Beberapa saat kemudian terdengar panggilan dari Tetua Xia dan Nona Mo Yao.


"Ling'Er?"


Nona Ling'Er menoleh ke arah sumber suara, "Kak Xia! Kak Mo!"


Merasa gemas akan tingkah laku Nona Ling'Er, Tetua Xia menghadiahi kepala Ling'Er dengan sebuah jitakan.


"Dasar tidak sopan, panggil pemimpin!" ucap Tetua Xia.


Tidak terima dengan jitakan manis dari Tetua Xia, Nona Ling'Er membela diri.


"Aku adalah murid pribadi Pemimpin Qin! Bisa jadi aku yang akan menjadi pemimpin berikutnya dan statusku akan lebih tinggi dari kalian!"


Tetua Xia mendekatkan wajahnya ke arah Nona Ling'Er.


"Baiklah. Baiklah. Kenapa Pemimpin Lin terlihat murung?" tanya Tetua Xia sambil mengusap lembut kepala Nona Ling'Er.


"Guru tiba-tiba pulang dan langsung pergi meditasi tertutup, aku khawatir padanya."


Nona Mo Yao yang tadi diam, kini ikut mendekat dan menghibur Nona Ling'Er.


"Tenang saja! Gurumu adalah petarung terbaik di bumi."


Saat mendengar kata bumi, Nona Ling'Er menjadi kepo dan ingin tahu lebih banyak tentang bumi. Ia pun segera menanyakan hal itu padanya.


"Oh iya, Kak Mo, bisakah kau menceritakan padaku mengenai bumi?"


Tiga hari kemudian.


Hari berlalu begitu cepat, kini ketiga wanita itu sedang asyik bermain kartu di sebuah taman.


"KING BOMB! PAIR OF THREE!" teriak Nona Ling'Er sambil menggebrak meja.


Nona Mo Yao juga ikut berteriak, "PASS!"


"Yeay! Aku menang lagi!" teriak Nona Ling'Er bahagia.


Ternyata ketiganya sedang bermain kartu untuk mengusir rasa jenuh mereka di dalam Sekte. Namun, ternyata memang itu tujuan Tetua Xia. Setidaknya pikiran Nona Ling'Er akan teralihkan untuk beberapa waktu.

__ADS_1


Nona Ling'Er bersorak karena ia telah beberapa kali memenangkan permainan kartu mereka. Terlihat ia sangat bahagia. Tetua Xia yang melihat hal itu pun tersenyum.


"Sepertinya dia benar-benar sudah lupa tentang gurunya ...." gumam Tetua Xia.


Benar saja, sesaat kemudian, Nona Ling'Er mengajak mereka bermain kartu untuk kesekian kalinya.


"Ayo kita main lagi! Permainan LANDLORD ini sangat mengasyikkan!" serunya sambil memegang satu pack kartu.


"Aih!" seru Tetua Xia dan Nona Mo Yao hampir bersamaan.


Akhirnya dengan sangat terpaksa mereka kembali bermain. Hingga Nona Ling'Er kembali memenangkan permainan tersebut.


"Kartuku masih tersisa dua, bagaimana?" seru Nona Ling'Er sambil melirik dengan sorot mata meremehkan.


"Aku pasti menang!" teriak Nona Mo Yao sambil melempar kartu terakhirnya ke atas meja.


"KING BOMB!" ucap Nona Ling'Er sambil melempar kartu terakhirnya.


Pada saat yang bersamaan terdengar sebuah ledakan dari luar sekte. Ketiganya langsung mengalihkan perhatiannya ke arah kepulan asap hitam yang membubung tinggi.


"Uhuk ... uhuk ...."


Ternyata ledakan itu berasal dari tempat meditasi Qinli. Saat ini rumah yang ia pakai meledak hingga kepulan asap hitam tidak juga menghilang.


Betapa terkejutnya mereka melihat kejadian itu.


Namun, sesaat kemudian Nona Ling'Er malah mentertawakan ulah Qinli yang sedang menenteng sebuah benda mirip Magicom di salah satu tangannya. Nona Ling'Er memang apa adanya hingga tanpa basa basi ia langsung menanyakan apa yang sedang dilakukan oleh Qinli.


"Guru, kau sedang berlatih apa? Apakah jurus iblis hitam?"


"Iya, apakah kau mau berlatih bersamaku?" tanya Qinli dengan sorot mata menyala.


Kondisinya sangat mengenaskan karena tubuh Qinli menghitam karena gosong, belum lagi rumah yang hancur di belakangnya semakin membuat aneh suasana saat itu.


"Ha ha ha ... tidak, tidak!" ucap Nona Ling'Er sambil tersenyum.


Sesaat kemudian, Qinli membuka penutup benda yang ia gunakan untuk membuat pil. Hasilnya ternyata gosong semua.


"Kenapa bisa seperti ini? apakah karena tadi Ling'Er ...."


Buru-buru Nona Mo Yao dan Tetua Xia memandang aneh ke arah Nona Ling'Er, yang tentu saja membuat ia justru ketakutan.


"Tidak ada hubungannya denganku ... aku hanya berteriak "KING BOMB!" Ucap Nona Ling'Er sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.

__ADS_1


Qinli pun ikut-ikutan memandang aneh ke arah Nona Ling'Er.


"Apakah ini benar-benar kebetulan?"


"Tidak ... persepsi luar biasa gadis itu tidak mungkin hanya kebetulan belaka!" gumam Qinli.


Merasa jenuh dengan keadaan ini, Qinli pun segera melempar dan membuang tungku yang barusan ia gunakan ke dalam tumpukan bangunan rumah yang hancur tadi.


"Aih ... tungku peracik pil otomatisku ini hancur!"


Nona Ling'Er yang suka mengumpulkan barang-barang antik segera mengintip ke arah pembuangan tungku pil peracik otomatis yang baru diucapkan oleh Qinli.


"Apa katamu? Tungku peracik pil otomatis?" tanya Nona Ling'Er penasaran.


Qinli menoleh, "Benar, kenapa?"


Sayangnya saat Qinli menoleh Nona Ling'Er sudah tidak berada di hadapannya, entah sejak kapan Nona Ling'Er berpindah tempat Qinlu tidak menyadarinya.


Ternyata, Nona Ling'Er menghampiri tempat pembuangan tungku peracik otomatis pil tadi. Ia duduk berjongkok sambil meratapi benda itu.


"Sayang sekali, tungku peracik pil yang begitu bagus ...."


Nona Ling'Er terlihat begitu meratapi tungku yang rusak tadi. Dari kejauhan Qinli mengatakan sebuah hal yang lebih membuat Nona Ling'Er bahagia.


"Aku masih punya tungku peracik pil yang lebih bagus lagi."


"Sungguh?" tanya Nona Ling'Er menoleh ke arah Qinli.


"Sungguh!" ucap Qinli mantap.


Ternyata apa yang dikatakan olehnya benar. Saat ini Qinli sedang memainkan panci presto keluaran terbaru yang dianggap sebagai tungku peracik pil. Dengan penuh semangat empat lima, Qinli memperkenalkan tungku peracik pil terbaru miliknya.


"Tungku peracik pil level sembilan ini bisa digunakan pada kondisi apa pun. Ia bisa mengunci sebagian besar kekuatan obat dan energi spiritual yang keluar selama proses pembuatan pil di dalam tungku sehingga kekuatan obat herbal spiritual tidak akan mubadzir. Selain itu, kecepatan pembuatannya juga sangat cepat ...." terang Qinli kepada semuanya.


"Bukankah lebih gampang meledak kalau terlalu banyak kekuatan yang terkumpul di dalam tungku?" tanya Nona Ling'Er pada Qinli.


Dengan wajah tegas dan mantap Qinli menjawab, "Tidak akan!"


"Ada katup pelepasan energi spiritual di atas tungku ini. Ketika energi yang terkumpul sudah mencapai batasnya. Katub ini bisa otomatis terbuka untuk melepaskan kelebihan energi agar tidak meledak dan menghancurkan tungkunya. Selain itu, juga bisa mengeluarkan suara untuk mengingatkan si peracik ...."


"Oh ...."


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2