
...BOOM...
Ledakan itu terlalu besar hingga membuat Nona Ling'Er dan prajurit wanita itu terpental jauh. Namun, Qinli dan rubah kecil telah menghilang dari pandangan.
...KRAK ... KRAK .......
Mengetahui jika Qinli menghilang, Nona Ling'Er berteriak memanggilnya.
"Guru ...."
Prajurit wanita itu menarik lengan Nona Ling'Er agar tidak lari, tetapi ia memberontak hingga terpaksa prajurit wanita itu mengingatkan pesan Qinli kepadanya.
"Lepaskan aku! Cepat selamatkan guru!" teriak Nona Ling'Er.
"Apa kau sudah lupa apa yang dikatakan oleh pemimpin? Ayo cepat pergi dari sini!" ajaknya pada Nona Ling'Er.
Satu jam kemudian ....
Kedua wanita itu saling menatap ke arah tempat yang mereka tinggalkan tadi. Terlihat jelas jika Nona Ling'Er sangat menghawatirkan Qinli.
"Jangan khawatir pemimpin pasti akan baik-baik saja! Ayo kita segera kembali dan mencari Tetua Xia dan yang lainnya, lihat apakah mereka punya cara untuk menyelamatkan pemimpin dari sini," ucap prajurit wanita itu.
Di dalam hati Nona Ling'Er ia masih merutuki dirinya sendiri.
"Mulut sialanku ini benar-benar sudah mengutuknya ...."
Di sisi lain, Qinli dan rubah kecil tersebut sedang melewati ruang waktu. Di bawah alam kesadaran Qinli, sosok laki-laki di dalam tubuh Qinli menegur sang rubah.
Di hadapan Qinli muncul sebuah timbangan emas, lalu lelaki itu mengatakan sesuatu karena ia terlihat sangat marah.
"Huh! Binatang sepertimu masih ingin kontrak yang setara?"
"Kau belum memenuhi syarat!" ucapnya dengan sorot mata tajam.
...BAM...
Sosok laki-laki yang berada di dalam tubuh Qinli mengeluarkan kekuatannya lalu membuat sebuah tanda antara Qinli dan sang rubah kecil.
Sebuah simbol teratai emas kini telah terlihat di dada Qinli dan di atas kening rubah kecil. Cahaya keemasan muncul di antara simbol yang satu dengan yang lain. Seolah-olah seperti terhubung dan terkoneksi satu sama lain.
Dari kening rubah tersebut menetes sebuah cahaya biru yang masuk ke dalam kening Qinli hingga membuatnya tersadar dan membuka mata.
"Aneh, kenapa aku merasa ada semacam koneksi dengan rubah kecil ini?" gumam Qinli.
Tiba-tiba saja gelombang air terus menggulung tubuh Qinli dan rubah kecil itu.
"Ada apa ini?"
Karena keadaan mendesak, tubuh Qinli dilindungi oleh kekuatan Armor miliknya.
"Aku sudah terlalu lama berada di dalam air ini dan tubuhku sepertinya tidak bisa bertahan."
Gelombang air itu terus menyerang tubuh Qinli.
"Armor spirit sudah tidak bisa menahannya lagi."
...KRAK...
__ADS_1
...BOOM...
Armor milik Qinli pecah dan ia pun kembali pingsan.
Beberapa saat kemudian.
"Ugh ... tubuhku ... sangat berat ...."
Qinli sudah kembali sadar, tetapi ia merasakan jika tubuhnya berat sekali, seolah ada benda yang berada di atas tubuhnya.
Saat membuka mata, dilihatnya langit yang cerah, berwarna biru dan banyak burung yang terbang di atas sana. Di sekelilingnya terdapat bongkahan batu yang menjulang tinggi ke angkasa menambah keindahan pemandangan alam yang tercipta.
Meskipun sedikit silau, Qinli menikmatinya sambil mengingat sesuatu.
"Aku ingat ada sesuatu yang mengalir masuk ke dalam tubuhku tadi."
Sesaat kemudian tercium aroma yang sangat wangi. Hal itu sungguh menganggu indera penciuman milik Qinli.
"Hm? Aroma apa ini? Wangi sekali?"
Kemudian Qinli melihat ke arah tubuhnya. Betapa terkejutnya ia saat menyadari ada seorang wanita yang menimpa tubuhnya. Saat ini wanita tersebut sedang pingsan di atas tubuhnya.
"Apa-apaan ini!" teriaknya.
Sayangnya wanita cantik itu sangat menikmati ketika ia tertidur pulas di atas tubuh kekar milik Qinli.
"Kenapa aku merasa sangat familiar dengan Nona ini? Di mana aku pernah bertemu dengannya?"
"Oh, iya ... di mana rubah kecil itu?"
Qinli yang tidak berani mengusik wanita itu hanya membiarkan dirinya tertidur lelap di atas tubuhnya. Ia memposisikan dirinya untuk duduk dan melihat ke sekelilingnya.
Lelah dengan keadaan itu, Qinli terpaksa membangunkan wanita itu. Ia pun menggelitik telinga wanita itu sambil memanggil namanya.
"Nona ... bangun Nona!"
Bukannya bangun wanita itu malah mengubah posisinya hingga secara tidak sengaja buah da-danya mengenai lengan Qinli yang sedang berusaha membangunkannya.
"Nona, kau~
"Ugh~sial!" umpat Qinli kesal.
Kejadian itu berhasil membuat wajah Qinli memerah, karena hal itu tentu saja membangkitkan sesuatu yang berada di dalam tubuhnya.
Nona itu bukannya bangun justru memeluk erat lengan Qinli dan mendekapnya seperti guling. Qinli berusaha keras untuk melepaskan tubuh wanita itu. Namun seberapa kuat Qinli berusaha hasilnya wanita itu semakin nyenyak tertidur.
"Tenaganya kuat sekali!" gumam Qinli.
"Eng ...."
"Nona, Nona cepat bangun!"
Akhirnya setelah sekian lama, wanita itu terganggu tidurnya. Ia mengusap keningnya lalu membuka matanya lebar-lebar. Saat itu ia langsung beradu pandang dengan Qinli.
Seketika pemikiran Nona tersebut mengatakan jika Qinli adalah lelaki hidung belang yang bersiap untuk melahapnya. Sontak saja ia langsung memukul wajah Qinli.
"Kya! Hidung belang!" teriaknya sambil menghadiahi Qinli sebuah bogem mentah.
__ADS_1
"Puft!"
Tubuh Qinli tersungkur beberapa meter akibat pukulan tinju dari wanita itu.
"Tinju ini ... setidaknya berkekuatan dua setengah ton," gumam Qinli.
...BANG!...
Dalam sekejap wanita itu langsung menutupi tubuhnya yang minim pakaian. Matanya memerah memancarkan aura kemarahan yang begitu besar disertai mulutnya yang terus mengumpat kepada Qinli.
"Dasar mesum! Beraninya kau melecehkanku!" teriaknya penuh amarah.
Qinli yang babak belur mencoba bangkit sambil menjelaskan semuanya.
"Kau salah paham ... aku hanya ingin ...."
Belum selesai Qinli mengatakan sesuatu Nona itu semakin marah-marah kepadanya.
"Masih saja berkelit!" teriaknya sambil mengarahkan satu pukulan ke arah Qinli.
"Ma-ti-lah!"
Saat tangan wanita itu sampai di kening Qinli, sebuah cahaya hijau muncul dari dada Qinli.
"Ada apa ini!" ucap wanita itu kebingungan.
Cahaya kehijauan yang muncul di dada Qinli seolah terkoneksi dengan tubuh wanita itu.
"Cahaya ini ... sepertinya terhubung dengan sesuatu ...." gumam Qinli.
"Tu ... Tuan ...." ucap wanita itu.
Tentu saja Qinli kebingungan karena ia memanggilnya Tuan.
"Dia ... memanggilku Tuan?" gumam Qinli.
Wanita itu sontak menutup mulutnya dan wajahnya menjadi memerah karena malu. Ia pun merutuki kebodohannya karena memakai Qinli.
"Kenapa aku tidak mengontrol kata-kataku?" ucap wanita itu sambil menahan malu.
"Apa yang barusan kau katakan?" tanya Qinli pada wanita di hadapannya.
"Aku ...."
Tiba-tiba saja terjadi getaran energi spiritual yang sangat hebat di dekat Qinli.
"Getaran energi spiritual yang begitu hebat!"
Qinli segera membuat tameng untuk dirinya sendiri dengan Armor miliknya.
"Apa ini?" tanya Qinli.
Wanita di hadapannya menjadi bercahaya lalu sesaat kemudian tubuhnya menjelma menjadi sosok rubah kecil yang bersama Qinli tadi.
CIT ... CIT ....
"Rubah kecil itu ...."
__ADS_1
BERSAMBUNG