
Chu Zitan benar-benar hampir saja ketarik masuk ke dalam pintu dimensi tersebut. Saat hampir sampai di sana, tangan Qinli hampir meraih tangan Chu Zitan.
"Kakak ipar ... tolong aku!"
Saat tangan Qinli berhasil meraih tangan Chu Zitan keduanya sudah masuk ke dalam pintu tersebut, hingga membuat Qingyin berteriak dari bawah sana.
"Tunggu aku!"
"Huh, aku sungguh sial bisa bertemu denganmu. Benar-benar merepotkan!" gumam Nona Mo Yao dari bawah.
Meskipun begitu, ia tetap menggunakan kekuatannya untuk menyusul Chu Zitan melesat ke atas agar bisa masuk ke dalam sana.
Setelah Qingyin masuk terlebih dahulu, sesaat kemudian Nona Mo Yao menyusulnya. Dengan cahaya yang sangat menyilaukan yang berasal dari pintu tersebut, Nona Mo Yao berteriak dan menutup kedua matanya.
"Aaargh .... !"
Tiba-tiba terdengar suara Qinli dari sana.
"Apa yang kau teriakan?"
Tentu saja hal tersebut membuat Nona Mo Yao membuka matanya. Yang terlihat di sana adalah Qinli yang melayang sama seperti dirinya. Bedanya ia berpenampilan tenang saat ini. Mata Nona Mo Yao terbelalak untuk sesaat.
"A ... apa yang terjadi?"
Ke-empat orang itu sama-sama berdiri di sana dan melihat ke sekelilingnya.
"Sepertinya tempat ini bukan lagi di dalam prasasti batu," ujar Qinli.
"Sepertinya kita berada di semesta lain," ucap Qingyin.
Sesaat kemudian, Qingyin teringat sesuatu. Lalu ia pun menggunakan kekuatan tenaga dalammnya untuk melihat saat ini mereka sedang di mana.
Qingyin memejamkan kedua matanya dan memusatkan pikiran. Tiba-tiba ia membuka kedua matanya dengan cepat.
"Tidak disangka, kita bisa sampai di sini."
"Apa maksudmu?"
"Jangan bertanya lagi, cepat ikuti aku!" ucap Qingyin yang secara tiba-tiba melesat semakin ke atas.
Ketiga orang yang lainnya, pada akhirnya segera menyusul Qingyin. Beberapa saat kemudian, mereka sampai pada beberapa kapal kuno yang melayang rapi di atas sana.
Qinli berhasil menyusul istrinya. Saat ini Qingyin sedang berada di halaman salah satu bangunan kapal tersebut. Ia kemudian berdiri di belakang istrinya.
"Apa kau pernah ke tempat ini?" tanya Qinli kemudian.
"Seperti yang aku duga!" gumam Qingyin.
"Tempat ini sangat familiar, tetapi aku tidak mengingatnya," ucap Qingyin.
"Sial! Sepertinya aku sesuatu yang penting," ucap Qingyin di dalam hati.
Dari bangunan kapal di sebelah Qinli dan Qingyin, Chu Zitan melambaikan tangannya ke arah Qinli.
"Kakak ipar, kapal-kapal ini tidak ada orangnya," teriak Chu Zitan.
__ADS_1
Qinli menoleh, "Aneh!"
Ternyata hanya Chu Zitan yang berdiri sendiri di sana. Sementara itu, Qingyin, Qinli dan Nona Mo Yao berada di dalam satu dek kapal. Tentu saja hal tersebut membuat Nona Mo Yao menyimpulkan sesuatu.
"Entah harus bilang adik iparmu punya nyali besar atau ceroboh, bisa-bisanya dia berani menaiki kapal yang tidak jelas."
Qinli masih memperhatikan Chu Zitan dari tempatnya berada.
"Zitan cepat kembali ke sini!" perintah Qinli.
Ekspresi Chu Zitan berubah masam, lalu menjawab, "Iya."
Namun, belum sempat ia beranjak pergi, ada seorang laki-laki yang muncul dibelakangnya.
"Gadis kecil, jangan buru-buru pergi!"
Dari arah belakang Chu Zitan muncul seorang laki-laki berpakaian pangeran. Salah satu tangannya memegang kipas sementara tangan satunya memegang tangan Chu Zitan. Kepalanya ia letakkan di ceruk leher milik Chu Zitan.
"Karena kau suka dengan kapalku ini, maka jangan pergi."
Tentu saja Chu Zitan meronta karena terkejut. Bahkan lelaki tersebut dengan tidak tahu malunya menjilat jemari milik Chu Zitan.
"Melihat dirimu yang punya paras cantik, mari kita melakukan latihan ganda beberapa malam ini."
Chu Zitan jelas saja marah karena lelaki tersebut berkata dan berperilaku sedemikian rupa.
"Dasar mesum!"
Ternyata Chu Zitan mengarahkan satu pukulan ke arah laki-laki tersebut. "Matilah!"
Qinli yang terkejut akan tindakan Chu Zitan, berteriak. "Zitan, jangan!"
"Kau tempramen sekali, tetapi aku suka."
Qinli yang mengkhawatirkan Zitan segera beralih ke kapal tersebut. Ia juga melakukan serangan yang pada lelaki tersebut.
"Lepaskan dia!"
Lelaki tersebut menahan serangan Qinli hanya dengan menggunakan kipas di tangan kanannya.
"Prajurit daratan sampah sepertimu juga ingin menyerangku!" ucapnya sambil menyeringai.
Namun, serangan Qinli dikunci lelaki tadi dengan menggunakan sebuah formasi. Hingga hal itu sukses membuat Chu Zitan ketakutan.
"Kakak ipar!" teriak Chu Zitan.
Qinli tidak tinggal diam, ia masih mengulangi serangan yang sama. Sementara lelaki itu membaca serangan dari Qinli.
"Bocah ini lumayan kuat, sepertinya aku harus pergi."
"Ck! Kau lumayan juga bisa menahan jurusku, tapi aku harus pergi!"
Dengan membawa Chu Zitan ikut serta, lelaki itu segera melajukan kapalnya dengan cepat pergi meninggalkan Qinli dan teman-temannya.
"Gawat!"
__ADS_1
Ternyata hanya dalam sekejab mata, kapal tersebut sudah melaju pergi. Qinli dan teman-temannya hanya bisa memandanginya dari kejauhan. Nona Mo Yao saja sampai terheran.
"Gila, apakah kapal itu menggunakan mesin V18? Cepat sekali perginya!" ucap Nona Mo Yao dengan melongo.
Sementara itu, Qinli hanya bisa mengumpat karena kesal.
Dari atas dek kapal, Qingyin bersedekap dada. Pandangannya melihat jauh ke arah depan, tepat ke arah lelaki itu membawa pergi Chu Zitan.
"Cepat naik ke kapal!"
Kedua orang tersebut segera naik ke atas. Nona Mo Yao meragukan apakah Qingyin bisa mengemudikan kapal tersebut.
"Kau tidak akan mengemudikan kapal ini untuk mengejarnya, kan?"
"Bahkan kemudi pun tidak ada, bagaimana cara mengemudikannya?" tanya Nona Mo Yao heran.
"Gampang!" ucap Qingyin sambil memainkan tangannya.
Qingyin lalu menggunakan kekuatan dewi yang berada di dalam tubuhnya untuk mengemudikan kapal tersebut. Benar saja, sesaat kemudian kapalnya mengambang.
Qinli memandang heran ke arah istrinya lalu mendekatinya di ujung dek.
"Jangan-jangan kau berasal dari semesta ini?" tanya Qinli.
Dengan santainya ia menjawab, "Aku juga tidak tahu, mungkin iya .... "
"Pegangan, ya!"
Sesaat kemudian kapal tersebut melaju dengan sangat kencang.
"Kapal di depan bergerak begitu cepat, apa kita dapat mengejar kapal itu?"
Nona Mo Yao masih meragukan hal tersebut, tetapi Qingyin percaya akan kemampuannya.
"Bisa! Kapal-kapal ini berasal dari tempat yang sama dan diatur agar bisa kembali secara otomatis."
"Lalu, apakah kita bisa kembali nanti? Aku sama sekali tidak dapat melihat jalan kembali."
Qinli meyakinkan Nona Mo Yao.
"Kita pasti kembali, Kakek Badao dan Tetua Keempat masih berada di relik kuno," ucap Qinli.
Qinli menepuk bahu Nona Mo Yao.
"Terlebih lagi, orang tuaku masih menungguku untuk menyelamatkan mereka."
Nona Mo Yao memejamkan mata, sambil menghela nafas panjangnya.
"Aih! Baiklah! Aku benar-benar sial bisa ikut denganmu!"
Qinli kembali mendekati istrinya.
"Kita langsung kembali setelah menyelamatkan Zitan!"
Qingyin yang masih fokus pada kemudi segera menjawab suaminya, "Iya!"
__ADS_1
Akankah mereka bisa menyelamatkan Chu Zitan?
...🌹Bersambung🌹...