
Qinli berdehem sebelum melanjutkan ucapannya kali itu.
"Tapi aku hanya punya satu tungku ini dan selalu enggan menggunakannya ...."
Tiba-tiba saja Nona Ling'Er mengeluarkan satu barang dan menaruhnya di depan Qinli dengan cepat.
BRAK!
"Guru, bagaimana dengan Tungku Peracik Pil Level Tujuh ini?"
Tentu saja perbuatan Nona Ling'Er membuat Qinli dan rubah itu sangat terkejut. Apalagi energi yang berasal dari tungku milik Ling'Er itu begitu kuat.
"Energi yang begitu kuat!" gumam Qinli sambil mendekati tungku milik Nona Ling'Er.
Rubah itu pun membisikkan sesuatu pada Qinli.
"Tuan, tungku ini adalah harta karun yang sangat langka."
Nona Ling'Er pun memainkan ujung jari telunjuknya satu sama lain.
"Aku juga cuma punya satu tungku ini. Kalau boleh, biar aku yang menyimpan tungku milikmu itu dulu dan kau boleh menggunakan ini," ucap Nona Ling'Er sambil mengiba.
Tentu saja Qinli tidak tega melihat Nona Ling'Er seperti itu.
"Baiklah! Kau benar-benar murid terbaikku!" ucap Qinli sambil tersenyum.
Sesaat kemudian Qinli mengeluarkan barang miliknya dan melemparkannya pada Nona Ling'Er yang langsung ditangkap olehnya.
"Nih, ingat harus menyimpannya dengan baik!" pesan Qinli pada Nona Ling'Er.
"Tenang saja, Guru!" ucap Nona Ling'Er sambil tersenyum.
Matanya berbinar penuh kebahagiaan sama seperti saat ia mendapatkan sebuah harta karun yang sangat tidak ternilai. Padahal itu hanya sebuah tungku mirip panci presto kalau di bumi. Wkwkwk.
Melihat hal itu Nona Mo Yao dan Tetua Xia mendengus kesal, "Benar-benar pembohong yang hebat!"
Tiga hari kemudian
Ketiga wanita itu masih saja sibuk bermain kartu. Akan tetapi sampai hari itu pun yang selalu menang adalah Nona Ling'Er.
"STRAIGHT FLUSH!" teriaknya sambil melempar lima kartu andalannya.
"Sial!" ucap Nona Mo Yao yang berhasil dikalahkan oleh Nona Ling'Er.
Sesaat kemudian tercium aroma obat. Tetua Xia mengendusnya.
"Bau obat ini sangat tajam!" ujarnya.
Nona Ling'Er yang ahli obat juga menciumnya.
"Ini Pil Ninghua tingkat tujuh!" ucapnya senang.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Nona Mo Yao menari setelah mencium obat baruan.
"Wangi obat ini bisa membuat orang tidak tahan untuk menari!" ucap Nona Mo Yao sambil mengerakkan tubuhnya.
Sementara itu Nona Ling'Er hanya tertegun dari tempat duduknya. Begitu pula dengan Tetua Xia yang juga menari seperti Nona Mo Yao.
"Aku merasa tidak bisa mengendalikan tubuhku!" ujarnya sambil melenggak-lenggokkan tubuhnya.
Di sisi lain, Qinli masih konsentrasi untuk menyelesaikan tahap pembuatan pil itu di dalam sebuah ruangan.
"Sudah hampir selesai!"
Lama kelamaan Nona Ling'Er juga tidak bisa mengendalikan tibuhnya. Keningnya sudah berkeringat.
"Ugh! Bau obatnya sudah keluar, wangi sekali!"
"Wangi dan energi pil obat ini ... sangat kuat!" ucap Nona Ling'Er sambil memegangi kepalanya.
Sepuluh menit kemudian.
Nona Ling'Er sudah terkapar lemas di lantai. Aroma obat itu begitu kuat sehingga membuatnya dipenuhi keringat dan peluh sama seperti orang yang sedang olah raga.
"Guru, butuh berapa lama lagi?"
Nona Ling'Er terus meracau sejak tadi.
"Aku sudah tidak bisa tahan!"
"Aku ...."
"Tidak bisa tahan lagi!" teriak Nona Ling'Er sambil menyobek seluruh pakaian miliknya hingga tersisa pakaian dalamnya saja.
Beberapa saat kemudian, terlihat jika mata Nona Ling'Er berbinar. Halusinasinya membuat sebuah bayangan rubah di atas kepalanya.
"Wah, tidak disangka cepat sekali aku sudah mencapai alam dewa!"
"Inikah bayangan spiritualku?" tanya Nona Ling'Er saat melihat bayangan rubah di atas kepalanya.
"Aku berhasil naik ke level yang lebih tinggi dua kali berturut-turut dalam waktu yang begitu singkat, Guru memang jenius!" ucap Nona Ling'Er sambil berkacak pinggang dan bangga.
Tentu saja Nona Mo Yao dan Tetua Xia memandang aneh kepada Nona Ling'Er, "Apanya jenius?"
Tiba-tiba saja Qinli datang ke ruangan itu sambil membawa tiga buah pil hasil buatannya. Namun, Nona Ling'Er tidak menyadari jika dirinya saat itu hanya memakai pakaian dalam. Oleh karena itu Tetua Xia segera mengingatkannya.
"Ehem, Ling'Er bajumu ...."
Tentu saja ketika Nona Ling'Er baru menyadarinya ia pun terkejut bukan main, hingga ia pun berteriak dan menutupi dadanya.
"Argh!"
Hewan spiritual Qinli si rubah yang berada di atas kepala Nona Ling'Er sampai ikutan terkejut.
__ADS_1
Dan beberapa saat kemudian rumah itu bergetar karena teriakan Nona Ling'Er.
BAM ... PLAK ....
Setelah memakai pakaiannya Nona Ling'Er berjongkok dan membuang muka dari Qinli. Ia begitu malu ketika kedapatan berpakaian seperti tadi. Qinli pun memberi tahukan hal itu pada Tetua Xia dan Nona Mo Yao.
"Ling'Er baru saja mencapai level yang lebih tinggi, fondasinya masih belum kokoh. Beberapa pil ini aku siapkan untuk Ling'Er dan kalian. Kalian tetap di rumah dan berlatih dengan tenang!" pesan Qinli pada Tetua Xia dan Nona Mo Yao.
Sementara itu Nona Mo Yao dan Tetua Xia memandang miris kepada Nona Ling'Er yang masih belum mau bergabung dengan mereka. Padahal saat ini Ling'Er sedang merutuki nasibnya karena membiarkan hal memalukan tadi terjadi.
"Memalukan sekali, dilihat oleh guru pula!" rutuk Ling'Er dalam hati.
Tetua Xia mengetahui jika Qinli akan pergi ke luar dari Kediaman Sekte. Ia pun mulai menanyakan hal itu padanya.
"Kau mau keluar?" tanya Tetua Xia.
"Ya, aku harus ke luar kota. Aku kurang tahu mengenai kekuatan pil tingkat tujuh ini, juga tidak tahu apa efeknya setelah meminum pil ini."
"Namun, kalian tenang saja, ada si putih yang menjagaku."
Melihat kekhawatiran Tetua Xia, membuat Nona Mo Yao memegang bahu Tetua Xia.
"Tidak perlu khawatir, Kak Xia."
"Kalau begitu, tolong jaga Ling'Er."
LIMA HARI KEMUDIAN
Di tengah hutan itu, Qinli bersemedi. Tubuhnya dilingkupi oleh sebuah kubah berwarna kuning keemasan. Di luar kubah perlindungan itu ada si putih, rubah peliharaan milik Qinli yang berjaga.
"Sudah lima hari sejak aku meminum Pil Ninghua, kenapa tidak ada efek sedikitpun? Apakah terjadi masalah selama proses pembuatan pil?"
Tangan Qinli mengepal, sebuah aliran listrik yang timbul dari tangan Qinli menimbulkan bebatuan di samping Qinli beterbangan. Merasa ada yang tidak beres dengan Tuannya, sang rubah menoleh.
"Gawat!"
Sang Rubah terbang ke atas lalu segera mengeluarkan kekuatannya.
SYUH ... SYUH ... SYUH ....
Kekuatan elemen pada rubah segera tertuju pada kubah Qinli. Kekuatan dari rubah yang ia salurkan barusan berguna untuk memperkuat kubah milik Qinli, tetapi ternyata ada hal lain yang tidak terduga terjadi di sana.
SYUH!
KRAK!
Ternyata kubah itu tetap meledak.
DHUAARR!
Kubah itu meledak dan membuat sang rubah terpental jauh.
__ADS_1