MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 137


__ADS_3

Tetua Ye menutup matanya lalu berdehem.


"Kau beruntung bocah. Kau menjadi pemenangnya," ucap Tetua Ye.


"Awalnya berencana untuk menjadikan Tetesan Embun Jiuqiong sebagai lotre perlombaan untuk merekrut seorang murid dari keluarga tersembunyi, tapi tidak disangka malah dikacaukan oleh bocah ini ...." batin Tetua Ye.


Sementara itu Nona Besar Lu ikut-ikutan tidak suka akan kemenangan Qinli.


"Bocah Idiot sepertinya juga ingin mengembalikan keadaan? mimpi!" batinnya.


"Benar-benar sial."


"Iya, tidak disangka bisa dikalahkan oleh ayam pengemis itu," ucap Nona Besar Lu dengan cemberut.


Setelah mengumumkan pemenang kompetisi tersebut. Tetua Ye berbalik bersama kedua temannya, tetapi Qinli teringat jika Tetua Ye belum menyerahkan hadiah dari kompetisi tersebut.


"Tunggu! Tuan Ye, apakah Anda lupa memberikan hadiahnya kepadaku?" ucap Qinli sambil tersenyum.


"Eh ...."


"Aku lupa, maaf, maaf," ucap Tetua Ye sambil mengeluarkan hadiah utama Tetesan Embun Jiuqiong dari dalam pakaiannya.


"Nih, Tetesan Embun Jiuqiong."


Dari kejauhan tangan laki-laki dari Keluarga Ning tersebut mengepalkan tangannya karena geram. Bisa-bisanya ia dikalahkan dengan seorang lelaki seperti Qinli.


"Kelihatannya di kemudian hari, Keluarga Ning punya musuh kuat."


Qinli membuka kotak obat tersebut, benar di dalamnya ada Tetesan Embun Jiuqiong.


"Benar! Ini obatnya!" ucap Qinli dengan wajah berbinar.


Qinli menoleh ke arah Jiangjun, "Ayo, Tuan Jiang! Sudah waktunya kita kembali ke Shangjing!"


"Baik, Bos!"


Namun, dari arah belakang Kakek Tan Zhongguo menyela pembicaraan mereka, "Tunggu!"


"Sebentar."


Qinli menoleh, "Ada apa kakek, Ye?"


"Sebenarnya bukan masalah besar. Aku hanya ingin mencari tahu tentang seseorang dari kalian berdua."


"Beberapa waktu yang lalu, aku dengar bahwa Shangjing punya krim kecantikan Liyin, ya?"


"Apakah kalian berdua pernah dengar produsen kecantikan, Grup Chu?"


"Yang Anda maksud adalah krim kecantikan ini?"


Qinli menunjukkan krim berwarna pink itu pada Kakek Tan Zhongguo.


"Benar, krim kecantikan ini yang aku maksud! Tidak disangka kau berhasil mendapatkan krim ini?" ucap Kakek Tan Zhongguo senang.


Qinli berbisik ke arah Kakek, "Sejujurnya, aku yang membuat krim ini."


"Apa!" ucapnya terkejut.


Kakek menghela nafasnya.

__ADS_1


"Pantas saja! Kelihatannya pupus harapanku ingin punya cucu menantu sepertimu!"


.


.


Malam harinya di Kota Shangjing.


Malam itu, Qinli dan Qingyin memakai pakaian couple suami istri. Dengan motif Zebra mereka terlihat sempurna. Saat ini keduanya sedang mengobrol di atas ranjang.


"Ternyata terjadi begitu banyak hal saat kau berada di Chuansu," ucap Qingyin.


"Iya, untung saja aku mendapatkan obat itu tepat waktu dan tidak sia-sia ke sana."


"Yang paling aku khawatirkan saat ini adalah kondisi Kakek Badao yang terluka terlalu parah, tidak tau apakah dia bisa ...."


Qingyin bersandar ke tubuh Qinli hingga membuat ia terkejut.


"Aku yakin kakek orang baik dan akan diberkati Tuhan, tenang saja."


"Iya."


"Oh, iya, apa tubuhmu terasa tidak nyaman selama beberapa hari ini?" tanya Qingyin dengan berbinar.


"Tidak ada."


"Tapi setelah berkultivasi denganmu di bak mandi, aku merasa seperti ada energi yang tidak ada habisnya di dalam tubuhku," ucapnya sambil menunduk.


"Begitu, ya?"


"Kelihatannya wanita yang ada dalam tubuh Qingyin tidak berbicara bohong." Batin Qinli sambil menatap istrinya itu.


"Iya," jawab Qinli dengan wajah pasrah.


Qinli segera menarik lampu tidur agar mati. Lalu mereka berdua melakukan hubungan suami istri malam itu.


"Pelan sedikit, ada adik di sebelah!" ucap Qingyin dengan berbisik.


"Tenang saja, ia pasti sudah tertidur di jam segini," ucap Qinli.


Lalu sesudahnya terdengar suara ******* dari keduanya, "Ah ... eng ... aah ...."


Padahal saat ini sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, tetapi mereka melakukannya tanpa rasa lelah dan belum terhenti.


"Menyebalkan sekali," gerutu Chu Zitan.


Chu Zitan menutup kedua telinganya dengan bantal karena suara mereka yang menurutnya sangat menunggu.


"Sudah lima jam, kapan bisa berakhir? Bisakah memedulikan perasaan orang lain?"


"Jika aku mengelalmu lebih dulu dari kakak, apa kau akan bersikap biasa-biasa saja kepadaku?"


Sesaat pupil mata Chu Zitan yang berwarna keunguan berubah menjadi warna kuning. Kini kekuatan dari lelaki bertopeng lebih mendominasi ke dalam tubuh Chu Zitan.


"Tidak! Aku tidak ingin menjadi Chu Zitan!"


Ia membuang bantal yang menutupi telinganya lalu bangkit dari atas tempat tidur.


"Aku ingin menjadi wanitanya Qinli!" ucap Chu Zitan penuh ambisi.

__ADS_1


Zitan membuka jendela kamarnya, hingga angin malam berhembus masuk ke dalam kamarnya.


...WUSH ......


Chu Zitan tidak memperdulikan tubuhnya yang terkena dinginnya angin malam itu. Ia tetap berjalan keluar dari kamar tanpa pamit pada kedua kakaknya.


Jauh dari perkotaan, lelaki bertopeng merah itu sudah menunggu kedatangan Chu Zitan.


"Akhirnya datang juga!"


Chu Zitan benar-benar datang ke tempat lelaki bertopeng merah itu.


"Aku ingin menjadi kuat! Aku ingin menjadi wanitanya Qinli!"


Lelaki bertopeng merah itu mengusap kepala Chu Zitan.


"Anak baik, penurut sekali. Kau adalah eksperimen tubuh paling sempurna sejak penelitian yang aku lakukan. Aku akan memberikan semua yang terbaik untukmu dan mewujudkan ķeinginanmu."


.


.


🍂Delapan hari kemudian.


Pagi hari di ruang makan. Saat ini Qinli dan Qingyin sedang sarapan pagi berdua tanpa Zitan.


"Zitan, gadis bodoh, bisa-bisanya pergi begitu saja," ucap Qingyin kesal.


Qinli memberikan lauk di atas nasi milik Qingyin.


"Karakternya memang seperti itu, apa kau masih tidak memahaminya?"


Sementara itu Qinli sedang memikirkan hal lain.


"Sekarang kondisi Kakek Badao paling rumit. Meski racun serangga dalam tubuhnya sudah disingkirkan, tapi tubuhnya hancur total karena eksperimen itu."


Tiba-tiba pintu rumah Qinli terbuka karena hempasan angin yang kencang dari arah luar.


"Energi spiritual ini? Milik Qin Weilang!" batin Qinli.


Saat keluar dari dalam rumah, Qin Weilang terlihat sedang duduk di atas hamparan rumput hijau di depan sana. Salah satu tangannya memainkan batu kecil.


"Apa kau tidak tahan melihat orang lain bermesraan?"


Qin Weilang menoleh, "Maaf, sudah kebiasaan."


"Seluruh energi vital dan kekuatan spiritual tubuh kakek telah ditarik keluar, sudah seperti mayat hidup."


"Aku juga mempertaruhkan nyawaku untuk melihat catatan kuno ilmu kedoteran Keluarga Qin baru bisa tahu ada semacam obat yang bisa menyelamatkannya," ucap Qin Weilang melihat ke depan.


Tentu saja hal itu membuat Qinli terkejut, begitu pula dengan istrinya Qingyin.


"Obat apa? Di mana?" tanya Qinli heran.


"Teratai api putih di wilayah barat," ucap Qin Weilang sambil menoleh ke belakang.


.


.

__ADS_1


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2