MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 118


__ADS_3

Qinli menoleh ke arah Nona Mao sambil tersenyum.


"Ternyata kau cukup pintar menyalahkan korbanmu, ya?" ucap Qinli.


Sementara itu di atas ranting pohon yang menjulang, ada dua orang yang sedang mengawasi Qinli dan Nona Mao.


"Tetua, apa masih perlu turun tangan?"


"Tidak perlu, bocah itu adalah anggota Keluarga Qin, jangan membuat masalah menjadi besar. Anggap dia beruntung, ayo kita pulang!" ajak Tetua Huang pada anak buahnya.


Ternyata Nona Mao masih terus mengikuti kemana Qinli pergi. Hingga mereka sampai di dalam rumah Qinli. Qinli yang merasa risih karena Nona Mao terus mengikutinya kini menegurnya secara langsung.


"Bisakah kau berhenti mengikutiku? Kita tidak begitu dekat, 'kan?" tegur Qinli.


Bukannya menjawab, Nona Mao malah memberi tahukan intuisinya pada Qinli.


"Kenapa ada bau darah di rumahmu?" ucap Nona Mao.


"Bau darah! Jangan-jangan terjadi masalah pada Qingyin!" teriak Qinli dalam hatinya.


Merasakan ada sesuatu yang tidak beres, Qinli segera berlari masuk ke dalam rumahnya. Di hadapan Qinli saat ini terlihat beberapa prajurit yang sedang berkerumun di tengah ruangan.


"Hahaha! Kulitnya sangat putih."


"Mari, mari, ganti pakaiannya! Hahaha!"


Qinli sudah geram, kini ia pun mulai berbicara.


"Apa sudah puas tertawanya?" ucap Qinli.


Yu Quanxing bersama para prajurit itu menoleh.


"Qin ... Qinli!" teriak Yu Quanxing terkejut.


Sama halnya dengan mereka yang terkejut. Qinli juga terkejut melihat tubuh Nona Zhou bergelimang darah seperti saat ini. Tubuhnya bahkan polos tanpa sehelai benang pun dengan sebuah perut yang robek akibat tertusuk benda tajam. Qinli benar-benar marah saat ini.


Dengan kilatan amarah di kedua matanya Qinli menyerang ke arah Yu Quanxing. Ia mencengkeram leher Yu Quanxing dengan seluruh kekuatannya.


"Bagaimana kau ingin mati!"


Nafas Yu Quanxing tersengal.


"Tu ... Tuan Qin ... a ... aku salah ...."


"Sudah terlambat mengaku salah sekarang!"


...KRAK...


Qinli melempar tubuh Yu Quanxing tepat di depan kerumunan para prajurit tadi.


...BRAK...


"Tidak disangka bocah ini bisa kembali hidup, kelihatannya orang-orang yang mengejarnya itu sudah mati!" batin salah seorang prajurit.


"Bocah, istrimu mati karena ulah Yu Quanxing, tidak ada hubungannya dengan kami."


Salah satu prajurit itu menyeringai ke arah Qinli.

__ADS_1


"Terlebih lagi, sekarang kau dalam kondisi terluka, menghadapi kami dalam jumlah banyak tidak mungkin bisa menang."


Tapi suara Nona Mao yang tiba-tiba muncul membuat ekspresi di wajah prajurit itu berubahm


"Bagaimana jika aku membantunya?" ucap Nona Mao.


"Mao Yao! Dasar pengkhianat!" ucap prajurit itu dengan terkejut.


Nona Mao mengeluarkan pisau belatinya.


"Malam ini, kalian semua harus mati!" ucapnya dengan tersenyum.


.


.


Di dalam ruangan itu, Qingyin kebingungan. Ingin rasanya ia pergi keluar dan melihat situasi di dalam rumahnya.


"Sudah berlalu begitu lama, tidak tahu bagaimana kondisinya sekarang. Padahal, sudah sepakat akan selalu bersamanya, tapi malah aku sendiri yang bersembunyi di sini!"


Sesaat kemudian dari luar kamarnya terdengar sebuah perkelahian kembali.


...BUGH...


...BAM...


...ARGH...


"Suamiku tidak boleh terjadi apa-apa denganmu!"


"Hei, kau baik-baik saja, 'kan?" ucap Nona Mao.


"Tenang saja, aku tidak akan memberimu kesempatan untuk turun tangan," ucap Qinli menatap Nona Mao.


Qinli menatap jasad Nona Zhou yang masih bersimbah darah.


"Tidak disangka Zhou Xuanyi bisa berakhir begitu mengenaskan."


Sementara itu Nona Mao merasa masih ada satu orang yang memperhatikan mereka. Ia pun mengarahkan pisau belati miliknya dam langsung melemparkan pisau itu ke arah Qingyin.


"Siapa yang bersembunyi di sana!" teriak Nona Zhou.


"Suamiku!" teriak Qingyin.


Qinli menoleh, "Gawat! Qingyin!"


"Aaaarrghh!"


Qingyin berusaha menghalau pisau itu dengan tangannya. Sungguh sebuah keajaiban. Pisau itu mengambang tepat satu jengkal dari wajah Qingyin.


Ternyata ilmu tenaga dalam milik Dewi itu mampu menjaga tubuh istrinya.


"Eh?"


"Mengambang?"


.

__ADS_1


.


Beberapa saat kemudian, Qingyin turun dan mendekati suaminya.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa banyak sekali orang yang datang ke rumah kita?" tanya Qingyin khawatir.


"Mereka itu musuh!" jawab Qinli.


"Musuh?"


Kemudian Qinli mulai menjelaskan satu persatu alasannya.


"Orang tuaku menghilang beberapa tahun ini karena ulah mereka," ucap Qinli yang sangat terlihat marah.


Qinli bahkan terlihat mengepalkan tangannya berkali-kali jika mengingat perlakuan mereka pada orangnya. Tetapi yang Qingyin penasaran dengan kehadiran Nona Mao, segera menanyakan hal itu pada suaminya.


"Lalu, bagaimana dengan Nona Mao tadi?"


Ekspresi Qinli berubah tak enak, ketika nada suara istrinya berubah menjadi cemburu ketika menyebut nama Nona Mao. Apalagi saat ini Qingyin sudah berdiri dari tempat duduknya dan memandang aneh pada dirinya.


Qinli menoleh ke arah istrinya.


"Eh, dia teman yang baru aku kenal. Ceritanya panjang, akan aku ceritakan pelan-pelan padamu nanti."


Tiba-tiba Qinli teringat tentang Kakek Badao.


"Namun, masih ada urusan darurat yang harus ku tangani sekarang!"


"Harus pikirkan cara yang matang untuk menyelamatkan Kakek Badao."


.


.


🍃Hari kedua.


"Tidak mungkin!"


Tuan Muda Xu menggebrak meja di depan Qinli saat mengetahui jika Nona Mao akan ikut dengan misi Qinli saat ini.


"Bos, tidak peduli seberapa sulitnya itu, aku Xu Yinran bersedia mengikutimu, tapi aku tidak bisa melakukannya jika ingin wanita ini ikut bersama kita!" teriak Tuan Muda Xu sambil menunjuk ke arah Nona Mao.


Sementara itu Nona Mao hanya tersenyum ketika melihat Tuan Muda Xu tidak suka akan kehadirannya di dalam misi kali ini, apalagi ia harus menjadi satu tim dengannya.


"Kau tidak ingin bersamaku, aku juga tidak ingin bersamamu! Dasar pembawa beban!" ucap Nona Mao sambil mengarahkan pisau itu ke arah Tuan Muda Xu.


Nona Mao memang tak pernah melepaskan pisau belatinya dari tangan kanannya. Seolah benda itu sudah menjadi aksesoris wajib baginya. Tapi bagi siapa pun yang baru saja melihatnya akan merasa ngeri karena seorang wanita malah bermain-main dengan pisau belati.


Nona Mao memang cantik tapi mahir dalam ilmu bela diri, oleh karena itu Qinli berniat mengajaknya untuk ikut serta dalam misi penting kali ini. Terlebih saat ini Kakek Badao sedang di sekap oleh Qingtang di sebuah pulau. Belum lagi terdengar kabar jika di sana banyak prajurit level master yang menjaga pulau itu, membuat Qinli harus menyusun strategi dengan sangat matang kali ini.


Tapi sikap kedua orang di depan Qinli membuat Qinli harus pandai menyatukan mereka. Apalagi saat ini mereka malah saling membuang muka karena hal itu. Qinli akhirnya harus dipusingkan dengan sikap Nona Mao dan juga Tuan Muda Xu. Tapi bagaimana pun mereka harus bersama dan menjadi satu tim kali ini.


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


__ADS_2