
Tentu saja dalam kondisi terdesak seperti itu Zitan tidak berdaya dan ia lebih banyak mengumpat kepada kakak iparnya yang tidak kunjung datang untuk menyelamatkan dirinya.
"Qinli, bajingan! Bajingan!"
"Apa aku benar-benar akan kehilangan keperawananku pada biadab ini, hu hu hu ...."
"Setelah kekuatan spiritualnya masuk ke dalam tubuhku, efek obatnya seperti telah menyatu ke dalam tubuhku!"
Dalam keadaan terdesak seperti itu Zidan mencoba melepaskan rantai spiritual tersebut dengan kekuatannya. Namun, sepertinya hasilnya tetap sama saja karena rantai itu tidak terlepas dari kedua tangannya.
"Aku telah melelehkan semua kekuatan pil hasrat jiwa ke dalam tubuhmu dan tidak ada obat penawar yang bisa menyelamatkanmu."
"Kalau tidak diselamatkan tepat waktu, kau akan mati terbakar oleh nafsu," ucap Tetua Keluarga Lei.
Dengan senyum menyeringai dan memainkan lidahnya, Tetua Keluarga Lei tampak sangat mesum. "Tenang saja, aku akan lembut sedikit ...."
Zitan tentu saja berdecih. "Aku lebih baik mati daripada harus tunduk padamu!"
__ADS_1
Baru saja Tetua Keluarga Lei akan bersenang-senang dengan Zitan, dinding gua tersebut justru terlihat merontokkan batu-batu stalaktit di dalamnya. Hingga pada akhirnya terdengar bunyi reruntuhan yang silih berganti.
Ketakutan seketika menyeruak di dalam pikiran Tetua Keluarga Lei. Ia melihat langit-langit gua yang mulai berjatuhan.
"Ada apa ini? Jangan-jangan dia sudah menemukan tempat ini?" ucap Tetua Keluarga Lei sangat cemas.
Benar saja, belum sempat mereka pergi, sudah terdengar suara Qinli. "SEGEL PENGUASA TERATAI EMAS"
Langit-langit gua tersebut perlahan-lahan berjatuhan ke lantai gua dan menimbulkan suara gaduh. Semakin lama semakin besar dan terlihat akan runtuh. Benar saja sesaat kemudian sebuah ledakan besar terjadi di sana.
"Zitan, kau sudah aman, sekarang--"
"Kakak ipar! Akhirnya kau datang!" seru Zitan dengan bahagia.
"Tidak disangka kau bisa menemukan tempat ini!"
Sayangnya, dari arah belakang ternyata Tetua Keluarga Lei tidak ikut mati di dalam reruntuhan itu. Ia masih mencoba bangkit dan menggertak Qinli sekali lagi.
__ADS_1
"Kondisimu sekarang tidak lebih baik dariku dan kau masih mau menyelamatkannya?" gertak Tetua Keluarga Lei sambil meletakkan tangan kirinya tepat di kepala salah satu prajuritnya.
Saat ini ia sedang menyerap kekuatan prajuritnya yang tersisa. Menyedot habis energi spiritualnya untuk mengisi kembali kekuatannya yang habis.
"Ke-kepala keluarga," rintihnya.
Kepala keluarga Lei sama sekali tidak menghiraukan kesakitan yang dirasakan oleh salah satu prajuritnya tersebut. Bahkan ia benar-benar menyedot habis kekuatan spiritual miliknya hingga kini hanya tersisa tulang-belulang yang menempel pada pakaian yang dipakai oleh prajurit terakhir miliknya tersebut.
"Awalnya aku berencana membalas dendam nanti setelah memulihkan kultivasiku, tapi sekarang kau malah mencari masalah dengan kondisimu yang seperti ini, benar-benar cari mati!" teriak Keluarga Lei dengan penuh amarah.
Kini armor milik Kepala Keluarga Lei kembali muncul di belakang tubuhnya. "Jenderal Dewa Yin, bunuh dia!"
Qinli sama sekali tidak takut dengan gertakan yang diberikan oleh Kepala Keluarga Lei terhadapnya. Ia justru kembali bertanya kepada Kepala Keluarga Lei tentang apa yang terjadi saat ini.
"Efek samping dari kekuatan melarikan dirimu, sudah menyebabkan ilusi padamu," ucap Qinli sambil menyeringai.
Bukannya mengenai Qinli, pedang tersebut justru kembali menyerang tubuh Kepala Keluarga Lei dan tepat mengenai perut bagian tengah hingga membuatnya memuntahkan banyak darah di sana.
__ADS_1