MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 127


__ADS_3

Sebuah bola besar sebesar kubah raksasa berwarna kuning keemasan sedang menuju ke arah Qinli berada. Bola besar itu berputar dengan sangat cepatnya, hendak menyerang Qinli dan Tuan Muda Xu dengan jarak yang sudah semakin dekat.


...SWISH...


"Cepat menghindar!"


Tetapi karena jarak yang sudah terlalu dekat, Qinli tak dapat menghindarinya dan bola besar itu meledak saat bersentuhan dengan tubuh Qinli.


...BOOM...


Ledakan dahsyat sudah tidak bisa dihindarkan lagi. Bola keemasan itu meledak dengan sangat luar biasa hingga menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya, begitu pula dengan kedahsyatan kekuatannya.


Mata Nona Mao terbelalak ketika mendapati tubuh Qinli yang hanya luka memar di beberapa bagian tubuhnya dan ia selamat dari ledakan bola keemasan tadi.


"Tidak disangka kau cukup tangguh!"


"Tapi, mangsa yang menerobos masuk ke wilayahku tidak akan bisa keluar hidup-hidup!" ucap lelaki bertopeng merah dengan baju panjang berwarna putih.


"Tuan Muda Xu, kau dan Tetua Xia bawa kakek pergi dulu."


"Baik, bos. Tapi kau sendiri .... "


Bagaimanapun Tuan Muda Xu mengkhawatirkan keadaan Qinli.


"Tidak perlu khawatir, aku akan menyusul kalian nanti!" ucap Qinli.


Kini Qinli mulai berdiri lalu membersihkan pakaiannya lalu menatap tajam lelaki itu. Qinli menoleh dan memberi kode pada Nona Mao dengan sebuah anggukan dan dibalas anggukan kembali oleh Nona Mao.


Lalu setelahnya keduanya bersama-sama menyerang lelaki bertopeng merah itu.


"Matilah!" seru Qinli dengan mengarahkan Pedang Zhanlu ke arah lelaki itu.


Sementara itu, Nona Mao menyerang ke tangan bagian kiri dengan pisau belati miliknya, Qinli mengarah ke tangan kanan lelaki itu. Sayang, kedua serangan Qinli dan Nona Mao berhasil di tangkis lelaki itu.


...KLANG ... KLANG ......


"Ini tidak ada apa-apanya," ujar lelaki bertopeng merah itu.


"Begitu, ya?"


Sesaat kemudian wajah lelaki bertopeng itu berubah pias. Seketika tubuhnya membeku tatkala Pedang Zhanlu itu menancap sempurna pada punggung hingga menembus dada bagian depannya. Semburan darah mengalir deras dari lubang bekas tusukan Pedang Zhanlu tersebut.


...PUFT...


Lelaki bertopeng merah itu menyemburkan darah segar dari mulutnya dan tumbang.


"Ayo pergi!" ajak Qinli pada Nona Mao.


Setelah menghabisi lelaki bertopeng merah itu, mereka berempat langsung pergi ke tepi pantai. Tuan Muda Xu masih menggendong Kakek Badao. Sementara Qinli berjalan di belakangnya. Jejak langkah mereka di tepi pantai pun masih tercetak jelas di tengah lautan pasir itu.


"Bagus, misi selesai!" ucap Tuan Muda Xu.

__ADS_1


"Kakek terluka parah, aku tidak yakin bisa menyembuhkannya," ucap Qinli pesimis.


"Bos, jangan pesimis, aku yakin kau pasti bisa."


Tuan Muda Xu menyemangati Qinli.


"Semoga saja," ucap Qinli sambil menutup mata


Ada keraguan yang menghinggapinya saat ini, tapi ia memang harus berusaha terlebih dahulu. Sesaat kemudian, Qinli teringat lelaki berkaca mata kapan hari yang mengaku sebagai pamannya.


Ia mengatakan, "Namun, jika kau ingin menemukan orang tuamu, kau bisa bertanya pada Kakek Qin."


"Sebenarnya, rahasia apa yang disembunyikan Kakek Badao? Kenapa dia tidak mau memberi tahuku?" batin Qinli.


"Aaaaargh!" teriak Tuan Muda Xu.


Ia berlutut sambil memegangi kepalanya.


"Sakit! Kepalaku ... sakit!"


Semakin lama wajah Tuan Muda Xu menghitam. Qinli kemudian mendekatinya.


"Cepat bantu aku!" teriak Qinli sambil menoleh ke arah Tetua Xia dan Nona Mao.


"Dia kenapa?" tanya Nona Mao.


Qinli memeriksa tubuh Tuan Muda Xu.


"Dia terkena racun, dan sepertinya racun tersebut sama seperti yang ada di dalam tubuh Kakek Qin," ucap Qinli sambil membuka mata Tuan Muda Xu.


Tuan Muda Xu terus terbatuk-batuk. Sementara Tetua Xia memegang tubuh Kakek Badao dengan sebuah sapu tangan.


"Kita berempat pernah bersentuhan dengan kakek, kenapa hanya Tuan Muda Xu ...."


Qinli menoleh ke arah Tetua Xia dan Kakek Badao.


Beberapa saat kemudian Tuan Muda Xu muntah darah.


"Kelihatannya dia tidak bisa bertahan lama, dan tidak ada satu pun orang di tempat mengerikan ini, sekarang kita harus bagaimana?" ucap Nona Mao memandang tubuh Tuan Muda Xu yang sudah terluka parah.


Tiba-tiba dari arah kejauhan terlihat sebuah helikopter mendekati keberadaan Qinli dan teman-temannya.


"Lihat, penyelamat kita sudah datang," ucap Qinli melihat ke arah depan.


Helikopter itu akhirnya mendarat di dekat Qinli.


...DRRTT ... DRRTT ... DRRTT...


...WUSH ... WUSH ........


Pintu helikopter tersebut terbuka.

__ADS_1


"Tuan Qin, cepat naik!" teriak Nona Bangsawan di pintu masuk helikopter.


Setelah beberapa saat mereka mulai masuk ke dalam helikopter. Kepala Tuan Muda Xu dipangku oleh Nona Mao, lalu Qinli meminumkan pil obat yang ia bawa tadi.


Setelah itu, Qinli mulai melakukan pengobatan mengunakan jarum perak miliknya. Ia menancapkan jarum itu tepat di tengah kening Tuan Muda Xu.


"Untungnya, aku membawa pil yang diberikan Tetua Xia, jika tidak ..." ucapan Qinli tertahan.


Sesaat kemudian Nyonya Bangsawan mendekati Qinli.


"Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa terluka begitu parah?" ucapnya.


Kesiagaan Nona Mao muncul saat itu. Ia langsung mengarahkan pisau belatinya ke leher Nyonya Bangsawan.


"Justru aku yang harus bertanya padamu. Kenapa kau bisa muncul di sini? Jangan bilang ini sebuah kebetulan!" gertak Nona Mao.


"Aku mendengar suara ledakan tadi dan menemukan bahwa kalian sudah turun dari kapal."


"Aku takut terjadi sesuatu pada kalian, jadi aku segera datang ke sini untuk melihat ...."


"Sebaiknya kau tidak mempermainkan kami!" ucap Nona Mao sambil menarik kembali pisau belatinya.


"Organ dalam tubuhnya rusak karena racun serangga itu, Pil Tianyuan juga tidak bisa menyelamatkan hidupnya, hanya tersisa waktu satu bulan. Jika aku tidak bisa menemukan obat yang bisa menyelamatkannya dalam waktu satu bulan ...."


Qinli memandang tubuh Tuan Muda Xu yang terlelap itu. Lalu, tepukan halus dari Nyonya Bangsawan membuyarkan lamunan Qinli. Ia tersenyum ke arah Qinli.


"Tuan Qin, jika kau butuh, aku bersedia mengeluarkan seluruh kemampuanku untuk membantumu," ucap Nyonya Bangsawan lembut.


Qinli yang berjongkok tadi lalu berdiri dan tersenyum pada Nyonya Bangsawan.


"Nyonya sudah banyak membantu kami, kami tidak ingin merepotkanmu."


"Tuan Qin terlalu sungkan, bisa dibilang kita impas. Selanjutnya, kalian mau kemana?"


"Tolong turunkan kami di bandara terdekat," ucap Qinli.


.


.


Beberapa saat kemudian, Nyonya Bangsawan benar-benar mengantarkan Qinli dan rombongannya ke bandara terdekat. Setelah memastikan pesawat yang Qinli naiki lepas landas, Nyonya Bangsawan kembali menjalankan misinya.


"Nyonya, kita sudah mengirim mereka pergi sesuai rencana dia, selanjutnya apa yang harus kita lakukan?" ucap pengawal berkepala botak ajudan Nyonya Bangsawan.


Nyonya Bangsawan berbalik ke arah helikopter miliknya dan diikuti oleh pengawalnya tadi.


"Kembali ke pulau untuk menyerahkan tugas kita," ucap Nyonya Bangsawan.


"Baik," jawab pengawal berkepala botak itu.


.

__ADS_1


.


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2