
"Sialan! Bisa-bisanya aku lengah dan melepaskan wanita ini!" ucap prajurit itu geram.
Pemimpin utusan Kuil Dewa Yin mencoba menenangkan prajurit tersebut. "Jangan panik! Aku sudah memperhitungkan langkah ini ...."
Qingyin sudah berdiri di depan suaminya. "Rasanya menyenangkan ya mengurungku tadi?"
Qinli tersenyum, "Sudah waktunya mengambil kembali!"
Prajurit itu sudah terbang ke arah Qinli dan Qingyin, tetapi pemimpin utusan Kuil Dewa Yin melarangnya. "Dua orang ini biar aku saja yang hadapi!"
Saat ia mulai maju, rupanya cincin penyimpanan yang dipegangnya terbang ke belakang. Sontak ia menoleh karena terkejut, "Ka-kau menghianatiku!"
Dalam sekejap cincin itu sudah berpindah di tangan pemimpin. Tampaknya ia suka sekali merebut barang yang bukan miliknya. Di sisi lain, Qinli sudah berhasil membuat prajurit itu mati.
Lelaki tua itu hanya tersenyum menyeringai. "He he he …."
Lalu tanpa menunggu waktu lebih lama lagi kini Qinli sudah menyerangnya hingga prajurit yang mencuri cincinnya kalah.
"Susah payah kau mendapatkan pil itu dan sekarang direbut begitu saja oleh mereka?" ucap Qingyin yang sudah berdiri di belakang Qinli.
Qinli menoleh sambil tersenyum, "Tidak perlu khawatir, aku memang sengaja memberinya ke mereka!"
Kini Qinli menatap sang istri, 'Tidak disangka Qingyin adalah Kaisar Surgawi itu ….'
__ADS_1
Qingyin memegang wajah suaminya dengan raut wajah cemas, "Suamiku! Kau tidak apa-apa, 'kan?"
Namun, Qinli masih berputar pada pemikirannya, 'Kalau Qingyin menggunakan kekuatan Kaisar Sugawi sepenuhnya, takutnya ….'
Sesaat kemudian, Qinli mencoba berpikir positif. Lalu setelahnya mulai tersenyum pada Qingyin.
"Aku baik-baik saja. Dia tidak bisa melukaiku."
"Aku benar-benar tidak berguna!" ucap Qingyin sedikit penyesal.
Dari arah belakang terlihat Tuan Muda Chu dengan langkah setengah berlari menghampiri mereka.
"Bos di Alam Dominasi saja bisa mengalahkan orang itu. Sekarang bos sudah mencapai Alam Setengah Abadi, kalau dia berani datang itu berarti dia mencari mati!"
Qinli dan Qingyin sama sekali tidak terganggu dengan kedatangan anak buahnya. Ia masih bercakap-cakap dengan Qingyin.
"Kalau waktu itu dia tidak menyembunyikan kekuatannya, mungkin aku bisa menang. Tapi untuk berjaga-jaga, lebih baik kalian semua secepatnya mencapai Alam Setengah Abadi."
"Kami …." ucap Qingyin tercengang.
"Alam Setengah Abadi? Memangnya keburu?'
"Ehem!"
__ADS_1
Tiba-tiba saja Qinli berdehem untuk menetralkan pikirannya. "Seharusnya keburu kalau kita berdua–"
Tampak ucapan Qinli menggantung, lalu setelahnya ia lanjutkan. "Kalau yang lainnya tidak tahu!"
Bukannya mengerti dengan jalan pemikiran Qinli, kini justru semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepala Qingyin.
Di sisi lain, kini Tetua Kuil Dewa Yin sedang memegang sebuah kendi dengan raut wajah senang. Ia bahkan sedang berbicara dengan anak buahnya saat itu.
Seorang kakek yang baru saja menggempur pertahanan kekuatan Qinli berbicara hal serius dengan Tetua Kuil Dewa Yin. Rupanya ia baru saja menyerahkan cincin penyimpanan milik Qinli padanya.
"Barang yang kau minta sudah aku berikan! Saatnya kau menepati janji untuk memulihkan ingatanku ke Alam Setengah Abadi!" pinta lelaki tua tersebut.
Tetua Kuil Dewa Yin hanya tersenyum sambil mengangkat sebuah kendi, "Baik!"
Hanya dalam sepersekian detik, Tetua Kuil Dewa Yin sudah berpindah tempat dan memegang kepala prajurit tersebut. Tindakan yang tergesa-gesa itu membuatnya terkejut.
"A-apa yang kau lakukan?"
Terdengar suara yang bergetar. Sebuah pertanda jika lelaki tua tersebut sangat ketakutan akan tindakan Tetua Kuil Dewa Yin. Namun, tetua hanya tersenyum.
"Memulihkan kekuatan ke Alam Setengah Abadi!"
"Tapi bukan kau, melainkan diriku." Ucapannya benar-benar memperlihatkan kelicikan Tetua Kuil Dewa Yin.
__ADS_1