MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 120


__ADS_3

"Kau tidak masalah, aku yang punya masalah."


"Pil obat seperti ini tak ternilai harganya di pasaran dan kau dengan mudahnya memberikan pil ini kepadanya," ucap Nona Mao tidak terima.


Setelah berbicara lantang, ia pun mulai bisa mengusasai amarahnya kembali. Meski dengan suara pelan, Nona Mao masih berbicara dengan Qinli.


"Kalau kau memberikan semua itu padanya, bagaimana dengan ku?"


"Kau ikut aku ke kamar atas!" ajak Qinli.


Reflek kedua tangan Nona Mao menutup tubuhnya.


"Kamar? Apa yang mau kau lakukan terhadapku?" tanya Nona Mao curiga.


"Kau berpikir berlebihan, aku tidak tertarik pada tubuhmu," ucap Qinli.


"Beraninya kau mempermainkanku!" ucap Nona Mao tidak terima.


Padahal wajah Nona Mao sudah blusing sejak awal. Bisa-bisanya Qinli bilang begitu.


BINGUNG! BACA PART SEBELUMNYA YA, MAKASIH🤭


"Aku hanya ingin mengobati lukamu, terserah mau ikut atau tidak," ucap Qinli sambil naik ke atas.


"Qinli, berhenti! Akan aku habisi kau!" teriak Nona Mao sambil mengejar Qinli.


Sesampainya di kamar, Nona Mao langsung merubah posisinya menjadi nungging. Dengan wajah memerah Nona Mao terlihat malu-malu.


"Cepat obati!" teriak Nona Mao masih dalam posisi menungging.


"Lepaskan bajumu!" teriak Qinli.


"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Nona Mao kebingungan.


"Akupuntur!" ucap Qinli sambil memegang jarum perak miliknya.


"Jangan sampai membohongiku! Jika tidak, aku tidak akan mengampunimu!" ucap Nona Mao.


"Nona besar Mo, bisakah kau cepat sedikit?"


"Iya, iya!" ucapnya kesal.


Meski kesal, Nona Mao langsung membuka bajunya.


"Ekspresinya sangat datar, apakah aku benar-benar tidak punya daya tarik sama sekali?" batin Nona Mao.


"Ku beri tahu padamu, nanti kau harus menusuknya ke titik yang tepat!" ucap Nona Mao sambil melipat bajunya.


"Eh, iya!"


"Aku sudah siap, mulai ...." ucap Nona Mao sambil tengkurap di atas ranjang.


"Argh!" teriak Nona Mao saat Qinli mulai menusukkan jarum akupunturnya tepat di punggung Nona Mao.


"Panas, panas sekali ...." teriaknya.


"Jangan bergerak, jika tidak, energi spiritual yang ada di dalam meridianmu akan mengalir berlawanan dan akan memperparah lukamu!"


"Ce ... cepatlah!" teriak Nona Mao yang sudah tidak kuat.

__ADS_1


Tusuk


Tusuk


"Argh!"


"Selesai!" ucap Qinli sambil membuang nafasnya.


.


.


Dua hari kemudian.


...⚜⚜⚜...


...Di sebuah pulau di Amerika...


Suasana kapal tampak ramai dengan banyaknya pasangan yang berdansa di deck kapal pesiar. Lagu yang mengalun begitu indah berpadu dengan tarian para penumpang yang berpasang-pasangan.


Sementara itu Qinli dan teman-temannya sedang makan malam di salah satu deck kapal. Mereka tampak mengobrol malam itu.


"Ngomong-ngomong, bukankah kau berada di level master?" tanya Qinli.


"Level master? Level master tidak ada apa-apanya," ucapnya seolah meremehkan level master.


"Ternyata kau tidak tahu bahwa setelah level master masih ada level lain?"


Lalu Nona Mao mulai menjelaskan hal itu pada semuanya.


"Di dalam Keluarga Tersembunyi kami, level master setengah langkah ke bawah disebut sebagai level prajurit, dan setelah level master masih ada alam setengah dewa, alam dewa dan alam dewa leluhur."


"Setiap level dibagi menjadi level awal, level tengah dan level akhir."


"Alam setengah dewa!" ucap Qinli terkejut.


"Ternyata dia sudah mencapai level yang sama dengan ayahku waktu itu, tidak disangka dia begitu hebat," batin Tetua Xia.


Sementara itu, Tuan Muda Xu berdecih karena ucapan Nona Mao barusan.


"Cih, alam setengah dewa, bahkan bos tidak bisa menerobos level itu," ucap Tuan Muda Xu.


Tetua Xia juga kaget akan ucapan Tuan Muda Xu barusan.


"Kalau di atas level master masih ada alam setengah dewa, kenapa aku tetap tidak bisa meningkatkan levelku lebih jauh walau aku sudah berlatih dengan keras," tanya Qinli.


Nona Mao yang sedang memakan cherry mengunakan pisau belatinya menatap heran pada Qinli. Lalu tercetuslah sebuah ide konyol dikepalanya.


"Kau ingin tahu, ya? Memohonlah padaku," ucap Nona Mao dengan manja.


Qinli bersedekap dada.


"Di dunia ini, bukan hanya kau yang berada di level alam setengah dewa, lebih baik aku tanya pada orang lain."


"Terserah!" ucap Nona Mao.


"Wanita ini!" batin Tetua Xia.


Qinli menggeser kursinya lalu berdiri hendak pergi. Nona Mao merasa tidak enak karenanya.

__ADS_1


"Hei! Aku cuma bercanda, kau menganggapnya serius?" ucap Nona Mao yang ikut berdiri.


"Baiklah, akan aku beritahu padamu, jika ingin mencapai alam setengah dewa, membutuhkan kombinasi antara bahan alami dan peluang meningkatkan diri. Jika tidak, seberapa keras kau berlatih juga percuma."


"Ternyata begitu ... pantas saja aku tidak bisa menerobos level itu," batin Qinli.


"Lantas, apa peluang terobosanku ..."


Qinli menatap bentangan hamparan samudra di depannya.


"Beberapa orang Yanxia ini kerjaannya hanya duduk di sana, apakah mereka menyelinap masuk untuk makan gratis?"


"Dengar-dengar orang Yanxia sangat kotor, mereka bisa satu bulan tidak mandi," ucap salah seorang wanita yang lewat di depan meja Tuan Muda Xu.


"Bukankah yang seperti itu babi?" ucap lelakinya.


Tuan Muda Xu bangkit karena marah, "Brengsek, coba kau katakan sekali lagi!"


Nona Mao mendekati Tuan Muda Xu seraya berbisik.


"Adik kecil, meski kekuatanmu ada sedikit kemajuan, tapi kusarankan lebih baik jangan gegabah, ya. Orang-orang di kapal ini tidak sesederhana yang kau pikirkan," bisik Nona Mao.


"Kapal ini masih lama berlabuh, bagaimana kalau Kak Qin, berdansa bersamaku di ruang dansa dan membuat mereka muak?"


Qinli menoleh ke arah Nona Mao. Tiba-tiba Tetua Xia berdiri dari kursinya.


"Jika kau ingin pusat perhatian, silakan. Tapi, Tuan Qin tidak ingin berdansa denganmu," ucapnya dengan lantang sambil merentangkan kedua tangannya.


Nona Mao bersedekap sambil tersenyum menyeringai ke arah Tetua Xia.


"Bagaimana kau tahu Qinli tidak ingin berdansa dengan bersamaku? Kau ini cacing gelang dalam perutnya, ya?" ucap Nona Mao.


"Kau! Aku lebih memahaminya dibandingkanmu," ucap Tetua Xia membela dirinya.


"Memahaminya? Apa kau tahu seberapa besar dan panjang yang dimiliki Qinli?"


"Aku tahu, loh," ucap Nona Mao menggambarkan ukuran Qinli dengan kedua tangannya.


Tetua Xia terdiam. Sementara itu Nona Mao merangkul lengan Qinli.


"Qinli sayang, mau berdansa tidak?"


"Jangan berteriak sesuka hatimu!" teriak Qinli.


"Jika ingin sampai di tepi pantai dengan selamat, maka turuti perkataanku," bisik Nona Mao.


Tetua Xia yang cemburu dengan kepergian Nona Mao dan Qinli merasa ingin menangis. Ia pun lebih memilih untuk pergi dari tempat itu agar tidak melihat semuanya.


"Kak Qin, aku sedikit mabuk laut, aku istirahat dulu di dalam," ucap Tetua Xia sambil berlari.


Qinli yang mendengarnya samar-samar hanya bisa menoleh untuk sesaat, tapi karena merasa tidak enak hati Qinli berlari untuk mengejarnya.


"Tetua Xia!" teriak Qinli.


"Waduh, pemimpin cantikmu itu sakit hati, ya. Cepat hibur dia!" ucap Nona Mao memperagakan orang yang menangis.


"Tutup mulutmu!" bentak Qinli.


.

__ADS_1


.


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2