MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 152


__ADS_3

Saat hendak sampai di tempat Qingyin berlari, Hong Ming mendapatkan sebuah pukulan tepat di salah satu pipinya. Satu pukulan dari Kera Raksasa Api tersebut mampu membuat tubuh Hong Ming terpental hingga mengenai sebuah batang pohon yang besar.


...BOOM!...


Batu-batu di lereng gunung pun ikut berjatuhan karena hal tersebut. Qingyin jatuh terduduk, ia menutupi wajahnya dengan kedua lengannya. Takut akan serangan yang akan dilakukan oleh Kera Raksasa Api tersebut yang terlihat semakin mendekatinya. Ternyata benar Kera Raksasa Api kini sudah berdiri di hadapan Qingyin.


"Jangan!" teriak Qingyin.


Kera Raksasa Api itu mendekatkan wajahnya ke arah Qingyin. Sangat dekat hingga membuat Qingyin semakin ketakutan dan menutup matanya.


"Ja, jangan kemari!" ucapnya sekali lagi sambil terpejam.


Saat hendak menyentuh tubuh Qingyin, tiba-tiba energi dari dewi yang bersemayam di dalam tubuh Qingyin bersinar. Membuat Kera Raksasa Api menutup matanya. Sepertinya ia mengetahui siapa Qingyin.


Beberapa saat kemudian ia berdiri dan kembali mengeluarkan amarahnya. Lalu segera melanjutkan kembali untuk mengejar Hong Ming ke arah gunung.


"Huft," Qingyin menghela nafasnya.


Qingyin mengira ia sudah selamat, ia tidak sadar jika Chu Zitan berdiri di belakang tubuhnya. Dengan kedua tangan memancarkan energi dalam, serta kedua mata yang menyala, ia seperti ingin membunuh Qingyin.


Di tempat lain Nona Mo Yao bersama Qinli sedang mencari keberadaan Hong Ming.


"Tidak di sangka, Hong Ming menyembunyikan energinya," seru Nona Mo Yao.


"Meski dia menyembunyikan energinya, tetapi orang lain ...." ucapan Qinli terhenti karena merasakan ada sesuatu hal yang tidak beres.


Qinli menoleh melihat ada energi api di belakangnya.


"Eh ...."


"Energi api yang sangat kuat?"


"Aneh, adq energi lain lagi!"


Nona Mo Yao melihat ke arah pandangan Qinli, ia menyipitkan pandangannya.


"Sepertinya berasal dari prasasti batu."


"Gawat!"


Sementara itu di dalam prasati batu, Qingyin sudah melumpuhkan Chu Zitan. Qingyin menginjak tubuh Zitan dengan salah satu kakinya.


"Beraninya kau menyerangku diam-diam?" ucap Qingyin sambil menyeringai.


Chu Zitan yang berada di bawah tubuh Qingyin tidak terima akan hal tersebut.


"Aku akan membunuhmu!" teriak Chu Zitan.


Dengan cepat Qingyin menginjak pelipis Chu Zitan hingga ia mengaduh.


"Membunuhmu!" teriak Chu Zitan.

__ADS_1


"Membunuh ...."


Tiba-tiba saja kedua mata Chu Zitan menyala. Lalu dari tengah keningnya, seperti kemasukan energi keemasan. Beberapa saat kemudian, Chu Zitan pingsan.


Ternyata yang melakukan hal tersebut adalah Qinli. Entah sejak kapan ia melayang di belakang tubuh Qingyin. Tentu saja Qingyin terkejut dan menoleh ke arahnya.


"Apa yang kau lakukan?"


Qinli tersenyum, "Tenang dia akan baik-baik saja!"


Sesaat kemudian hadirlah Nona Mo Yao. Qingyin masih tidak menyangka jika suaminya selamat.


"Tidak disangka kau punya kemampuan juga."


"Kau juga sudah melihat kemampuanku, kan?"


Qingyin malah terbengong dan kebingungan, "Apa?"


"Tentu saja itu!" ucap Qinli merasa tidak bersalah.


Sementara itu Qingyin malah menonjok suaminya. Nona Mo Yao yang melihat hal itu malah kesal.


"Hei! Bisakah kalian memikirkan perasaan seorang jomblo?"


"Selain itu adik iparmu?"


Nona Mo Yao melihat keadaan Chu Zitan merasa miris karena ia masih di bawah kendali Hong Ming. Tiba-tiba terdengar suara Kera Raksasa Api dari arah belakang.


...GROAR!...


Ketiga orang itu segera melesat ke angkasa. Ternyata di sisi gunung, Kera Raksasa Api sedang bertempur dengan Hong Ming.


Tidak disangka Kera Raksasa Api bersembunyi di Sungai Hitam di dalam prasasti batu. Qingyin dan Qinli bersembunyi di balik pohon sambil mengamati pertempuran mereka.


"Binatang ini sangat cerdas, dia sering berpindah-pindah tempat. Kalau bukan karena dia keluar sendirinya ...."


"Mungkin aku tidak akan tahu dia sudah tinggal di dalam wilayahku."


Nona Mo Yao bersembunyi di balik semak.


"Aneh, padahal kera ini bisa membunuh Hong Ming, tapi dia tidak melakukannya."


Di saat Kera Raksasa Api menyerang atau bertarung dengan Hong Ming, ia selalu saja menghentikan serangannya secara tiba-tiba. Sama seperti kali ini, saat hendak menyerang Hong Ming yang tiba-tiba melesat ia menutupi sebuah tanaman dari serangan tersebut. Hingga pada akhirnya Qinli mengetahui alasan di balik semua itu.


"Ternyata begitu," ucap Qinli dengan bahagia.


"Kera Raksasa Api ini sangat cerdas, dia tidak tega merusak setiap tanaman yang ada di sini."


Qinli menoleh ke arah istrinya dan Nona Mo Yao, "Ikut aku!"


Sesaat kemudian Qinli sudah berada di tengah pertempuran itu.

__ADS_1


"Apa kalian sudah selesai bermain?" tanya Qinli.


Seperti tersambar petir di siang bolong, Hong Ming terkejut akan kehadiran Qinli.


"Qinli!"


"Ternyata kau belum mati!


"Aku tidak ingin mati sebelum kau mati duluan!"


Hong Ming terkejut akan aura kekuatan Qinli.


"Kenapa bocah ini bisa mencapai puncak alam dewa dalam waktu dekat?" gumam Hong Ming.


Qinli melompat ke atas, tangan kirinya menunjuk ke arah pelipis.


"Aku sudah mendapatkan barang di sini, sekarang aku akan keluar dan menghancurkan tempat ini agar kau bisa tinggal di sini selamanya."


Hong Ming marah dan menyusul Qinli, "Itu tergantung kau bisa melakukannya atau tidak?"


Kedua orang itu melesat ke angkasa meninggalkan Kera Raksasa Api itu sendirian.


...GROAR!...


Karena merasa diabaikan, Kera Raksasa Api itu kemudian menyusul keduanya.


Qinli orang yang pertama kali keluar dari prasasti batu tersebut, lalu di susul oleh Hong Ming.


"Sial, aku tidak dapat melacak keberadaannya selama ia menyembunyikan energinya," gumam Hong Ming.


Tidak berapa lama, Kera Raksasa Api keluar dari prasasti batu tersebut.


...GROAR!...


Tangan kera tersebut langsung mengarah ke Hong Ming hendak memukulnya, tetapi keburu ketahuan oleh Hong Ming.


Ia menoleh, "Karena kau cari mati, maka aku akan mengabulkan permintaanmu."


Hong Ming langsung mengeluarkan pedang miliknya yang berwarna merah. Keris merah itu ia arahkan ke arah Kera Raksasa Api. Namun di luar dugaan.


Naga merah yang berasal dari keris tersebut badannya di gigit oleh Kera Raksasa Api. Bukan hanya mengigit. Ternyata Kera Raksasa Api itu mengunyahnya hingga mati. Tentu saja Hong Ming terkejut akan hal itu.


"Tidak mungkin, jelas-jelas tadi ...."


Dari arah langit Qinli memandang tajam ke arah Hong Ming. Di tangannya telah memegang pedang Zhanlu miliknya.


"Sejak awal ia hanya mengalah padamu, apa kau masih tidak mengerti!" gertak Qinli.


Kali ini Hong Ming tidak bisa berkutik, pedang andalannya sudah hancur. Sementara itu ada Qinli yang sudah siuman dan Kera Raksasa Api itu. Akankah Hong Ming selamat kali ini? Atau Qinli dan Kera Raksasa Api yang akan mati?


Kita saksikan next episode hari Rabu ya.

__ADS_1


__ADS_2