MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 194


__ADS_3

Setelah berhasil melatih kekuatannya, Qinli mendekati Yang Wenhao dan mengajaknya pergi ke sekte miliknya.


"Mari kita kembali ke sekte!" ajak Qinli.


Yang Wenhao begitu terkejut dengan kemampuan Qinli yang meningkat begitu cepat.


"Sudah mencapai tingkat tinggi Alam Pemecah Langit!" ucap Wenhao tidak percaya.


Sementara itu di kediaman Sekte Bumi, salah seorang muridnya sedang menyiram tanaman sendirian.


"Baru bulan berapa ini? Kenapa angin yang bertiup terasa dingin?" gumamnya.


Saat ia sedang asyik menyiram tanaman ternyata ada seseorang yang mengagetkannya dari arah belakang.


"Si-siapa?" ucapnya sampai merinding.


Saat ia menoleh, makhluk itu justru menakut-nakutinya.


"Kya!"


Sontak saja tubuhnya langsung limbung dan jatuh ke tanah.


...BUGH...


Ulah Ling'Er diketahui oleh Nona Mo Yao. Seketika ia pun memarahinya sambil berkacak pinggang.


"Ling'Er, kau buat onar lagi?" tanya Nona Mo Yao setengah marah.


Bukannya takut, Nona Ling'Er justru meringis tanpa rasa bersalah.


"Aku hanya merasa bosan, kau dan Kak Xia terus sibuk berlatih."


"Lalu, kenapa kau tidak berlatih?"


Belum sempat Nona Ling'Er menjawab, dari arah belakang terlihat Qinli datang bersama Yang Wenhao. Seketika Nona Ling'Er menoleh.


"Guru, akhirnya kau pulang juga!" ucapnya sambil berbinar.


Sesaat kemudian, Nona Ling'Er mengingat sesuatu.


"Oh, iya."


Nona Ling'Er langsung melemparkan sebuah bungkusan kepada Qinli.


"Kepala Keluarga Wu menitipkan sebuah kantong kecil kepadaku dan bilang kantong ini untukmu."


Beruntung Qinli bisa menangkapnya dengan cepat.


"Kepala Keluarga Wu memberikannya padaku? Apa ini? Misterius sekali?"


Rasa penasaran yang tinggi membuat Qinli segera membukanya. "Bubuk obat?"


Nona Ling'Er yang penasaran segera mendekati Qinli dan ikut melihatnya.


"Guru, ini ...."


Mungkin karena hidung Nona Ling'Er terlalu sensitif, ia pun bersin di hadapan Qinli. Dalam sejenak saja bubuk itu mengenai wajah Qinli.

__ADS_1


Qinli yang sudah hafal dengan tingkah laku Nona Ling'Er yang kurang berhati-hati hanya tersenyum masam.


"Guru, aku tidak sengaja ...."


Sementara itu karena panik, Nona Ling'Er justru menyiram wajah Qinli dengan air.


BYUR!


"Tidak ...." teriak Qinli.


"Aku hanya ingin membersihkan wajahmu, guru ...."


"Sebentar, guru, biar aku lap wajahmu."


Namun, keanehan terjadi saat Nona Ling'Er telah selesai mengelap wajah Qinli dengan handuk. Wajahnya seketika berubah menjadi hijau.


"Ugh! Guru, kenapa wajahmu berubah menjadi hijau berkilauan? Apa kau keracunan?" tanya Nona Ling'Er tanpa rasa bersalah.


"Apanya yang hijau berkilauan? Apa yang kau bicarakan?" ucap Qinli tidak terima.


Tidak berselang lama kemudian, Nona Ling'Er membawakan Qinli sebuah kaca.


"Guru, lihat!" ucapnya tanpa rasa bersalah.


Dalam sekejap, Qinli pun berubah menjadi marah pada Nona Ling'Er. Bisa-bisanya ia membuat wajahnya berwarna hijau.


"Ling'Er!" teriaknya dengan geram.


Qinli segera memberikan pelajaran pada Nona Ling'Er. "Katakan! Sebenarnya apa ini!"


Qinli menempeleng kepala Nona Ling'Er hingga ia mengaku salah.


Merasa bersalah dengan ulahnya barusan, ia pun segera menjelaskan tentang bubuk itu pada Qinli.


"Bubuk ini dinamakan bubuk penangkap jiwa, hanya bisa dimasukkan ke dalam kantong kulit khusus. Bubuk ini bisa dioles ke tubuh atau benda, juga bisa diminum."


"Kalau dipicu oleh energi spiritual akan memancarkan cahaya dan cahaya ini tidak dapat ditutupi oleh apapun ...."


"Sama seperti dugaanku ... ini fluorescent agent."


Qinli merasa tidak nyaman dengan tampilan wajahnya hanya bisa berusaha untuk menghapus warna hijau di wajahnya itu dengan mengusapnya. Akan tetapi, ternyata warna hijau itu sama sekali tidak bisa dibersihkan.


"Tidak bisa dihapus?" ucap Qinli dengan wajah pias.


Respon Nona Ling'Er justru berbeda, dengan entengnya ia mengucapkan, "Hehehe, benar. Kau harus menunggu dua bulan sampai efek bubuknya menghilang."


"Pemimpin Keluarga Wu menekankan bahwa bubuk ini adalah barang berharga yang sudah dia simpan selama bertahun-tahun. Hanya ada satu kantong. Harganya senilai dengan beberapa pil tingkat tujuh, jadi tidak menyia-nyiakannya ...."


"Aku tidak menyangka barang ini begitu berharga di sini," gumam Qinli.


Takut dengan perubahan wajah Qinli, Nona Ling'Er segera mencari alasan untuk segera pergi.


"Guru, a ... aku pergi berlatih dulu! Sampai jumpa!"


Namun, Qinli tidak mudah dikelabui, secepat kilat tangannya sudah memegang salah satu bahu Nona Ling'Er hingga wajahnya menjadi pias.


"Tunggu ...."

__ADS_1


Qinli memasang wajah seram ketika Nona Ling'Er menoleh ke arahnya.


"Apa aku ada bilang memperbolehkanmu pergi?" ucap Qinli seolah mengancam Nona Ling'Er.


Tentu saja Nona Ling'Er berteriak karena terkejut dan hampir pingsan karena ketakutan.


Keesokan harinya, Gerbang Kota Feilong.


Qinli sedang bersiap untuk pergi dari sekte untuk melanjutkan niatnya mencari Zitan. Kali ini ia berpamitan pada semua muridnya.


"Apa kami tidak perlu menemanimu?" tanya Tetua Xia.


"Ini kesepakatan antara aku dengan Nona Han. Aku bisa pergi sendiri," ucap Qinli dengan tegas.


Selama mereka berbicara, Nona Mo Yao seolah merasakan kejanggalan. Sesaat kemudian ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari Nona Ling'Er yang belum kelihatan sedari tadi.


"Oh iya, di mana Ling'Er, biasanya dia yang paling aktif."


"Siapa yang tahu, mungkin dia masih tidur ...." ucap Qinli dengan asal.


"Achiuuu ...."


Ling'Er yang ternyata ada di dalam kamarnya menjadi bersin ketika dirinya dibicarakan.


"Siapa yang berbicara buruk tentangku?" ucapnya kesal.


Bagaimana tidak kesal jika saat ini, wajahnya juga ikut-ikutan menjadi berwarna hijau sama seperti wajah Qinli.


Di sisi lain, Qinli yang sudah merasa cukup berpamitan kini segera memberi hormat dan pergi.


"Kalau begitu, aku berangkat dulu. Tolong jaga sekte selagi aku pergi!" ucap Qinli memberikan penghormatan pada murid-muridnya.


Setelah itu Qinli segera melesat pergi.


...SYUH...


......................


...TEMPAT PELATIHAN BELA DIRI KELUARGA HAN, KOTA XUNLONG ......


Nona Han kebetulan sedang mengunjungi kakeknya di ruang pelatihan.


"Kakek, kalian sedang apa? Ramai sekali?" tanya Nona Han.


"Xinxin sudah datang, ya. Kami sedang memilih beberapa murid."


"Memilih murid? Untuk pergi ke Alam Rahasia Bintang Tujuh? Bukankah jumlah orangnya sudah cukup?" tanya Nona Han penasaran.


"Ini perintah dari Kepala Keluarga. Kita masih belum tahu dan belum pernah melihat Qinli yang pernah kau ceritakan itu, kalau sampai ...."


Ucapannya tampak terjeda.


"Huh, dia hanya seorang petarung dari daratan sampah, kalau dia pergi, yang ada hanya akan menjadi beban!"


Nampak sekali jika lelaki tua itu tidak menyukai kedatangan Qinli yang berasal dari kalangan biasa. Menurutnya Qii tidak sebanding dengan kemampuan Keluarga Han. Oleh karena itu ia yakin tidak akan pernah ada lagi kesatria dari kalangan biasa, termasuk Qinli.


Belum selesai percakapan Nona Han dengan lelaki tua itu, dari arah pintu terlihat para anggota lain dari Keluarga Han.

__ADS_1


"Sebagai ...."


__ADS_2