MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 218


__ADS_3

Tiba-tiba saja Nona Ling'Er muncul dari belakang Qinli dan saat mendengar ada kata hadiah matanya langsung berbinar.


"Guru! Aku merasa ada banyak sekali harta berharga yang sedang memanggilku dari daratan atas itu!" ucap Nona Ling'Er bahagia.


Sementara itu di dalam daratan perbatasan ada seorang prajurit yang marah pada bawahannya.


"Siapa yang melakukannya?" tanya lelaki itu tampak sangat marah.


Ternyata lelaki itu melihat seorang wanita yang wajahnya sudah menjadi tengkorak. Sepertinya lelaki itu marah karena mengetahui prajurit kepercayaannya justru telah diserap energi spiritual miliknya hingga hanya tersisa tengkorak tanpa daging di tukangnya.


Qinli tampak memandang ke arah langit.


"Ada beberapa orang lagi yang masuk ke sana!"


Nona Ling'Er yang melihat hal itu segera bertanya pada Qinli apakah tidak ingin melihat ke arah daratan yang melayang di atas sana. Jika masyarakat biasa sudah pasti akan menganggap hal itu sebagai gunung terbang. Padahal nyatanya hanyalah sebuah pulau yang memang melayang di udara.


"Guru, apa kita tidak perlu melihat?" tanya Nona Ling'Er dengan semangat empat limanya.


Begitu pula dengan Nona Mo Yao yang juga ikut berkomentar.


"Benar ini adalah kesempatan yang bagus Apakah kita tidak mau pergi?"


Sejenak kemudian Qinli menoleh ke arah Tetua Ketujuh.


"Perjalanan ke daratan itu sangat berbahaya, biar aku sendiri saja yang ke sana. Selain itu, sekte kita tepat berada di bawah daratan itu, takutnya akan ada banyak masalah ...." ucap Qinli benar-benar khawatir.

__ADS_1


"Pergilah, tidak perlu mengkhawatirkan kami!" ucap Tetua ketujuh memandang ke arah Qinli.


Saat Qinli hendak pergi, rupanya Nona Ling'Er justru berontak karena ia tiba-tiba saja mulutnya dibekap oleh Tetua Ketujuh agar tidak berisik.


"Guru, aku ... egh!"


Sesaat kemudian Qinli sudah bersiap untuk melesat ke atas. Hanya dalam beberapa detik ia sudah sampai ke daratan di atasnya. Saat itu pula Nona Ling'Er berteriak memanggil Qinli.


"Aku juga mau ikut!" teriak Nona Ling'Er setelah bekapan mulutnya dilepas oleh Tetua Ketujuh.


Saat pertama kali sampai di daratan itu, Qinli merasa tubuhnya ditarik dengan sangat kuat di sana.


"Daya tariknya kuat sekali!"


Sesaat kemudian ia pun terjatuh dengan cepat karena perubahan daya tarik di sana.


Bagaikan sebuah meteor yang jatuh dengan kecepatan penuh. Qinli seolah mendarat ke daratan tersebut seperti terlempar begitu saja dan membuat sebuah ledakan yang sangat dahsyat di sana.


...BOOM...


"Ss-sakit juga!" keluh Qinli sambil mengusap kepalanya.


Tubuh Qinli penuh dengan debu hingga membuat pakaiannya kotor. Namun, baru saja mendarat ia sudah bisa mendengarkan orang yang bercakap-cakap di sana.


"Sepertinya dekat sini!"

__ADS_1


"Kita beruntung sekali, barang berharga apa ini yang jatuh dari langit?"


"Barang berharga aku datang!" seru mereka.


Tentu saja kedua prajurit itu segera melihat ke arah lubang tempat jatuhnya Qinli. Saat keduanya sudah melihat Qinli di dalam sana, mereka tiba-tiba saja menjadi ketakutan karena tatapan Qinli berubah menjadi tidak bersahabat.


"Mo ... monster ganas! Itu monster ganas berbentuk manusia, cepat lari!" teriak mereka ketakutan.


Hanya sepersekian detik kedua prajurit itu sudah lenyap tidak berbekas.


"Cepat sekali larinya! Padahal aku masih ingin mencari tahu sedikit informasi dari mereka ...." gumam Qinli.


Secara mengejutkan kedua prajurit itu justru terlempar kembali pada posisi Qinli berada.


...BOOM...


"Ada banyak sekali kekuatan spiritual yang sedang berfluktuasi, tidak ada hanya satu orang ...."


"Aduh ...." keluh mereka saat terlempar.


Tiba-tiba saja muncul seorang Tuan Muda bersama dua selirnya di hadapan Qinli. Kedatangannya sangat mengejutkan, di tambah lagi dengan posisinya yang ditandu oleh beberapa prajurit. Tampaknya ia sangat berkuasa di sana. Hal itu bisa dilihat dari cara berpakaiannya dan sikap angkuh miliknya.


"Kalian pikir bisa pergi setelah mengambil barang berharga?" ucap Tuan Muda itu.


Kedua wanita yang berada di sampingnya bergelayut manja ke arahnya.

__ADS_1


"Ternyata prajurit puncak pemecah alam langit hanya bisa menjadi buruh?" gumam Qinli.


Lalu kedua prajurit yang baru saja bangun itu justru menyebut nama Tuan Muda misterius tersebut.


__ADS_2