
Happy reading allπ
.
.
"Kau duluan!" ucap mereka hampir bersamaan.
"Kakak ipar, sebenarnya aku ...." ucap Zitan merah padam.
"Apa kau tidak enak badan?" tanya Qinli khawatir.
"Bukan ... sebenarnya aku suka ...."
"Bukankah dia kakak iparku, kenapa aku jadi tergagap-gagap dan tidak bisa mengatakannya?" batin Zitan.
"Sebal!"
Terlihat Zitan semakin bergetar, belum lagi ingatan masa lalunya membuatnya bimbang harus bersikap seperti apa pada Qinli.
"Ini benar-benar aneh, jelas-jelas dulu aku sangat membencinya!" batin Zitan sambil memegang kepalanya.
Ingatan di saat Qinli pertama kali menjemputnya di kampus saat ia masih menjadi tunawicara hingga semua perlakuan kasar pada Qinli di awal kedatangan di rumah Keluarga Chu seolah berputar kembali di dalam otak Zitan.
...πππ...
"Kau sudah makan gratis selama setahun di Rumah Chu, tapi sampai sekarang kau masih belum mendapatkan pekerjaan!" ucapnya kasar sambil melempar tas dengan sangat keras pada Qinli hingga Qinli mundur beberapa langkah.
"Kenapa malah pria bisu sepertimu yang menjemputku?" gertak Zitan ketika melihat Qinli di kampusnya.
"Qinli, apa kau tuli? Ibuku sedang memanggilmu," bentak Zitan kasar saat memanggil Qinli.
...πππ...
"Apa yang kau lakukan Qinli!" gertak Zitan sesaat setelah siuman.
PLAK
"Masih bisa berbuat apa, ya pasti menyelamatkanmu, bukankah kau terluka karena kecelakaan?" ucap Qinli sambil memegangi pipinya yang sakit akibat tamparan Zitan barusan.
"Terluka?" tanya Zitan tak percaya.
Sementara tangannya masih menutupi tubuhnya yang polos karena baru saja diobati Qinli.
...πππ...
Lalu saat ia terbangun ketika hampir kehilangan nyawa dan ditolong oleh Qinli kemarin di rumah sakit membuatnya semakin bingung.
"Na-namun, dia adalah kakak iparku, aku tidak bisa ...."
"Hei, mikirin apa? Kenapa kau jadi gagap? Ini tidak seperti dirimu!" tanya Qinli khawatir.
Zitan membuang muka bibirnya mengerucut.
__ADS_1
"Ah, ti-tidak apa-apa! Bukankah kau bilang ada yang mau kau bicarakan padaku?"
Wajah Qinli berubah menjadi bingung, "Apa mungkin kepalanya terbentur saat kecelakaan kemarin ...."
"Begini ... dengarkan perkataanku sampai habis."
"Apa!" ucapnya terkejut setelah mendengar ucapan Qinli barusan.
"Kau ingin mengirimku ke Amerika untuk belajar?" tanya Zitan terkejut.
"Orang-orang yang ingin mencelakaimu sangat banyak, mereka sangat kuat dan kejam. Dilihat dari situasi sekarang, aku mungkin tidak bisa menjaga semua orang yang berada di sekitarku."
"Lalu bagaimana dengan ayah dan ibu?"
"Aku akan segera menyembuhkan ayah dan ibu, setelah itu, mereka juga akan pergi ke Amerika dan berkumpul bersamamu."
"Sekarang, tempat ini sudah tidak aman lagi, keluar negeri untuk sementara waktu adalah cara terbaik."
"Baiklah!"
"Lalu bagaimana dengan kakakku?"
"Qingyin punya urusan yang mau dikerjakannya, lagi pula, dia adalah istriku, aku akan melakukan yang terbaik untuk melindunginya, kau tenang saja."
"Begitu ya, baguslah kalau begitu!" ucap Zitan sambil menunduk.
"Heh, aku Chu Zitan, begitu menyedihkan, takdir benar-benar bisa mempermainkan orang," batinnya.
"Tenang saja, aku pasti akan segera menjemputmu kembali."
Zitan menampik tangan Qinli seolah ia tegar menghadapi semua ini, meski kenyataannya tidak begitu.
"Cih! Aku tidak berharap kau cepat-cepat menjemputku! Sedari awal, aku sudah ingin belajar ke luar negeri, betapa bebasnya kalau di luar negeri," ucapnya sambil memejamkan mata.
Ia bahkan tidak mampu memandang wajah Qinli saat ini. Sambil memejamkan mata, Zitan berjalan menjauhi Qinli.
"Namun, jangan lupa untuk mengirimkan uang jajan setiap bulannya."
"Tidak masalah!"
Qinli segera menyusul Zitan yang sudah menjauhinya.
"Oh, ya, apa yang mau kau katakan barusan?"
"Sudah lupa," ucap Zitan sambil terus berjalan.
Akhirnya mereka sampai di Villa milik Qinli. Saat itu Qingyin baru saja selesai menyiapkan makan malam.
"Kalian sudah pulang, cepat cuci tangan dan makan malam," ucap Qingyin.
Dengan wajah menunduk, Zitan tak berminat untuk makan malam, ia pun permisi untuk segera masuk ke kamar ketimbang harus makan malam bersama.
"Kak, aku sedikit lelah, ingin istirahat sebentar," seru Zitan sambil menaiki tangga menuju kamarnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Kenapa adik terlihat tidak bersemangat?" tanya Qingyin bingung.
Qinli menghembuskan nafasnya secara perlahan sambil menarik kursinya.
"Aku berencana mengirimnya ke luar negeri untuk belajar," ucap Qinli.
"Apa?" ucap Zitan panik.
Setelahnya Qinli mulai menjelaskan segalanya pada Qinyin. Setelahnya Qingyin memeluk Qinli yang sedang duduk dari arah belakang.
"Ternyata begitu."
"Tenang saja, aku yakin dia pasti memahamimu," ucap Qingyin sambil tersenyum.
Qinli memegang tangan istrinya.
"Meskipun masalah keselamatan keluarga sudah terselesaikan untuk sementara ini, tapi harus cepat melepas segel yang ada di tubuh Qingyin," batin Qinli.
Malam harinya, saat Qinli sendirian di dalam kamar, ia mulai membuka buku pemberian wanita dewi itu. Ia mulai melihat isi dari buku tersebut. Sayang, lembaran buku itu kosong tak ada isinya sama sekali.
"Bukankah metode pikiran tatanan surga ini diberikan oleh orang itu? Ada apa ini ...."
"Tidak mungkin dia menipuku, 'kan?"
"Kertas polos, kertas polos, kertas polos ...."
Qinli membuka lembaran-lembaran kertas kosong tersebut.
"Apakah buku ini telah melewati penanganan khusus?"
Terbakar, terendam air ....
Qinli mulai menyandarkan tubuhnya di head board ranjang miliknya.
"Bukankah ini cuma sebuah buku kosong, sia-sia mendapatkan buku ini," ucapnya sambil menutup bukunya itu.
Lalu teleponnya berdering. Qinli meraih ponselnya itu lalu berbicara dengan seseorang diseberang sana.
"Hallo ...."
"Qin, aku berhasil! Berhasil!"
.
.
...Kira-kira siapa yang menelpon Qinli barusan? simak di update setelahnya ya, maaf jika up telat, othor masih masa recoveryπ...
.
.
...πΉBersambungπΉ...
__ADS_1