
Rubah itu terpental jauh hingga beberapa meter. Namun, ia masih bisa bangun. Rubah itu melihat ke arah Tuannya, Qinli yang berada tidak jauh darinya.
"Tu ... Tuan!"
"Hosh!"
"Hosh!"
Terdengar deru nafas tidak beraturan dari Qinli. Tubuh dan wajahnya terluka akibat ledakan itu. Baju Qinli robek di beberapa tempat.
Qinli menoleh ke arah Putih, si rubah peliharaannya. Beberapa saat kemudian rubah itu segera melompat ke arah Qinli dan disambut hangat dengan kedua tangannya.
"Terima kasih ...." ucap Qinli pada rubah kecil itu sambil mengelus-elus bulunya.
Beberapa saat kemudian, tubuh Qinli melemah, ia melempar rubah tersebut ke udara dan tubuh Qinli kembali terjatuh ke tanah.
"Tapi ... aku masih gagal ...."
BUGH
"Tidak, Tuan!" teriak rubah tersebut.
Melihat Qinli terluka sangat parah, si rubah tidak tinggal diam. Ia segera menggunakan kekuatan supranatural miliknya untuk menyembuhkan Qinli.
SYUH ... SYUH ... SYUH ....
Si rubah menggunakan ekornya yang berjumlah sembilan itu untuk menyembuhkan Qinli. Ajaib, seluruh luka Qinli perlahan-lahan semuanya kembali menutup dan pulih seperti sedia kala. Namun, karena ia telah menggunakan seluruh kekuatannya, si putih tergeletak lemas di samping Qinli yang belum siuman.
BUGH
Di dalam alam bawah sadarnya, Qinli tiba-tiba saja masuk ke dalam dunia rubah.
"Di mana ini?" gumamnya.
Secara tiba-tiba dari arah lain terdengar suara memanggil.
"Guru! Guru!"
Sontak saja Qinli menoleh, tetapi yang dipanggil ternyata bukan dirinya melainkan seorang wanita cantik yang memakai pakaian mewah. Di dalam penglihatannya ada beberapa gadis terburu-buru mendatangi seorang wanita untuk mengatakan sesuatu hal.
"Guru! Tempat Alam Rahasia sangat berbahaya, guru harus berhati-hati," ucapnya memperingatkan gurunya tersebut.
Wanita itu ternyata adalah guru mereka yang akan pergi. Ia pun mengusap perlahan kepala salah seorang muridnya.
"Tenang saja, di saat aku pergi beberapa hari ini, kalian harus berlatih dengan baik, oke."
Saat ia sedang memberikan pesan pada murid perempuan, para murid laki-laki di belakangnya saling berbisik dan bukannya fokus latihan.
"Apa kau sudah dengar? Belakangan ini, ada sesuatu yang terjadi lagi di Gunung Buzhou ...." bisiknya pada rekan seperguruannya.
Tentu saja wanita yang dipanggil guru itu menoleh dan marah pada murid laki-laki.
"Siapa yang berbicara? Berlatihlah dengan serius!" ucapnya memperingatkan mereka.
BOOM
Tiba-tiba saja terjadi sebuah ledakan. Penglihatan Qinli membawanya pergi ke alam lain lagi. Di sana ada seekor rubah raksasa berekor sembilan yang sedang bersama salah seekor anak rubahnya.
__ADS_1
"Anakku, aku tidak tahu apakah ini kebahagiaan atau kemalangan ...." ucapnya sambil menimang rubah kecil yang sedang tertidur itu.
Di sampingnya, wanita yang dipanggil guru di dalam dimensi lain itu terbaring lemah di samping rubah raksasa itu. Saat si rubah kecil itu melayang, wanita tadi juga ikut melayang secara bersamaan.
Dari hal itu, Qinli bisa menyimpulkan sesuatu.
"Ternyata Si Putih sama seperti Qingyin yang mempunyai dua jiwa!"
Di alam yang sesungguhnya, setelah mengobati Qinli rubah kecil itu kembali pada sosok wanita cantik. Kini keduanya tertidur dengan posisi wanita itu memeluk tubuh Qinli yang belum siuman. Sementara itu di atas sebuah dahan pohon besar ada seseorang yang mengawasi mereka.
"Anak muda ini ...."
Ternyata memang ada seorang lelaki tua yang sejak tadi mengamati kegiatan Qinli. Namun ia masih memperhatikannya dari kejauhan dan bel mendekatinya.
Beberapa saat kemudian, kedua mata Qinli mengerjap. Kini ia merasa tubuhnya sudah jauh lebih enakan daripada sebelumnya.
"Semua lukaku sudah pulih? Sepertinya Si Putih yang telah menyelamatkan aku."
Melihat Si Putih masih pingsan, Qinli berniat untuk membangunkannya. Ia pun mencolek pipi wanita jelmaan Si Putih.
"Tidak mungkin seperti waktu itu lagi, kan?"
Meskipun banyangan beberapa saat yang lalu saat Si Putih menghajarnya karena mengira Qinli adalah pria mesum, Qinli tetap berusaha untuk membangunkannya.
Beruntung beberapa saat kemudian, wanita itu terbangun, tetapi dengan deru nafas yang tidak beraturan seperti habis mimpi buruk.
"Jangan!"
Hosh ... Hosh ....
Sementara itu wanita jelmaan rubah bersiap menyerang Qinli.
"Lagi-lagi kau, hidung belang!"
Tangannya saja sudah mengeluarkan sebuah jurus, tetapi ketika melihat perjanjian antara dirinya dengan Qinli, semua amarahnya sirna.
Badan Qinli bersinar keemasan, lalu ia pun memperlihatkan sebuah timbangan.
"Perjanjian aktif!"
Tidak lama kemudian, aura wanita itu berubah menjadi patuh.
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Tuan?"
"Kau bukan Si Putih, sebenarnya siapa kau?"
"Aku Bai Ruyun, Tetua Kedelapan Sekte Aolong di masa Daratan Huangdi!"
"Daratan Huangdi? Sekte Aolong?"
Qinli mengulangi ucapan Bai Ruyun, ia merasa asing dengan nama-nama tersebut.
"Daratan Huangdi? Sepertinya tidak ada daratan seperti ini di Daratan Level Tinggi ...." batin Qinli.
Melihat Qinli yang kebingungan Bai Ruyun bertanya kepadanya, "Apa ada yang salah, Tuan?"
Qinli melambaikan tangannya sambil tersenyum, "Tidak ada!"
__ADS_1
"Oh ya, sekte Aolong yang kau katakan itu ...."
Bai Ruyun menunduk, "Ini ...."
"Ceritanya sangat panjang."
Sepuluh menit kemudian.
"Begitulah kira-kira Sekte Aolong."
Bai Ruyun membantu Qinli mengenakan pakaiannya.
"Ternyata selain Sekte Bumi masih ada Sekte yang sangat kuat di Zaman Kuno."
"Kemungkinan ada beberapa alasan yang menyebabkan bumi yang sekarang kekurangan energi spiritual. Oleh karena itu, level prajurit berhenti di level dasar."
"Lalu, apa hubungan Nona Bai dengan Si Putih?" tanya Qinli penasaran.
"Si Putih? Maksudmu rubah kecil?"
Nona Bai Ruyun menunduk. Lalu menjelaskan semuanya.
"Aku datang ke daratan ini secara tidak sengaja demi mengejar level yang lebih tinggi, kemudian pingsan karena berlatih, lalu aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya."
"Oh, iya."
Bai Ruyun sepertinya teringat sesuatu.
"Aku selalu merasa rubah kecil terus menunggu sesuatu, sampai kau muncul ...."
"Ya, rubah kecil punya aura yang lumayan mirip denganku," ucap Bai Ruyun.
Tiba-tiba saja wajah Bai Ruyun menjadi pucat dan sesaat kemudian ia muntah da-rah.
Qinli tentu saja panik, "Kau kenapa? Padahal barusan baik-baik saja!"
"Seharusnya karena menggunakan kekuatan terlalu berlebihan, jadinya memicu kekuatan asli dari rubah kecil ...."
Qinli yang peka segera mengambilkan Pil Ninghua dan memberikannya pada Bai Ruyun.
"Cepat telan Pil Ninghua ini!"
Tanpa berpikir panjang, Bai Ruyun segera mengambil pil itu dan menelannya
Kekuatan pil itu benar-benar ampuh, kini kekuatan Bai Ruyun kembali pulih seperti sedia kala.
"Tuan, pil ini sangat luar biasa sampai bisa memulihkanku dengan cepat!"
"Kalau begitu, tolong Nona Bai melindungi aku."
"Eh, apa yang akan kau lakukan, Tuan?"
"Aku ingin mencobanya sekali lagi!" jawab Qinli dengan semangat.
Nona Bai Ruyun merasa cemas dengan keadaan Qinli yang terus memaksakannya.
"Apa kau tidak mau nyawamu lagi!"
__ADS_1