
"Ka ... kakak sepupu?" ucap Tuan Wei Yun dengan terkejut.
Bagaimana pun kakaknya adalah salah satu prajurit terhebat dari Keluarga Wei. Namun, dalam sekejap mata sudah bisa dikalahkan oleh Qinli.
"A ... Aku tidak sedang bermimpi, 'kan?" ucap Tuan Wei Yun di depan pintu Alam Rahasia.
Qinli tampak tidak menghiraukan keberadaan dari Keluarga Wei, dan justru menoleh ke arah Nona Han.
"Nona Han, aku sudah membantumu mendapatkan Tungku Bintang Tujuh, mari kita pulang!" ajak Qinli.
Nona Han masih tercengang akan kehebatan Qinli hanya bisa pasrah. "Ah, baik!"
Melihat jika kakaknya terluka maka Tuan Wei Yun segera menyuruh beberapa prajurit untuk memeriksa keadaan kakaknya.
"Kalian cepat periksa Tuan Muda Wei Tian!"
Namun, respon yang diberikan beberapa prajurit tersebut di luar dugaan. Bukannya memeriksa mereka justru marah karena merasa ditipu oleh Tuan Wei Yun.
"Wei Yun! Monster itu sangat kuat! Kau pecut kami untuk bermusuhan dengannya dan memanfaatkan kami untuk membunuhnya!"
Tentu saja Tuan Wei Yun ketakutan dengan semua prajurit di sana.
"Ka-kalian dengarkan penjelasanku dulu!"
KEDIAMAN WEI
Di sebuah ruangan pribadi, terlihat Kepala Keluarga Wei sedang mengasah ilmu tenaga dalamnya. Beberapa saat kemudian terlihat seorang pengawal yang masuk dan memberitahu Kepala Keluarga Wei dengan membawa sebuah berita.
"Ada pesan dari Keluarga Lei!"
"Katakanlah!"
"Lenyapkan Sekte Bumi!"
Sementara itu di sebuah perahu milik Keluarga Han, para ksatria tampak sedang membincangkan tentang apa yang sudah didapatkan oleh Qinli yaitu Tungku Bintang Tujuh.
"Ini yang dinamakan Tungku Bintang Tujuh?Kelihatannya tidak ada yang istimewa."
Saat ini menahan sedang memeriksa Tungku Bintang Tujuh yang diberikan oleh Qinli tersebut.
"Aneh ... kenapa ada wangi bunga? Selain itu, di dalam tungku ada bekas airnya?" ucap Nona Han sambil membolak-balikkan Tungku Bintang Tujuh itu.
"Aku juga tidak tahu!" ucap Qinli dengan santai.
Apapun yang terjadi pada tubuh tersebut menahan sudah terlihat sangat gembira karena Qinli berhasil mendapatkannya.
"Kalau bukan berkat dirimu, Tungku Bintang Tujuh ini pasti sudah direbut keluarga lainnya," ucap Nona Han dengan binar bahagia.
Dengan santainya, sambil meminum air Qinli menjawab pertanyaan dari Nona Han.
__ADS_1
"Orang-orang kalian juga sudah datang tetapi sedikit telat."
Beberapa saat kemudian datanglah beberapa prajurit menggunakan binatang spiritual lainnya menuju ke arah kapal Nona Han.
"Xinxin! Feng'Er!"
Rupanya prajurit yang datang adalah kakek dari Nona Han. Baru saja yang menginjakkan kakinya di kapal tersebut, ia sudah merasakan ada orang yang luar biasa di kapal tersebut.
"Ada aura petarung level di atas alam pemecah langit yang tertinggal di kapal ini ... apakah Tungku Bintang Tujuh sudah berada di ...."
Ucapan dari kakek Nona Han tersebut terhenti ketika melihat cucunya berlari ke arahnya.
"Kakek kedua, akhirnya Kakek datang juga."
"Xinxin, syukurlah kalian baik-baik saja!"
Melihat Feng'Er mendekati dirinya dan membawa serta Tungku Bintang Tujuh ke hadapannya, Kakek Nona Han baru menyadarinya jika kekuatan besar tersebut berasal dari tungku tersebut.
"Pantas saja tungku tersebut dinamai Tungku Bintang Tujuh! Sisi tungku tersebut ada bintang biduk dan seluruh bagiannya dikelilingi oleh bintang-bintang."
Tidak lama kemudian salah seorang prajurit mendekati mereka.
"Kalau bukan Tuan Muda Han Feng yang turun tangan, sudah pasti direbut oleh orang lain!" ujarnya.
"Benar! Kami juga mendapat kabar Kalau Wei Tian dari Keluarga Wei datang untuk merebut benda itu, makanya kami datang kemari!" ujar prajurit lainnya.
"Kalian salah paham!" ujar Tuan Muda Han Feng.
"Dia? Mana mungkin! Tuan Muda Han Feng sedang bercanda, ya?"
Nona Han yang melihat hari itu segera menjelaskan kepada kakek dan semua prajurit yang berada di sana.
"Sungguh! Qinli yang mendapatkan Tungku Bintang Tujuh dan dia juga mengalahkan Wei Tian!"
"Aku tidak salah dengar 'kan? Dia bukan kabur dari Wei Tian, melainkan mengalahkan Wei Tian?"
"Bagaimana mungkin Wei Tian sudah mencapai alam reinkarnasi?"
"Jangan-jangan aura kuat yang tertinggal di kapal ini adalah aura bocah ini? Kalau memang begitu, berarti sebelumnya ini tidak mengarahkan seluruh kekuatannya ketika berhadapan denganku!" ucap Kakek Nona Han di dalam hati!"
"Pria tua ini tidak mungkin akan menyerangku kembali, bukan?" ucap Qinli di dalam hati.
Kakek Nona Han tersenyum ke arah Qinli.
"Umurmu masih muda tetapi kekuatanmu sudah setara dengan alam reinkarnasi, sepertinya kau bukan orang biasa."
Tentu saja ucapan dari Kakek Nona Han tersebut membuat menahan dan Tuan Muda Han Feng terkejut.
"Alam Reinkarnasi!" ucap keduanya dengan wajah terkejut.
__ADS_1
Melihat hal yang tidak terduga itu ternyata makhluk supranatural yang digunakan sebagai kapal untuk Nona Han bersikap agresif.
"Gawat! Paus Lingyun menjadi agresif!"
Mengetahui hal itu menahan segera memegang lengan kakeknya.
"Kakek kedua! Kakek jangan terlalu khawatir!" ucap Nona Han menenangkan.
"Xinxin."
Tiba-tiba saja Qinli ikut berkomentar.
"Tenanglah!"
"Karena Tetua kedua sangat penasaran, maka kuberitahu padamu."
"Sebenarnya aku adalah seorang ketua di sekte kecil," ucapnya sambil berbalik arah.
Raut wajah Kakek Kedua dan Nona Han serta para prajurit lainnya seketika berubah menjadi tersenyum.
"Ha ha ha, pantas saja! Tetua Qin jangan rendah hati, orang berbakat seperti Tetua Qin, mana bisa dibilang sekte kecil."
"Benar, benar! Sudah kuduga! Kalau ada Tetua Qin, Tungku Bintang Tujuh pasti akan berhasil didapatkan."
"Kalian terlalu memujiku!"
Tidak lama kemudian justru kedua prajurit dari Keluarga Han yang dulu sempat mengejek Qinli langsung berubah mengidolakannya. Bahkan saat ini mereka masih minta tanda tangan darinya.
"Minta tanda tangannya, ya, Tetua Qin!"
Seketika wajah Nona Han cemburu karena Qinli tiba-tiba jauh lebih terkenal darinya.
"Xinxin, Feng'Er, ayo jalan, ikut aku naik Bangau Duangkong, kita pulang!" ajak Tetua Kedua.
Benar saja, tidak berapa lama kemudian Bangau Duankong benar-benar datang ke hadapan kakek.
"Kenapa repot-repot. Bukankah sama saja?" ucap Nona Han tidak menyadari arti ucapan dari Kakek Kedua.
Lain halnya dengan Feng'Er yang langsung paham dengan ucapan Kakek Kedua.
"Karena Paus Lingyun ... sudah menjadi milik Qinli."
Tentu saja Nona Han terkejut dengan ucapan dari kakek dan Feng'Er tersebut. Setelah Bangau Duangkong berdiri di hadapan mereka, ketiganya langsung melompat ke atasnya. Tidak lupa mereka berpamitan pada mereka.
"Kami pergi dulu datanglah berkunjung kalau ada waktu!"
"Pasti! Kalian hati-hati di jalan!"
Qinli melambaikan tangannya kepada ketiga orang tersebut, baru setelahnya Bangau Duangkong melesat secepat kilat!"
__ADS_1
Baru saja Qinli melepas kepergian ketiga orang dari Keluarga Han, tiba-tiba saja muncul ketiga Tetua dari Sekte Bumi.
"Itu ...."