MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 215


__ADS_3

Namun respon lain diberikan oleh Si Putih. Ia masih merasa waspada terhadap sapu lidi yang jatuh di hadapan mereka. Apalagi sapu lidi tersebut berhasil melintasi dimensi hingga masuk ke bumi.


Mungkin kekuatan sapu lidi tersebut jauh melebihi barang-barang supranatural yang ada di bumi. Sehingga Si Putih menjadi lebih waspada.


Bulu kuduk si putih pun masih berdiri tegak, tetapi Qinli justru memeriksa sapu lidi tersebut. Ia berjongkok sambil memegang sapu lidi.


"Semuanya lanjutkan latihan kalian ...." seru Qinli pada prajuritnya.


Aneh, saat Qinli mengangkat gagang sapu lidi tersebut rasanya teramat berat.


"Berat sekali!"


Tiba-tiba penglihatan Qinli membawanya ke dimensi lain. Tempat di mana sapu lidi tersebut berasal. Di sana terlihat kobaran api yang sangat besar namun tidak ada seorangpun yang selamat dari ledakan tersebut.


BOOM


"Ini!"


Mata Qinli terbelalak karena hal itu membuatnya terbanting ke bawah ketika masih membaca asal muasal dari sapu lidi tersebut.


"Suamiku!" teriak Qingyin.


Tangan Qinli terangkat ke atas dalam posisi masih memegang sapu lidi tersebut.


"Apakah kekuatan destruktif yang kurasakan tadi adalah alasan mengapa bumi jatuh dari level sepuluh?" gumam Qinli.


Mata batinnya masih merasakan jika ia melihat bagaimana sapu lidi itu bisa sampai ke hadapannya.


Qingyin tampak membantu suaminya untuk berdiri.


"Lalu kekuatan mengerikan ini dari siapa? kekuatan ini jauh beberapa level lebih tinggi dari kekuatanku yang sekarang!"


Qingyin yang penasaran dengan hal itu lalu bertanya pada suaminya.


"Apakah ada yang spesial dari sapu ini?"


Karena Qinli tidak juga memberikannya respon maka Qingyin mengibaskan tangannya di hadapan suaminya.


"Suamiku, suamiku ...."


Tiba-tiba saja Qinli tersenyum lalu menoleh ke arah sang istri, Qingyin.


"Aku baik-baik saja, sepertinya sapu ini pernah mendapatkan pengaruh darimu."


Ternyata bukan hanya Qingyin yang penasaran dengan asal-usul sapu tersebut. Tuan Muda Xu juga penasaran. Maka dari itu ia segera bertanya kepada Qinli tentang perihal sapu lidi tersebut.


"Pengaruh kakak ipar? Apa maksudnya?" tanya Tuan Muda Xu.


Bukannya mendapatkan jawaban justru kakaknya Nona Muda Xu memegang kerah baju adiknya agar tidak mengganggu Qinli.


"Kenapa kau selalu ingin tahu semuanya? Cepat pergi berlatih!" ucapnya dengan nada kasar.

__ADS_1


Qingyin tetap waspada dengan hal tersebut.


"Sapu ini sepertinya bukan sapu lidi biasa, 'kan!"


"Ya, takutnya bukan sapu biasa ...."


"Pernah aku merasakan sebelumnya ...."


Sorot mata Qinli mengarah ke samping.


"Di saat sapu ini datang, aku merasakan tekanan yang sangat hebat. Selain itu, tekanan ini sepertinya pernah aku rasakan sebelumnya ...."


Di saat Qinli masih berkonsentrasi, rupanya ada salah satu prajurit yang sudah kelelahan dalam berlatih gravitasi.


"Bos, aku sudah tidak kuat lagi ...."


"Hampir saja lupa!"


Qinli segera menyadari jika ia melupakan latihan gravitasi tadi. Dengan segera ia mengembalikan kekuatan itu ke dalam tubuhnya.


"Huft, Bos hampir saja membunuh kami semua!"


Ternyata bukan hanya Tuan Muda Xu saja yang kelelahan. Bahkan hampir semua prajurit merasakan hal yang sama dan saat ini mereka terduduk lemas di lantai.


"Benar, adik kecil, apa yang kau pikirkan sampai hilang fokus seperti itu?" tanya Nona Liu.


"Semuanya aku harus pergi selama beberapa hari ke depan ... latihan ini akan dilanjutkan oleh Qingyin yang menggantikanku."


Di saat Qingyin dan Qinli berduaan, Si Putih pun memilih untuk pergi daripada menjadi obat nyamuk untuk sepasang suami istri itu.


"Ya, sebenarnya kekuatanmu yang sekarang sudah lumayan tinggi dan aku akan meminta Si Putih untuk tetap tinggal di sini untuk membantumu."


"Kalau begitu, berhati-hatilah. Setelah kami selesai berlatih, kami akan pergi mencarimu!"


Qingyin tetap menyemangati suaminya. Meski di awal pernikahan mereka tidak saling mencintai, tetapi perlahan-lahan seiring berjalannya waktu cinta tumbuh bersemi di antara keduanya.


"Baik, kutunggu kalian!" ucap Qinli sambil tersenyum.


Saat ini Qinli kembali melakukan perjalanan waktu untuk melintas dimensi. Dengan mengendarai kapal yang diberikan oleh Keluarga Han ia mulai bergerak melintas ruang waktu, berada di alam perbatasan.


Tiba-tiba saja Qinli menyadari jika ada seseorang yang mengawasi dirinya. Tanpa rasa sungkan Qinli kemudian menegur mereka.


"Karena kalian sudah datang, maka keluarlah! Kalian tidak usah bersembunyi."


Beberapa saat kemudian terdengar gemuruh tepuk tangan dari mereka prajurit yang bersembunyi di balik alam perbatasan tersebut.


PROK ... PROK ....


"Hebat juga kau, bisa menyadari keberadaan kami!"


Ternyata prajurit yang mengawasi Qinli tersebut adalah Tuan Lei, musuh bebuyutan Qinli yang berhasil membawa adik iparnya Zitan pergi sampai saat ini belum kembali.

__ADS_1


"Bukanlah ini Tuan Lei? Kebetulan sekali!" sapa Qinli dengan tersenyum.


Sesaat kemudian Qinli mengibaskan pedang Zhanlu di hadapannya untuk membuat dinding pertahanan.


"Kelihatannya kau sangat "merindukanku", ya ...." ucap salah satu prajurit Tuan Lei.


"Maju, tangkap dia hidup-hidup!" teriak Tuan Lei.


"Baik!" ucap prajuritnya serempak.


Tuan Lei bentuk-benar bangsawan yang tidak berbudi. Sedari dulu bertindak sesuka hati dan suka menindas kaum yang dianggapnya lemah. Menjadikan seseorang yang menyinggungnya sebagai musuh.


Namun, bukan Qinli namanya kalau ia tidak bertindak sendirian.


"Tuan Lei, benar-benar orang baik, ya. Sampai tidak mau membunuhku!" ucap Qinli sambil memainkan Pedang Zhanlu miliknya.


Sayang, gerakan Qinli yang terlalu cepat membuat pergerakannya sulit dideteksi. Bahkan ketika ia berhasil melewati tubuh Tuan Lei dan anak buahnya membuat Tuan Lei ketar-ketir seketika.


"Apakah aku harus berterima kasih kepadamu!" ucap Qinli dengan tersenyum ramah.


Hal itu tentu saja membuat Tuan Lei ketakutan.


"Gerakannya lincah dan cepat sekali!" gumam Tuan Lei.


"Hmph! Namun ...." ucapannya tertahan dan membuatnya semakin terbakar api balas dendam.


Tubuh Tuan Lei sudah melayang ke atas. Memancarkan aura domain berwarna ungu yang sangat hebat.


"Coba lihat!"


"Di dalam domain diikuti kekuatan petir, apakah ini atribut domain petir?" tanya Qinli tegas.


Sementara itu Tuan Lei juga tertawa renyah karena hal ini.


"Takut, ya? Kalau takut, berlututlah dan hancurkan kultivasimu sendiri, mungkin aku bisa memaafkan dirimu ...."


Bukannya takut, Qinli justru tertawa menyeringai.


"Yang seharusnya takut bukan aku ...."


Qinli memainkan pedang Zhanlu ke atas hingga membuat rasa ketakutan di dalam tubuh Tuan Lei semakin besar. Ia terus mengawasi pergerakan Qinli yang bergerak lincah dan gesit.


"Bahkan domainku tidak mampu menahan kekuatan serangannya ...." gumam Tuan Lei benar-benar ketakutan jika dirinya harus berakhir saat ini.


Raut wajah Tuan Lei berubah pias. Urat nadinya justru terlihat menegang karena terlalu takut.


"Seprtinya kekuatannya sudah jauh melebihi Alam Reinkarnasi, sial ...." ucap Tuan Lei bersungut-sungut.


Ia bahkan tidak menyangka jika perubahan kekuatan Qinli begitu cepat. Di tambah lagi Tuan Lei sudah ketakutan jika kelompoknya berpisah dan tercerai berai.


"Sudah tidak ada cara lain lagi ....."

__ADS_1


__ADS_2