MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
Episode 252


__ADS_3

Seminggu kemudian, Daratan Tersembunyi Tingkat Sembilan, Lembah Dewa Obat.


"Aih~Lapisan kekuatan energi direbut lagi oleh orang lain. Kita adalah pasukan hebat di daratan tersembunyi ini, tetapi sepertinya cuma nama aja ...."


"Hmph, inilah akibat dari keputusan yang diambil oleh Tetua Lembah ...."


Saat kedua Tetua tersebut sedang berbincang serius, rupanya ada salah seorang prajurit yang berteriak memanggil nama mereka.


"Tetua Besar!"


"Tetua Besar, gawat!"


"Tetua Besar, Tetua Kedua! Anggota dari Kuil Dewa Yin datang!"


"Apa!" ucap keduanya terkejut.


"Anggota dari Kuil Dewa Yin ... jadi informasi dari Ling'Er itu benar?" ucap Tetua Besar dengan raut wajah terkejut.


"Mana mungkin tidak benar! Pasti karena kita tidak bertindak setelah mendengar kabar ini makanya mereka datang menyalahkan kita."


"Tidak disangka, kalian tahu diri juga!"


Belum juga laporannya selesai, ternyata prajurit itu justru diserang terlebih dulu oleh utusan dari Kuil Dewa Yin. Ia sampai jatuh tergeletak tepat di depan kedua Tetua besar.


"Dimana Si Tua Bangka Lin Yi?" tanya Utusan dari Kuil Dewa Yin dengan sorot mata tajam.


Bukannya mendapat jawaban pasti, ternyata Tetua Besar justru menggertak utusan itu.


"Apakah semua Anggota Kuil Dewa Yin sangat tidak punya sopan santun?"


"Sopan santun? Sopan santun diberikan pada orang yang mempunyai status setara dengan kami, kalau Lembah Dewa Obat? Tidak pantas!"


"Apa katamu!" teriak Tetua Kedua lantang.


Bukan hanya itu, tetapi Tetua Besar juga langsung turun tangan dan menyerangnya.

__ADS_1


"Kau menghina Lembah Dewa Obat, meski aku tidak bisa mengalahkanmu, aku tetap harus melindungi martabat Lembah Dewa Obat!"


Utusan dari kuil Dewa Yin tampak tertawa menyeringai. Sepertinya ia tidak terlalu takut akan gertakan yang diberikan oleh Tetua Besar maupun Tetua Kedua.


"Hmph, aku hanya menjalankan perintah dari Tetuaku!"


"Tiga hari! Kuberikan waktu tiga hari mengantar Nona Ling'er ke Kuil Dewa Yin untuk melangsungkan pernikahan. Kalau dalam tiga hari kalian tidak datang, Lembah Dewa Obat akan kami hancurkan!"


Utusan dari Kuil Dewa Yin tampak menyerang sebelum mereka benar-benar pergi. Setelah sampai di angkasa ia masih memperhatikan ke arah Lembah Dewa Obat.


"Hmph, cuma segini kekuatan Lembah Dewa Obat!"


"Lembah Dewa Obat bukan tempat yang bisa kau datangi sesuka hati!"


Tiba-tiba saja terdengar suara dari sosok yang tidak dikenal. Ia bahkan menggunakan kekuatannya untuk menahan utusan dari Kuil Dewa Yin tersebut hingga membuatnya tidak bisa bergerak.


"Puncak Alam Dominasi?"


"Meski kau diutus oleh Tetua Kuil Dewa Yin, Lembah Dewa Obat juga bukan tempat bagimu untuk sok hebat!"


"Oh? Akhirnya kau muncul juga setelah bersembunyi cukup lama."


Untuk sejenak utusan tersebut mengeluarkan sebuah jurus. Beruntung Ayah Ling'Er sudah membacanya dari awal.


"Bukankah itu cuma pembatas Alam Rawa biasa?" gumam Ayah Ling'Er.


"Kenapa? Tetua baru pertama kali melihat Pembatas Alam Rawaku?"


"Oh iya! Kabut tujuh warna rawaku ini mampu membuat prajurit Alam Dominasi tersesat."


"Prajurit yang tersesat di dalamnya akan pelan-pelan dilahap oleh rawaku dan akhirnya menjadi bagian dari rawaku!"


"Banyak omong!" gertak Ayah Ling'Er pada urusan tersebut.


Utusan dari Kuil Dewa Yin tampak senang karena bisa memancing amarah tetua.

__ADS_1


"Ha ha ha ... Hanya seorang prajurit Pembatas Alam Api saja!"


"Oh, ya! Kalau begitu, rasakan kekuatan tungku peracik pilku ini!"


Tiba-tiba saja dari langit muncul sebuah tungku raksasa yang menindih dan mengunci kekuatan urusan tersebut. Kedua matanya bahkan terbalalak karena kekuatannya benar-benar terkunci.


"Tidak mungkin! Kekuatan pembatasku dilemahkan!" ucapnya tidak percaya.


"Ini bukan salahmu sepenuhnya! Aku yang sudah terlalu lama tidak turun tangan. Sudah lama tidak ada orang yang melihat pembatas alam tungku apiku."


"Sial! Kalau bukan barang berharga pelindung diri yang diberikan Tetua, aku pasti sudah mati!"


"Mau kabur?"


Wush!


Secepat kilat Ayah Ling'Er segera mendekati utusan itu dan melihat sejauh apa dia terluka.


"Tua bangka, kita lihat saja nanti! Setelah tiga hari, aku pasti akan membalas ...."


"Apa ini?" Teriak utusan dari Kuil Dewa Yin yang terkena tendangan dari Qinli.


Kecepatan yang digunakan Qinly terlalu cepat, sehingga membuat Ayah Ling'Er begitu terkejut.


"Ada monster di terowongan ruang waktu in!"


Kedua Tetua itu dengan kedua mata hampir melompat karena terlalu terkejut.


"Ayah!"


Tendangan dari Qinli mampu membuatnya terlempar dan menembus dinding batu di dekat sama.


Qinli tidak datang sendirian melainkan bersama rombongan Ling'Er dan yang lainnya. Ia melambaikan tangan dari sebuah pintu ajaib yang dibuat oleh Qinli menggunakan kekuatannya.


"Ayah! Aku pulang!" teriak Ling'Er dengan bersorak.

__ADS_1


__ADS_2