MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 80


__ADS_3

Di sudut lain pemakaman, Nona Xu masih berhadapan dengan Wen Tiansheng. Meski lehernya masih di cekik oleh Wen Tiansheng, Nona Xu masih bisa bertahan.


"Jangan terlalu sombong, kami telah memanggil bala bantuan, sebentar lagi akan sampai ...." ucap Nona Xu dengan nafas tersengal.


"Sudah diambang kematianmu, masih saja tidak menyerah!" gertak Wen Tiansheng.


Dengan sombongnya Wen Tiansheng semakin menyiksa Nona Xu.


"Namun, sayangnya di saat mereka sampai, kalian sudah keburu mati, dan kami juga sudah keburu pergi! Hahaha!" ucap Wen Tiansheng dengan tertawa.


"Begitu ya!" ucap Ketua Wang yang tiba-tiba datang dari arah belakang.


Entah dari mana, Ketua Wang sudah sampai di belakang Wen Tiansheng. Tetapi hal itu tak membuatnya gentar.


"Kenapa? Apakah ketua Wang lupa bagaimana aku membunuh ayahmu waktu itu? Begitu terburu-burunya ingin mati!"


Tuan Muda Xu sangat bahagia melihat kedatangan Ketua Wang yang dianggapnya sebagai dewa penolong.


"Tidak disangka Ketua Wang adalah master setengah langkah, kali ini kita akan tertolong!" ucap Tuan Muda Xu kagum.


Tiba-tiba Ketua Wang menyerang Wen Tiansheng dari arah belakang.


"Matilah, Wen Tiansheng!" teriaknya.


Kali ini Ketua Wang menggunakan jurus telapak matahari. Tapi sayang, satu bogem mentah dari Wen Tiansheng mampu membuat Ketua Wang jatuh tersungkur. Jurus dari Ketua Wang sama sekali tidak ada apa-apanya di mata Wen Tiansheng.


"Arghhh ...."


"Jurus bagus tapi tidak berguna!" teriak Wen Tiansheng.


Wen Tiansheng datang mendekati Ketua Wang dan mengatakan sesuatu yang membuat Ketua Wang terkejut.


"Maaf, tidak memberi tahumu sebelumnya, sebenarnya aku juga berada di level master setengah langkah!"


"Apa!"


"Kau belum pernah bertarung di pertempuran sebenarnya, 'kan? Sekujur tubuhmu memar. Meskipun kau adalah master setengah langkah. Namun, kau tidak memiliki kekuatan tempur sama sekali!"


"Bagaimana mungkin! Aku tidak percaya!" ucapnya sambil membuka botol ajaibnya itu.


Tapi belum sempat Ketua Wang mengambil pil obat dari dalam botol tersebut. Tangannya sudah diinjak oleh Wen Tiansheng.


KRAK! ... Botol itu telah hancur.


"Ternyata masih mengandalkan obat untuk meningkatkan kekuatanmu?"


"Benar-benar sampah!" ucap Wen Tiansheng sambil menendang kepala Ketua Wang.


Wen Tiansheng sedikit membungkuk ke arah Ketua Wang.


"Oh iya, meskipun kau sengaja menyembunyikan identitasmu. Namun, Qingtang dari awal sudah tahu bahwa pengkhianat yang ada di dalam organisasi kalian adalah dirimu!" gertaknya.


Tapi entah kenapa Wen Tiansheng selalu tersenyum setiap waktu. Seakan-akan semuanya adalah tontonan menarik untuknya.


Tiba-tiba Tuan Muda Xu jatuh terjengkang, hingga membuat Nona Xu berteriak.


"Adik!"

__ADS_1


Ia pun menghampiri Tuan Muda Xu dengan berlari.


"Bajingan!" teriak Nona Xu sambil melihat Wen Tiansheng.


Tetapi hal itu malah membuatnya semakin tertawa keras.


"Hahaha! Ingin balas dendam, sayangnya Qinli sudah mati! Sekarang tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan kalian!"


Bahkan Jiangjun saja untuk saat ini ia masih pingsan sembari bersandar di sebuah nisan.


"Kau bilang siapa yang mati!" teriak seseorang dari langit.


Wen Tiansheng menoleh ke arah sumber suara itu. Giginya gemeretak menahan amarah.


"Kak Qin!" ucap Tuan Muda Xu tersenyum.


"Qinli!" teriak Nona Xu bahagia sambil memapah adiknya.


"Kenapa kau masih hidup? Apakah rencana pembunuhan mereka gagal?" teriak Wen Tiansheng tak percaya.


"Menurutmu?" ucap Qinli sambil tersenyum sinis.


Saat ini tubuh Qinli masih melayang dan belum menyentuh tanah sama sekali. Sedangkan Wen Tiansheng tak percaya akan penglihatannya kali ini, kenapa Qinli masih hidup? Padahal rekan satu profesinya itu tak pernah sekalipun gagal dalam misinya. Bodohnya saat ini ia juga terluka akibat serangan mendadak dari Qinli.


"Tidak disangka kekuatanmu sudah mencapai tahap ini, aku yang terlalu bodoh," gerutu Wen Tiansheng.


Saat ini ia pun sedang memulihkan luka menganga di dadanya akibat terkena pedang milik Qinli barusan.


"Kelihatannya aku masih perlu latihan mengunakan pedang Zhanlu ini, sekarang masih belum terlalu lancar!" ucap Qinli sambil menyeringai.


"Sayangnya kau sudah tidak punya kesempatan itu!"


WUSH ...


Karena Qinli belum siap ia pun sedikit terluka akibat pukulan Wen Tiansheng.


"Getaran yang begitu hebat! Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi!" teriak Qinli.


Satu tangan Qinli mengayunkan pedang Zhanlu kembali.


"Orang seperti dia mati pun tidak akan bisa menebus semua kesalahannya. Namun, ada banyak orang di sini. Tidak boleh menunjukkan kekuatanku sebenarnya," batin Qinli.


"Terlebih lagi, orang ini pasti tahu informasi tentang ayah dan ibu."


Wajah Qinli tersenyum dan kini siap menyerang kembali Wen Tiansheng mengunakan pedang Zhanlu kembali.


"Kuberikan hadiah besar untukmu!" teriak Qinli.


SWOSH ... SWOSH ... SWOSH ....


"Selesai!" ucap Qinli memasukan kembali pedang Zhanlu ke dalam sarunnya.


Sementara itu punggung Wen Tiansheng telah terukir beberapa sayatan indah hasil karya Qinli. Membuat Tuan Muda Xu dan Nona Xu tersenyum penuh arti.


"Kaligrafi yang bagus, Kak Qin! Tatto tulisan versi modern!" ucap Tuan Muda Xu.


Saat ini di punggung Wen Tiansheng memang tertulis sebuah ukiran luka "AIB BAGI MANUSIA"

__ADS_1


"Brengsek! Beraninya mempermainkanku!" ucap Wen Tiansheng penuh kemarahan.


Dengan memegang sebuah botol pil ia menggerutu di dalam hatinya.


"Tidak disangka bocah ini memblokir titik Fengmen, titik Jizhu, dan acupoint penting lainnya dalam waktu sesingkat itu. Sekarang hanya bisa meminum pil obat ini untuk menerobos acupoint ...."


"Lihat bagaimana aku akan menghabisimu!!!!!" ucapnya sambil menelan sebuah pil hijau.


Gratak! Bunyi gigi Wen Tiansheng terdengar sangat keras.


Qinli bisa merasakan jika energi Wen Tiansheng sedang dalam pemulihan.


"Kekuatannya sedang meningkat pesat, sepertinya


akan sulit melawannya!" batin Qinli.


Benar saja, kekuatan Wen Tiansheng meningkat tajam setelah meminum pil itu.


"Hehe, aku merasa luar biasa!"


"Kekuatannya melebihi master setengah langkah!" batin Qinli.


Belum sempat berhenti dari keterkejutannya, Wen Tiansheng sudah menyerang dari belakang.


"Tinju legenda guntur!" teriaknya.


...HIAT ... BAM!...


"Angin kencang dan ombak besar sudah pernah aku lewati, apa kau benar-benar berpikir bisa mengalahkanku," ucap Wen Tiansheng sambil meniup tangannya setelah menyerang Qinli.


Anggota Qingtang berteriak dari arah belakang.


"Bos sangat hebat!"


"Bos habisi dia! Akhiri pertempuran ini!"


Qinli memandangi Wen Tiansheng dari kejauhan.


"Tidak boleh ... aku harus memikirkan cara untuk menghabisinya cepat ...."


Wen Tiansheng mendatanginya.


"Aku kira sangat hebat, tidak disangka kemampuanmu hanya sebatas ini," ucap Wen Tiansheng meremehkan.


"Sepuluh tahun lalu ayahmu seperti anjing sekarat yang sedang memohon padaku, sama seperti situasi sekarang!"


"Apa katamu!" teriak Qinli tidak terima.


Sambil merentangkan tangannya, Wen Tiansheng tertawa lebar dan mengejek Qinli.


"Prajurit baru sepertimu masih ingin membalaskan dendam orangtuamu, hahahaha ...."


"Ternyata begitu, sepertinya kau hanyalah


sebuah budak dalam permainan catur!" ucap Qinli sambil merogoh saku miliknya.


Kira-kira apa yang sedang diambil Qinli dari dalam sakunya?

__ADS_1


.


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2