MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 169


__ADS_3

Qiao Feng meminta putrinya untuk kembali lagi ke rumah daripada mengikutinya.


"Di sini tidak aman, lebih baik kau pulang saja dulu," ucapnya sambil membelai lembut kepala putrinya.


"Oke!"


Lalu Qiao Feng mengajak Qinli untuk segera masuk.


"Tuan Qin, mari kita masuk!"


"Baik!"


Sesaat kemudian mereka semua masuk ke dalam pintu rahasia tersebut. Namun, keanehan terjadi saat Qinli tiba di dalam sana. Qinli begitu terkejut ketika ia menyadari bahwa ia sendirian di alam rahasia tersebut.


"Di mana yang lain?"


"Apakah setiap orang di kirim ke lokasi acak?"


Qinli bergegas mencari keberadaan Tuan Qiao. Dengan cepat ia melompat secepat kilat, menjelajah hutan di dalam alam rahasia.


"Tuan Qiao tidak memberi tahuku bahwa lokasinya acak setelah memasuki alam rahasia!"


Saat melintasi sebuah sungai, perhatian Qinli terganggu akan adanya sebuah kekuatan spiritual. Hal tersebut tenyata berasal dari sebuah tanaman yang hidup di atas batu. Qinli menoleh ke arahnya.


"Oh! Tanaman spiritual level empat!" gumamnya.


Qinli yang melihat hal tersebut tidak ingin menyia-nyiakan waktunya. Ia segera melompat ke arah batu tersebut.


"Meski tidak sebagus tanaman yang ada di dalam cincin penyimpananku, tapi sekarang situasinya berbeda. Aku tidak boleh pilih-pilih lagi," gumamnya.


Selepas mengambil bunga tersebut dan menyimpannya ke dalam cincin milik Qinli, terdengar suara keributan di salah daerah belakang Qinli.


...BAM...


...BAM...


"Jangan lari, Nona."


"Menjauhlah dariku! Siapa pun tolong aku!"


"Aku akan berada dalam bahaya kalau memaksa untuk menyelamatkannya, bagaimana kalau itu jebakan?" gumam Qinli.


"Hehe, teriak saja sesuka hatimu! Tidak akan ada yang datang menolongmu!"


Suara-suara itu begitu mengganggu, sehingga membuat Qinli semakin tidak tega jika tidak menolong orang tersebut.


"Aih, orang baik punya kehidupan yang sulit!" ucapnya sambil melesat ke tempat keributan itu.


Ternyata di belakang Qinli, Ling Ling'er sedang berhadapan dengan ketiga orang prajurit.


"Hehe, Nona. Serahkan barang itu pada kami dan bersenang-senanglah dengan kami. Setelah itu, kami akan melepaskanmu, bagaimana?"


"Jangan! Tolong!" teriak Ling Ling'er sambil berteriak.


...SWOSH...


Beberapa saat kemudian muncul Qinli tepat di hadapan Ling Ling'er.

__ADS_1


"Apa kalian tidak malu menindas seorang gadis di siang bolong begini?"


"Gadis kecil ini mencuri barang kami, bocah tengik! Lebih baik kau jangan ikut campur!" gertak salah seorang prajurit.


"Gadis kecil ini mencuri barang kami, bocah tengik! Lebih baik kau jangan ikut campur!" gertak salah satu kesatria.


"Jangan dengar omong kosong mereka! Aku sendiri yang menemukan barang itu!" ucap Liang Ling'Er.


Tiba-tiba saja Qinli merubah mimik wajahnya.


"Aku akan membawanya pergi. Jangan coba-coba menghalangiku!"


Ketiga orang di depannya saat ini sangat marah pada Qinli.


"Kelihatannya kau sangat tidak tahu diri, ya!" ujar mereka yang sudah terlihat marah.


Tidak butuh waktu yang lama, ketiga prajurit tersebut secara bersamaan saling menyerang Qinli. Beruntung, Qinli sudah mengeluarkan tenaga dalamnya untuk bersiaga.


...BOOM!...


Ketiga kesatria tersebut tidak bisa menahan benteng pertahanan yang dilakukan oleh Qinli. Tentu saja ketiganya merasa terkejut. Terlebih lagi tubuh Qinli terlihat sangat kecil. Mana mungkin kekuatannya sangat hebat.


"Apa!" teriak mereka secara bersamaan.


Saat Qinli menghilang ketiganya tidak bisa memprediksi posisi Qinli, sehingga membuat Qinli dengan mudah dapat menyerang ketiganya secara membabi buta.


...BUGH!...


...BUGH!...


"Argh!"


"Tunggu saja, kau!"


Ketiganya langsung melesat pergi setelah mengancam Qinli. Kini tinggalah mereka berdua.


"Bagus, aku akan pergi tanpa menunjukkan lukaku," batin Qinli.


Karena merasa sangat bahagia, Ling'Er memeluk Qinli dari arah belakang, hingga sesaat kemudian hal itu membuat Qinli muntah da-rah. Belum lagi akibat Ling'Er yang memeluk tubuh Qinli dengan sengaja.


Hal itu mengakibatkan tiga jarum akupuntur tepat menusuk punggung Qinli hingga semakin masuk hingga tulang rusuk.


Namun, dengan polosnya Ling'Er bertanya, "Penyelamatku kau baik-baik saja, kan?"


Tentu saja Qinli semakin terlihat kesulitan bernafas, hingga secepat kilat ia menjauhinya.


"Shh."


Qinli mencoba mencabut ketiga jarum tersebut menggunakan tangan kirinya. Keringat sebiji jagung pun mengucur dari kening Qinli. Ling'Er bertanya pada Qinli karena takut ia semakin luka parah.


"Apa kau terluka? ... Kau tidak apa-apa, kan?"


Sambil mencabut ketiga jarum akupuntur tersebut, meskipun sangat terluka Qinli mengatakan jika dirinya baik-baik saja.


"A ... A ... Aku baik-baik saja," ucapnya sedikit terbata.


"Oh, iya!"

__ADS_1


Ling'Er tiba-tiba saja mengetuk cincin berwarna hijau di jari telunjuk sebelah kanan miliknya. Secara ajaib dari dalam cincin tersebut muncul tanaman herbal berwarna hijau. Dengan wajah ceria ia menyerahkan tanaman itu pada Qinli.


"Penyelamatku, ini untukmu, seharusnya sangat berguna untuk menyembuhkan lukamu!"


"Tanaman spiritual level enam?" Qinli terkejut melihat Ling'Er bisa mempunyai tanaman tersebut.


"Pantas saja dia dikejar oleh tiga orang itu?" gumam Qinli.


Qinli bukanlah orang yang tamak dan baik budi pekertinya. Ia merasa tidak nyaman jika meminya imbalan untuk hal yang barusan ia lakukan, dengan menangkupkan kedua tangannya dan membungkuk, Qinli menolaknya.


"Barang ini terlalu berharga. Tadi aku hanya kebetulan lewat, jadi sekalian menyelamatkan Nona. Lebih baik, Nona simpan barang ini saja."


Namun, tidak disangka, Nona Ling'Er mendekat ke arah Qinli lalu memaksanya untuk menerima.


"Ambil saja, penyelamatku. Kultivasiku terlalu rendah, tanaman spiritual ini sepertinya tidak berguna untukku," ucapnya sambil tersenyum.


"Baiklah."


..._Malam Harinya_...


Demi kesembuhan Qinli, Nona Ling'Er menemaninya bermalam di sebuah gua. Saat Qinli sedang melakukan penyembuhan untuk dirinya, Nona Ling'Er menyalakan api unggun.


Beberapa saat kemudian, kedua mata Qinli sudah terbuka kembali. Nona Ling'Er menyambutnya dengan senang hati.


"Apakah lukamu sudah sembuh?" tanya Nona Ling'Er.


"Iya, sudah lumayan pulih."


"Akhirnya, aku bisa menggunakan sebagian kekuatanku tanpa harus menggunakan jarum akupuntur!" ucap Qinli di dalam hati.


Tiba-tiba saja terdengar suara beberapa orang di luar yang meributkan keluarga Qiao.


"Anggota keluarga Qiao kabur ke arah sana! Ayo kejar mereka!"


Sontak Qinli menoleh ke arah luar gua.


"Keluarga Qiao."


Mendengar hal itu, Qinli dengan cepat menarik lengan Nona Ling'Er.


...SWOOSH!...


Di salah satu Hutan Rahasia, terlihat dua orang dari Keluarga Qiao terjebak diantara tiga orang prajurit.


"Kalian tidak akan bisa lari dariku. Sebelum kalian mati, aku ingin kalian tahu bahwa kali ini Keluarga Gu sudah bertekad bulat untuk memusnahkan prajurit elite Keluarga Qiao di alam rahasia ini!"


"Oh. Bagaimana memusnahkannya?"


"Haha, dari awal kami sudah diam-diam mengutus prajurit bela diri dua kali lipat lebih banyak dari jumlah kalian dan bersiap-siap ...."


Mimik wajah salah satu prajurit berubah pias ketika mendengar salah seorang berbicara dari belakangnya.


"Siapa itu?"


"Siapa yang berbicara tadi?"


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2