
Merasa tersakiti apalagi sampai membuat wajahnya yang cantik berubah menjadi buruk rupa membuat kesatria waria itu marah dan meluapkan segala kemarahannya dengan menyerang kembali Qinli. Kesatria itu mengangkat salah satu tangannya ke atas sambil membaca mantra.
"Membuat tinta dengan darah ... membuat busur dengan tinta ...."
Lalu muncullah sebuah busur beserta anak panahnya yang terbuat dari tinta yang dilapisi dengan api berwarna kemerahan yang ia arahkan tepat ke arah Qinli dan kawan-kawannya.
"PANAH MERENGGUT JIWA"
Anak panah itu melesat dengan sangat cepat ke arah Qinli. Akan tetapi ia bisa menghalau serangan dari kesatria waria tersebut dengan kekuatannya. Qinli menengadahkan tangannya ke atas untuk menghalangi serangan dari anak panah tersebut.
"Pembatas alam miliknya bahkan dihancurkan oleh anak panah dari darah ini," ucap Qinli.
"Serangannya sangat cepat!"
"Serangan yang begitu kuat. Sepertinya sebentar lagi akan menembus pertahananku!"
Melihat betapa dahsyatnya serangan itu membuat Qinli harus tetap siaga, begitu pula dengan Qingyin yang berada di sampingnya.
"Ini ...." gumam Qinli.
"Ini ...." gumam Qingyin.
Wajah keduanya penuh ekspresi keterkejutan dan sikap waspada.
"Heh! Aku sudah berbaik hati membiarkan kalian mati dengan cepat! Tetapi amarahku belum reda, aku akan melampiaskannya kepada teman baik dan murid-murid kalian!" gertak ksatria waria itu.
Beberapa saat kemudian, terdengar sebuah ledakan tidak terduga.
..."DHUAR!"...
"Bos! Kakak ipar!"
Terlihat di kejauhan sana dua elemen yang berlawanan sedang menyatu satu sama lain.
"Kekuatan dari dua atribut yang berlawanan sedang menyatu ... ini ...."
__ADS_1
Terlihat di atas sana ada elemen salju dan api berputar-putar.
"Domain vitalitas!"
Sesaat kemudian, Qinli mengacungkan pedangnya ke atas. Mencoba menghalau serangan yang ditujukan kepadanya hingga berhasil membuat kesatria waria itu semakin marah.
"Dia mengacaukan kekuatan ruangku!"
Tanpa membuang waktu lebih lama, kini Qinli mulai mengeluarkan jurusnya.
..."PEDANG PEMBUNUH ABADI!"...
..."HANCURKAN LANGIT!"...
Beberapa saat kemudian, ksatria waria itu terbelah.
"Bisa-bisanya ... aku mati di tangan prajurit alam hidup dan mati ...."
Beberapa saat kemudian kesatria waria itu benar-benar terbelah dan meninggal. Sementara itu tubuh Qingyin melemah, hingga membuat Qinli harus menopang tubuh Qingyin.
"Tidak disangka kekuatan spiritual dan kekuatan atributku bisa menyatu dengan kekuatan Qingyin ... domain vitalitas."
"Apakah kau masi punya energi untuk melawanku?" ucap seorang utusan dari Keluarga Lei.
Tanpa sebuah ketakutan, Qinli justru bersikap sangat tenang. "Kau akan tahu setelah kau mencobanya."
Beberapa saat berlalu, tubuh Qingyin sudah baikan. Bahkan kini ia pun berdiri tepat di samping Qinli.
"Tetua Yang, Si Putih, bawa yang lain keluar dari tempat ini dulu aku dan Qin Li akan menghalanginya!" ucap Qingyin mulai mengeluarkan jurus salju miliknya.
Utusan dari Keluarga Lei itu nampak melihat ke arah Qingyin.
"Kekuatan jiwa yang sangat kuat! Kau jauh lebih kuat daripada wanita yang bernama Zitan itu."
"Kau yang menculik Zitan!" ucap Qingyin penuh amarah.
__ADS_1
Dengan kekuatan tenaga dalam yang Qinli miliki ia bisa memastikan jika utusan Keluarga Lei itu sedang mengincar Dewi di dalam tubuh Qingyin.
"Targetnya adalah kekuatan jiwa? Sepertinya ada hubunganya dengan wanita yang ada di dalam tubuh Qingyin," gumam Qinli.
"Sekarang aku sangat senang, jadi aku akan melepaskan yang lainnya pergi. Setelah aku membunuh Qinli aku akan membawamu menemui Zitan."
Saat Qinli dan Qingyin ingin menyerang utusan dari Keluarga Lei tersebut, rupanya ia lebih dulu menyerang mereka.
"Masih ingin menggabungkan kekuatan? Aku bukan seperti si waria itu!"
Saat tubuh Qingyin terhempas ia sempat bisa merasakan kekuatan dari utusan Keluarga Lei itu. "Cepat sekali ini adalah kekuatan ruang."
Benar saja, hanya sesaat utusan Keluarga Lei itu mengeluarkan jurus andalannya.
..."GUNTUR PENGUNCI TEKANAN JIWA!"...
Tubuh Qingyin benar-benar tidak berdaya. Kini utusan Keluarga Lei itu bahkan menyegel kekuatan Qingyin.
"Kalau kau berada di masa jayamu, aku mungkin tidak akan sanggup menyagelmu. Diamlah di sini dan lihat bagaimana aku akan menghabisi suamimu!"
...BANG!...
"Aku tidak bisa bergerak ... kekuatan spiritualku juga tidak dapat mengalir!"
"Qingyin!" teriak Qinli sambil mengarahkan pukulan itu pada utusan Keluarga Lei.
"Sudah kubilang ...."
"Kekuatan kalian sudah habis!"
Rupanya, Qinli pun justru terluka oleh serangan utusan dari Keluarga Lei itu. Dari mulutnya ia mengeluarkan banyak darah. Qinli pun menyadari jika ia harus bertindak cepat.
"Kekuatan spiritualku sudah tidak banyak tersisa ... aku harus mengakhiri pertarungan ini segera mungkin!" gumam Qinli sambil memegangi dadanya.
Qinli mulai mengangkat kotak pagoda miliknya yang merupakan salah satu jurus andalannya.
__ADS_1
"Aku harus memusatkan sisa kekuatanku pada kecepatan dan menghabisinya dalam satu kali pukulan!"
...SWOOSH!...