
Dari kejauhan terlihat kamar yang dipakai Qinli sangat bercahaya. Sedangkan di dalam kamar ia masih melatih berdirinya.
"Berkumpul!"
Hampir semua energi baik di sekitarnya telah Qinli serap menggunakan kedua tangannya.
"Energi spiritual di dalam tubuhku meningkat lagi! Jurus ini sangat hebat!" ucap Qinli bahagia.
Lalu tiba-tina dari arah luar kamarnya, terdengar sebuah suara yang memanggil Qinli.
"Qinli, tunjukkan dirimu dan bersiaplah untuk mati!"
Qinli menoleh ke arah jendela dan melihat seorang lelaki tua sedang melayang dan melihat ke arah Qinli.
"Siapa kau!" teriak Qinli.
"Bocah! Cepat bertekuk lutut, meminta ampun dan hancurkan kultivasimu sendiri, dengan begitu, aku akan mengampuni nyawamu!"
"Kakek, apa kau tidak tahu berbicara keras di tengah malam itu tidak sopan!" seru Qinli.
"Kalau begitu, aku tidak akan berbelas kasihan lagi padamu lagi!"
Kakek tua itu segera menghampiri Qinli dengan menghunuskan pedangnya. Sementara Qinli juga melakukan hal yang sama. Ia sudah keluar dari kamar hotel melayang membawa Pedang Zhanlu di tangan kanannya.
"Bocah, matilah!"
"Ayo maju!" seru Qinli.
...KLANG ... KLANG ... KLANG .......
Suara nyaring pertemuan dari kedua pedang itu berdentum dengan kerasnya. Pertarungan sengit antara kedua master itu benar-benar sangat hebat. Beruntung pertarungan itu terjadi di luar hotel atau lebih tepatnya di angkasa, sehingga tak mengganggu ataupun merusak bangunan di sekelilingnya.
Tapi pertarungan hebat itu membuat mereka bertarung sampai pagi. Hingga sebuah ledakan yang sangat besar terdengar memekakkan telinga. Sebuah ledakan yang menandai berakhirnya pertarungan hebat antara dua master tersebut.
...BOOM!...
🍃Pagi harinya.
Dengan tertatih, Qinli sedang berusaha kembali ke kamarnya, kondisi seluruh tubuh Qinli saat ini terlihat penuh luka. Beberapa sayatan di tubuh Qinli, menandakan jika lawannya semalam bukan musuh kaleng-kaleng. Darah segar masih mengucur dari celah-celah tubuh yang tergores itu. Tetapi beruntung, Qinli selamat.
"Tidak disangka kekuatan lelaki tua itu sudah mencapai level yang begitu tinggi," gumamnya sambil membuka akses pintu masuk kamar hotelnya.
"Kalau bukan karena kebetulan aku menyelesaikan bab dua Metode Tatanan Pikiran Surga, ditambah kekuatan pedang Zhanlu ...."
"Aku pasti sudah mati!"
(Tetapi kenyataannya, kakek tua yang melawan Qinli semalam, kini sudah mati mengenaskan. Di dadanya menancap sebuah pedang miliknya sendiri dan tubuhnya tersangkut di atap sebuah gedung tinggi. Mulutnya terbuka, dan disampingnya banyak sekali reruntuhan bangunan.)
"Aku juga tidak tahu dari mana Master itu berasal, sepertinya aku harus bergegas melanjutkan pelatihanku, jika tidak ...."
Saat Qinli membuka pintu kamarnya, ia begitu kaget ketika mendengar seorang wanita memanggilnya mesra.
"Hi ...."
__ADS_1
Saat ini di depan Qinli ada seorang wanita berpakaian adat khas China, tapi sangat terbuka, bahkan belahan bajunya sampai pinggang dan berpose menantang di atas tempat tidurnya.
"Hallo Tuan Qin, Aku Liu Mulyan, Keluarga Liu dari Wilayah Tingkok Barat.
(Liu Mulyan, adalah pemimpin di Keluarga Liu, saat ini berada di level Master.)
"Salah satu empat Master Besar, Liu Mulyan! Kenapa dia datang mencariku di saat seperti ini?"
"Sepertinya Tuan Qin terluka parah. Kebetulan aku punya solusi untuk menyembuhkanmu, tidak tahu apakah Tuan Qin tertarik atau tidak?"
Lalu Qinli berjalan seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
"Oh? Kau punya solusi apa?"
"Ketika aku masuk tadi, aku tidak sadar ada dia di kamarku, sepertinya kekuataan yang dimilikinya itu ...."
Masih dengan pose yang sama, dan tidak berubah, Liu Mulyan menjelaskan maksud kedatangannya kemari.
"Karena Tuan Qin tertarik, aku akan langsung ke intinya."
"Keluarga Wei adalah yang paling kuat diantara empat keluarga besar, demi melawannya, Keluarga Liu sudah membentuk aliansi dengan Keluarga Fu."
"Aku datang kemari untuk mengundangmu bergabung dengan aliansi kami. Jika Tuan Qin setuju, aku bersedia menggunakan energi spiritualku untuk menyembuhkan lukamu dengan cepat."
"Aku akan menguji karakternya dulu!"
"Aku rasa kau salah paham. Saat ini aku sama sekali tidak punya keinginan untuk bergabung dengan organisasi mana pun," ucap Qinli sambil membuang muka.
"Selain itu, aku juga sudah bergabung dengan Geng Serigala Langit."
"Ternyata begitu. Namun, Tuan Qin telah membunuh Wu Tianshi dan memulai perang dengan Wei Kaiyuan di rapat besar pahlawan Keluarga Wei."
Liu Mulyan mulai merubah posisinya menjadi duduk.
"Setahuku, Wei Kaiyuan pasti tidak akan membiarkan hal ini begitu saja."
"Dia pasti akan mengumpulkan orang untuk membalasmu, dan kekuatan yang ada di belakang Keluarga Wei jauh lebih kuat dari yang kau bayangkan."
"Jika ada aku, Keluarga Liu yang menbantumu, aku yakin itu tidak akan merugikanmu."
Qinli mulai memikirkan penawaran dari Liu Mulyan.
"Yang dikatakannya benar. Selain itu, aku juga harus mencari tempat untuk menjauhi diriku dari masalah, agar tidak berlarut hingga ke Shangjing."
Dengan wajah tersenyum, Liu Mulyan memberikan sebuah undangan untuk Qinli.
"Minggu depan adalah ulang tahunku, Wei Kaiyuan pasti datang, entah Tuan Qin tertarik atau tidak untuk bermain sebuah permainan bersama kami di pesta nanti."
"Karena Nona Liu tulus mengundangku, akan kuterima undangan ini."
"Kalau begitu, sampai ketemu nanti."
Jiangjun yang baru saja melewati kamar Qinli terkejut.
__ADS_1
"Suara wanita? Dan sepertinya suara itu berasal dari kamar Kak Qin," batin Jiangjun.
"Aku pergi dulu, ya! Dadah!"
"Iya, dadah!"
"Wanita yang berada di kamar Qinli sekarang, tidak mungkin dia, 'kan?"
Jiangjun menoleh ke kamar Qinli. Lalu ia pun bersembunyi ketika mendengar wanita itu mau keluar dari kamar Qinli.
"Ngomong-ngomong ranjangmu ini sangat keras, aku sarankan Tuan Qin menggantinya dengan yang lebih empuk."
Saat itu Jiangjun masih mencuri dengar percakapan mereka dari balik tembok.
"Kalau dari nada suaranya, sepertinya dia melakukan itu dengan kemauannya sendiri ...."
Sambil membayangkan Qinli berhubungan badan dengan Wei Nuannuan, Jiangjun menangis dalam diam.
"Mimpiku hancur, huhu ...."
Tapi ternyata yang melewati Jiangjun barusan bukanlah Wei Nuannuan, kini hati Jiangjun kembali berseri.
"Bagus, tenyata bukan dia!"
Saat melihat ke dalam kamar Qinli, Jiangjun terkejut melihat keadaan Qinli yang penuh luka.
"Astaga!"
"Wanita itu bermain dengan sangat ganas!"
"Kalau sampai kakak ipar melihatmu seperti ini ketika kembali ke Shangjing nanti, bagaimana kau akan menjelaskannya?" tanya Jiangjun.
"Kita tidak kembali ke Shangjing dulu, nanti kita ke bandara dan bertemu dengan Nona Liu."
"Bos, bukankah kau sedikit keterlaluan, meninggalkan istrimu lalu pergi dengan wanita lain?" tanya Jiangjun.
Setelah menceritakan secara detail kepada Jiangjun ....
"Ternyata dia salah satu dari empat master, aku kira ...."
"Apa yang kau pikirkan?"
"Namun, kali ini kita membuat persiapan penuh. Sesampainya di Huadong, aku akan segera membuat pil obat baru."
"Kak Qin, pil hebat apa yang akan kau buat?" ucap Jiangjun dengan berbinar.
"Pil obat hanya sebagai tambahan, dan kulivasimu sekarang sudah mencapai batas, selanjutnya masih harus mengandalkan diri sendir."
"Aku mengerti!" ucap Jiangjun pasrah.
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...