
Yu Quanxing tersenyum puas, ketika bisa membangkitkan amarah Zhuge Cang.
"Tuan Cang, kau tidak perlu datang ke Pulau Selatan untuk membunuh Qinli, beberapa hari lagi, dia akan kembali ke Shangjing."
"Lebih baik kita datang ke Shangjing terlebih dahulu dan memasang jebakan untuknya, sebanyak apa pun rencana kotor yang dia miliki, pasti tidak akan bisa melarikan diri!" ucap Yu Quanxing.
Dengan wajah memendam amarah, Zhuge Cang mengiyakan rencana Yu Quanxing.
"Baik, lakukan sesuai perkataanmu."
Sambil mematikan ponselnya, Yu Quanxing tersenyum lebar.
"Qinli aku akan membuat Shangjing menjadi kuburanmu!" batin Yu Quanxing.
.
.
Di hotel tempat Qinli menginap, ia sedang berdiskusi dengan Tuan Jiang dan Wei Nuannuan.
"Urusan di Pulau Selatan sudah hampir selesai, beberapa hari ini, kita akan kembali ke Shangjing untuk membantu Nuannuan menyelesaikan masalah keluarga," ucap Qinli.
"Ha? Kembali ke Shangjing?" ucap Wei Nuannuan terkejut.
"Bos, Keluarga Wei ada di wilayah barat, apa kau tidak salah?" tanya Tuan Jiang.
"Tidak!" ucap Qinli tenang.
Wei Nuannuan semakin bingung dengan keinginan Qinli dan Tuan Jiang. Ia pun menoleh ke kanan dan ke kiri. Belum sempat keterkejutannya berakhir, dari arah pintu terdengar suara ketukan yang sangat keras.
...BUM ... BUM ... BUM!...
Tuan Jiang pergi untuk membukakan pintu.
"Siapa? Malam-malam begini?" tanya Jiangjun.
Dari luar pintu terdengar suara Ketua Geng Serigala Langit berbicara.
"Kak Jiang, ini aku Gaolei."
Ceklek, pintu kamar terbuka.
"Hai, Kak Jiang, apakah Bos Qin ada?" tanya Gaolei.
"Ada," jawab Jiangjun.
__ADS_1
...BANG!...
Pintu terbuka, dan banyak orang yang ingin masuk ke kamar Qinli dengan membawa banyak hadiah mewah. Ada yang membawa satu peti kecil yang berisi emas batangan, ada hadiah ginseng ratusan tahun, dan masih banyak lagi.
Mereka berebutan untuk masuk ke kamar Qinli, hingga ada yang terinjak celananya hingga ia terjatuh. Tetapi kebanyakan yang datang ke kamar Qinli adalah para ketua sekte yang mayoritas laki-laki.
"Bos Qin!"
"Sial! Jangan menginjak celanaku!" seru lelaki yang paling depan ketika ia terjatuh karena terinjak celananya.
Tentu saja hal ini membuat Jiangjun panik da terkejut karena banyak orang yang berdatangan ke kamar Qinli. Apalagi mereka berebut untuk masuk kamar.
"A ... ada apa ini?"
Sama halnya dengan Qinli yang bingung karena orang-orang itu seperti orang yang sedang bertemu idolanya sambil membawakan hadiah untuknya. Bahkan mereka berteriak menyebut Qinli.
"Bos Qin, aku bersedia memberikan tambang batu spiritual terbesar di Pulau Selatan untukmu," ucap lelaki di belakang sambil mengangkat hadiahnya ke atas.
"Bos Qin, semua aset Geng Fuxing aku berikan padamu."
"Aku adalah pemimpin dari Sekte Yanantang."
"Aku adalah Tetua Sekte Shanhai."
"Aku ...."
"Aku ...."
Lalu Tuan Gao mulai menjelaskan siapa mereka pada Qinli.
"Mereka semua adalah Tetua dari berbagai Sekte di Pulau Selatan, mereka terkesan dengan kekuatanmu dan ingin menjadi pengikutmu."
Setelah mendengar penjelasan dari Tuan Gao, Jiangjun memiliki sebuah ide, lalu ia membisikkan sesuatu pada Qinli.
"Bos, kenapa kau tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk mendirikan pasukan sendiri?"
"Pasukan sendiri?" pikir Qinli.
"Meski sekarang adalah kesempatan yang baik untuk mendirikan pasukan, tapi waktunya masih belum tepat, tidak boleh membiarkan ini menjadi rumit."
Tetapi Qinli bukanlah orang yang tamak akan tahta dan kekuasaan. Ia hanya ingin membantu orang-orang yang membutuhkan saja.
"Aku tidak selalu ada di Pulau Selatan dan tidak bisa menjaga kalian. Jika kalian benar-benar ingin menjadi pengikutku, kalian bisa bergabung dulu ke Sekte Xuan, ada Tetua Xia yang akan mempimpin kalian," ucap Qinli bijak.
"Ah, ini!" ucap mereka tampak kecewa.
__ADS_1
Tapi bagaimana pun Qinli tidak bisa berbohong, karena ia juga tidai bisa meninggalkan kewajibannya menjadi dokter di Shangjing.
Lalu mereka mulai berdiskusi.
"Anu ... Tetua Wang, bagaimana pendapatmu?"
"Sekte Sanhetang sudah tiada, Sekte Xuan punya sejarah panjang dan punya pengaruh besar. Karena Bos Qin telah memberi petunjuk kepada kita, maka aku bersedia bergabung."
"Kami semua bersedia!"
"Aku juga!"
Hampir semua Tetua yang mendatangi Qinli setuju akan usulan darinya. Lalu, karena hari sudah malam, maka Qinli meminta mereka segera menemui Tetua Xia.
"Kalau begitu, silakan semua Tetua ke Sekte Xuan besok, hari sudah larut malam, tidak bisa menemani kalian lagi," ucap Qinli dengan sopan.
Sebelum mereka pergi, tak lupa mereka semua memberikan hadiah yang mereka bawa kepada Qinli.
"Ini ada hadiah dari kami, tolong terimalah."
"Eh?" ucap Qinli kewalahan karena mereka semua memberikan hadiah itu padanya.
Setelah mereka pergi, Qinli menaruh semua hadiah itu di atas meja. Sejenak ia mengingat kedua orang tuanya.
"Kelihatannya ayah dan ibu sama sekali tidak pernah datang ke pulau selatan, selanjutnya hanya bisa mencari tahu keberadaan mereka di tempat lain."
Karena wajah Qinli terlihat sendu, Tuan Gao menegurnya.
"Kelihatannya Bos Qin tidak menyukai hadiah-hadiah ini," ucap Tuan Gao.
Qinli menoleh ke arahnya, "Kak Gao, jangan menyindirku."
"Oh iya, apakah kau mengenal alkemis di antara sekte dan pasukan di Pulau Selatan," tanya Qinli.
"Alkemis? Pulau Selatan tidak ada alkemis, jika kau tertarik dengan alkemis, kau bisa ke Chuanshu," terang Kak Gao.
"Waktu itu Kader He sering mengunjungi Chuanshu untuk mempelajari alkemia."
Chuashu ... tempat apa itu?
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1