
"Terima kasih ...." ucap Pemimpin Keluarga Wu pada Qinli.
"Sama-sama, Pemimpin Wu," balas Qinli dengan tersenyum.
Namun Qinli begitu miris dengan kebohongan yang dilakukan oleh Pemimpin Wu dan kedua Tetua di belakangnya. Mereka tega melukai dirinya sendiri dan berbohong agar tidak ikut menemani Qinli masuk ke dalam Pegunungan Feilong.
"Melukai diri sendiri hanya karena tidak ingin masuk ke gunung Feilong? Otaknya benar-benar bermasalah," gumam Qinli.
"Namun sebenarnya apa yang tersembunyi di dalam Gunung Feilong ini sampai bisa membuat orang-orang ini begitu takut?"
Banyak sekali pertanyaan yang menghinggapi Qinli. Terlebih ketika melihat ketiga orang besar di hadapannya kali ini sampai tega melukai diri sendiri demi hal itu.
Qinli semakin terkejut ketika mengechek kondisi tubuh mereka satu persatu.
"Tidak disangka demi membiarkanku masuk ke dalam Gunung Feilong, mereka rela melukai titik akupuntur vi-tal mereka, benar-benar telah melakukan pengorbanan besar."
Setelah berhasil melukai dirinya sendiri, Pemimpin Wu terbatuk-batuk seolah ia benar-benar sakit parah. Sorot matanya pun seolah terlihat sangat layu, wajahnya pun pucat.
"Cedera kami sangat serius dan akan memakan waktu lama untuk menyembuhkannya. Lebih baik Tuan Qin pergi menyelamatkan murid dari Sekte Tuan terlebih dahulu, karena itu yang paling penting!" ucap Pemimpin Wu.
"Pemimpin Wu benar-benar sangat berhati baik, aku sangat kagum! Namun, kalian memang perlu istirahat. Jangan melakukan hal yang ceroboh beberapa waktu ini, ya!"
Di dalam hati Qinli, ia berkata lain, "Karena kalian suka sakit, maka akan aku biarkan kalian sakit ...."
Ketiga pemimpin Keluarga Wu tersebut kompak mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Qinli.
"Baik, kami pasti akan mengingat nasihat Tuan Qin!" ucap mereka dengan wajah pucat pasi.
"Kalau begitu, aku pamit dulu!" ucap Qinli sambil melangkah pergi.
SYUH
Akhirnya ia benar-benar meninggalkan ketiga pimpinan Keluarga Wu tersebut. Namun, ternyata ketiga orang tadi berniat hal lain pada Qinli. Tetua Kedua Keluarga Wu mengeluarkan sebuah cermin yang tadinya ia arahkan kepada Qinli untuk mengecek seberapa tinggi tingkat ilmu tenaga dalamnya.
Sebuah senyuman menyeringai ia perlihatkan kepada Pemimpin Wu.
"Pemimpin lihat!" ucap Kedua Tetua Keluarga Wu.
Pemimpin Wu menoleh ke arah kedua tetua dengan senyuman meremehkan kekuatan Qinli.
"Ternyata cuma Alam Langit! Aku jadi semakin yakin akan berjalan sesuai rencana. Tapi sepertinya dia mempunyai banyak pil obat, sayang sekali!"
__ADS_1
Malam harinya_
Di bawah cahaya rembulan sabit di ufuk timur, seekor elang raksasa yang merupakan salah satu binatang spiritual terbang melesat di angkasa. Tubuhnya yang sangat besar sedari tadi terus mengikuti kemana Qinli terbang.
Tentu saja Qinli sangat risih akan hal itu. Ia pun berusaha untuk menghalau elang itu. Qinli sengaja menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk mengusir elang itu.
"Pergilah!" ucap Qinli sambil mengarahkan tenaga dalamnya ke arah Elang Raksasa.
Akhirnya elang tersebut berhasil pergi meninggalkan Qinli. Sementara itu Qinli masih melihat ke arah elang itu pergi.
"Aku sudah diserang kelima kali. Kelihatannya kalau di udara akan menjadi sasaran empuk, lebih baik aku mencari mereka di darat saja."
Baru saja Qinli hendak melangkah ternyata terdengar suara gemericik di salah satu bagian depan gunung Feilong.
"Itu dia!" ucap Qinli sambil menajamkan penglihatannya.
Sementara itu di dalam hutan Nona Xing'Er mengendap-endap agar ia bisa kabur dengan selamat.
"A ... Apa aku berhasil kabur?" ucap Nona Xing'Er setengah berbisik.
Nona Xing'Er terkejut ketika rerimbunan dedaunan semak-semak berbunyi.
SRASH ... SRASH ....
Nona Xing'Er terlihat sangat ketakutan, ia bahkan berjalan mundur untuk segera melarikan diri dari tempat tersebut. Suara semak-semak semakin berisik membuat Nona Xing'Er semakin ketakutan.
Sesaat kemudian, bayangan hitam di belakang Nona Xing'Er menyentuh bahunya. Tentu saja wajah Nona Xing'Er seketika pucat pasi. Ia bahkan terbata-bata dalam berucap.
"Si, si, si, si ... siapa?" ucap Nona Xing'Er dengan mata sedikit melirik ke samping.
Saat ia menoleh, bayangan hitam itu semakin terlihat menakutkan dan membuat badan Nona Xing'Er bergetar. Kedua matanya terbelalak tajam.
"Setan ...." ucapnya ketakutan.
"Huhu! Setan jangan memakanku, aku ada banyak makanan enak, akan aku berikan semuanya kepadamu!"
Hampir semua isi tas Nona Xing'Er ia keluarkan dan lemparkan ke arah bayangan hitam tersebut. Ada macam-macam barang yang keluar dari sana. Madu, pisau, apel, boneka, aneka macam pil dan pakaian dalam wanita ada di dalam tas Nona Xing'Er dan sekarang beterbangan menuju bayangan hitam tersebut.
Dari belakang pohon muncul seekor beruang madu dengan ukuran raksasa sedang mengaum kepada Nona Xing'Er.
...GROAR...
__ADS_1
Nona Xing'Er semakin terkejut karena ternyata ada bahaya lain yang mengintai selain bayangan hitam tadi, yaitu seekor beruang besar yang sedang kelaparan.
"Ga ... Gawat ... Aku lupa masih ada satu ekor ...."
Nona Xing'Er meringkuk ketakutan dengan menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.
...SWOOSH...
Sebuah kekuatan besar menghantam tubuh beruang tersebut lalu seketika membuatnya terjatuh ke bawah.
...BUGH...
Nona Xing'Er yang awalnya menutup kedua matanya, sesaat kemudian mulai membuka mata secara perlahan. Sementara itu di hadapan Nona Xing'Er beruang tersebut sudah mati tidak bergerak.
"Aku berhasil menghindarinya? Kenapa dia tidak bergerak?" ucapnya di dalam hati.
...KRAK...
Bayangan tinggi besar hitam itu berjalan mendekati Nona Xing'Er yang merangkak mundur sampai terantuk batang pohon.
"Jangan kemari!" teriaknya.
Bukannya menuruti perkataan dari Nona Xing'Er, bayangan itu terus mendekatinya. Sehingga membuat Nona Xing'Er semakin ketakutan. Bahkan ia berkali-kali bersujud meminta maaf kepada bayangan hitam itu agar ia pergi.
"Setan! Jangan makan aku! Jangan makan aku!" teriaknya ketakutan.
"Siapa bilang aku mau memakanmu?" ucap Qinli sambil tersenyum.
Nona Xing'Er yang awalnya ketakutan, setelah mendengar suara Qinli berubah menjadi senang. Kedua matanya berbinar.
"Guru!" teriaknya bahagia.
Namun saat wajah Qinli muncul, ada segitiga merah muda terbalik (****** *****) milik Nona Xing'Er yang berada tepat dikepala Qinli. Tentu saja hal itu membuat Nona Xing'Er pucat pasi.
Qinli yang merasa ada sesuatu yang menempel di kepalanya segera mengambil dengan salah satu tangannya.
"Anu ... Maaf ya, Guru!" ucap Nona Xing'Er sambil menunduk.
Bukan hanya ****** ***** yang dibawa Qinli, tangan kirinya memegang sebuah teflon yang dilemparkan Nona Xing'Er tadi kepadanya. Sementara itu Qinli bertanya kepada Nona Xing'Er kenapa dirinya berada di situ.
"Kenapa kau kemari? Bukankah aku menyuruhmu ...." tanya Qinli.
__ADS_1
"Saat itu, aku ...."
BERSAMBUNG