
Tetua itu tampak tenang, "Melihat reaksi Anda, pasti Anda sudah pernah bertemu dengan saudaraku ...."
Tentu saja Qinli tertegun dengan ucapan Tetua tersebut. Terjadi perdebatan batin di sana. 'Apakah aku salah mengenalinya?'
Qinli tampak masih memperhatikan orang tua di hadapannya saat ini. Rupanya ia mengetahui apa yang dipikirkan Qinli.
"Anda pasti punya banyak pertanyaan, kita bahas di dalam saja!" ajak Tetua tersebut.
"Melihat rupanya, memang lebih tua dan sepertinya tidak punya niat jahat!"
Akhirnya Qinli pun mengekor di belakangnya saat masuk ke dalam rumah. Ternyata Qinli diajak untuk minum teh bersama sambil mengatakan tentang siapa dirinya.
"Sebenarnya aku adalah adik kandung Tetua Kuil Dewa Yin."
Tentu saja Qinli terkejut akan hal itu. "Adik kandung? Aku tidak pernah dengar kalau Tetua Kuil Dewa Yin itu mempunyai saudara ...."
Tiba-tiba saja Tetua menggebrak meja teh. Terlihat amarah meletup-letup dari matanya. "Tentu saja dia tidak bilang! Dia yang menyegelku di sini!"
Sesaat kemudian ia mulai menceritakan kisahnya.
"Waktu itu di saat yang bersamaan, kami berdua mencapai Alam Dominasi, tapi dia dengan cepatnya bisa mencapai Setengah Abadi dalan waktu singkat dan terbang ke atas!"
__ADS_1
"Sedangkan aku menghabiskan banyak waktu tapi sama sekali tidak dapat mencapai Setengah Abadi."
"Tepat di saat aku putus asa, entah menggunakan cara apa saudaraku itu menghubungiku."
"Kupikir dia turun ke dunia untuk membantuku naik level, tapi ketika dia kembali ke dunia ini ... dia malah menyegelku di sini!"
Qinli agak terkejut dengan cerita Tetua. "Karena dia sudah menghianatimu, kenapa dia tidak langsung membunuhmu? Akan tetapi malah menyegelmu di sini?"
Tetua kini menatap Qinli. "Apa Anda tahu di antara semua daratan ini ada daratan melebihi tingkat sembilan?"
"Maksudmu di sini adalah Daratan Huangdi?"
"Benar!"
Qinli bahkan kini sudah berdiri sambil memandang ragu ke arah Tetua. "Bukankah seharusnya Daratan Huangdi itu bumi?"
Tetua tampak menyeruput teh miliknya, lalu sesaat kemudian melanjutkan ucapannya. " ... Sebenarnya di sini adalah pecahan inti dari daratan yang tersisa setelah Daratan Huangdi hancur."
"Pecahan inti?"
Setelahnya muncul banyak pertanyaan di kepala Qinli.
__ADS_1
"Apakah sumber kekuatan Huangdi tersegel di sini?"
"Senior Dewa Obat waktu itu pernah bilang kalau ingin menyegel Daratan Huangdi, harus ada bantuan dari prajurit lokal ...."
"Tetua Kuil Dewa Yin itu bukan prajurit lokal, tapi adik kandungnya, iya ...."
"Kelihatannya kemungkinan besar sumber kekuatan Huangdi memang ada di sini!"
"Lalu apakah Anda tahu caranya membuka segel daratan ini?" tanya Qinli penasaran.
Tetua tampak memejamkan kedua matanya. "Kalau aku tahu, aku tidak akan terjebak di sini ribuan tahun."
"Tapi ada sebuah area terlarang di daratan ini, hanya saja tidak ada satu pun prajurit yang mampu masuk ke area tersebut."
"Petunjuk untuk membuka segel mungkin ada di pegunungan itu."
Tidak berapa lama kemudian, Qinli akhirnya diajak untuk melihatnya. Kini di depan Qinli ada sebuah kawasan pegunungan yang memperlihatkan betapa dahsyatnya petir yang berada di area tersebut.
Beberapa rantai terlihat mengelilinginya. Namun, pandangan Qinli tertuju pada sebuah gunung tertinggi. Di sana sepertinya puncak kekuatan terbesar.
"Kekuatan petir yang begitu dahsyat! Pantas saja dia bilang, dia pun tidak berani memasuki area terlarang ini."
__ADS_1
Petir di sana tampak menyambar-nyambar lalu sejenak menghantam bebatuan di depan Qinli.
"JEDAR!"