MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 77


__ADS_3

Qinli masih memandang heran tindakannya barusan.


"Apakah barusan aku mengenai bagian intinya? Sudahlah, aku cari jantung ular ini dulu.


Padahal kalau dipikir-pikir, Qinli hanya menggunakan sebuah belati kecil untuk melumpuhkan ular berkepala tiga tadi, sementara lelaki tua yang mengunakan pedang besar tadi sama sekali tidak bisa membunuhnya.


"Tampaknya harus menghabiskan banyak tenaga kalau ingin mengeluarkan jantung ular ini."


Di saat Qinli sedang mengamati ular itu, lelaki tua itu bangkit dan siap menerkam Qinli dari arah belakang. Ia pun mengendap-endap dan mengarahkan pedang itu ke arah tubuh Qinli.


"Muridku Wei Daxun dipukul hingga cacat oleh bocah ini. Membuatku kehilangan muka dan ditertawai oleh seluruh keluarga."


"Matilah!"


Dengan santainya dan tanpa menoleh Qinli menghalau pedang tadi dengan belatinya.


KLANG


Suara belati saat berpapasan dengan pedang itu begitu nyaring.


"Apa!"


Lelaki tua itu begitu terkejut akan kewaspadaan Qinli. Lalu Qinli berbalik dan menyerang lelaki tua itu.


"Apakah Keluarga Wei punya kebiasaan suka menyerang diam-diam?" ucap Qinli sambil mengarahkan jarum peraknya ke arah lelaki tua itu.


JLEB ... JLEB ... JLEB ....


Beberapa titik di tubuh lelaki tua itu berhasil di lumpuhkan dengan jarum perak milik Qinli. Lelaki tua itu ambruk ke tanah. Tapi ia masih bisa mengancam Qinli.


"Bocah, Keluarga Wei bukanlah keluarga yang bisa kau singgung. Melukai anggota Keluarga Wei sama artinya dengan mencari mati!"


"Lebih baik kau obati aku dan aku akan mengampunimu!"


Wei Nuannuan datang ke arah lelaki tua itu sembari berkacak pinggang dan salah satu jarinya menunjuk ke arahnya.


"Cih! Dasar keparat tidak tahu berterima kasih, bisa-bisanya beromong besar! Tutup saja mulutmu itu!" gertak Wei Nuannuan.


Lelaki tua itu melotot tajam ke arah nona besarnya serta mengumpat dalam hatinya.


"Dasar gadis lemah, beraninya memandang rendah diriku? Ka, Ka, Kau ... benar-benar membuatku emosi!"


Beberapa saat kemudian lelaki tua itu muntah darah lalu meninggal.


"Lelaki tua itu sudah diambang kematian, tapi masih saja keras kepala, akhirnya malah membuat diri sendiri mati emosi!" ucap Jiangjun.


"Bisa dibilang dia pantas mendapatkannya," ucap Qinli.


Lalu dari arah seberang, Nona Wei Nuannuan mendekati Qinli dengan malu-malu.

__ADS_1


"Kakak! Namaku Wei Nuannuan, terima kasih telah menyelamatkanku!"


Qinli membuang muka.


"Tidak perlu berterima kasih, niatku membunuh ular ini juga bukan demi menyelamatkanmu."


"Meskipun dia terlihat sangat polos ... tapi lebih baik aku tidak berurusan banyak dengan Keluarga Wei," batin Qinli.


Sementara itu Jiangjun tampak kelelahan karena baru saja selesai mengeluarkan jantung ular berkepala tiga itu.


"Huft, lelahnya!" ucap Jiangjun sambil mengusap peluh di keningnya.


"Akhirnya berhasil dikeluarkan, jantung ular ini lumayan berat!"


Lalu dengan seenak jidatnya, Qinli mengarahkan cincin itu ke arah bangkai ular agar bangkai tersebut masuk ke dalam cincin, tanpa ia harus bersusah untuk membawanya pergi.


WUSH ...


Dalam sekejap mata, bangkai ular berkepala tiga itu sudah masuk ke dalam cincin milik Qinli.


"Seluruh bagian tubuh ular ini adalah harta berharga, jadi harus dibawa semua, tidak boleh disia-siakan," ucap Qinli selepas menyelesaikan hal itu.


Jiangjun terperangah karena ulah Qinli barusan.


"Bilang dong dari tadi kalau kau punya cincin spesial itu! Kau membuatku kelelahan seharian!" ucapnya kesal.


Di saat Jiangjun kesal, hal itu malah membuat Qinli tertawa pepsodent.


Qinli lalu mengambil pedang Zhanlu tersebut.


"Pedang Zhanlu? Bukankah ini adalah pedang penguasa legendaris di dunia prajurit?" tanya Jiangjun.


"Oh! Kelihatannya memang tersirat aura membunuh, sederhana tapi tersimpan kekuatan luar biasa," ucap Qinli sambil mengamati pedang itu.


"Kalau begitu akan ku simpan untuk sementara waktu," ucap Qinli bersemangat.


Disaat Qinli asyik berbincang dengan Jiangjun dia melupakan kehadiran Wei Nuannuan. Hingga gadis itu terduduk memeluk lututnya, sembari bersedih membelakangi Qinli dan Jiangjun.


"Eh? Ada apa dengan gadis itu?" ucap Qinli sambil melirik Wei Nuannuan.


"Kau menyelamatkan gadis ini lalu mengabaikannya. Aih, Qin, kalau kau tidak menikah begitu cepat ...." ucap Jiangjun tertahan melihat Qinli yang sama sekali tidak peka terhadap perasaan wanita.


Qinli memang tidak peka, bukannya berpamitan dia malah meninggalkan gadis itu sendirian.


"Ayo cepat pergi, Tuan Muda Xu sedang menunggu jantung ular ini untuk menyelamatkan nyawanya."


Jiangjun menoleh ke arah Wei Nuannuan sambil bergumam, "Benar, benar. Huft, sayangnya, aku tidak punya keberuntungan seperti Qin.


...โšœโšœโšœ...

__ADS_1


...Rumah Sakit Rakyat Shangjing...


"Pil penyembuh spritual ini dibuat dari jantung ular berkepala tiga."


"Aku sekarang akan membuatnya menelan pil ini, kalian berjaga di samping, jangan ada orang lain yang menganggunya!"


Lalu Qinli mulai menyuapi Tuan Muda Xu dengan pil berwarna orange itu. Di samping brankar ada Kapten Xu dan Nona Xu.


"Yinran, kau harus pulih!" seru Nona Xu.


"Tuan Muda Xu telah menelan pil penyembuh spritual, dia akan siuman dalam beberapa hari ini," ucap Qinli.


"Baguslah! Terima kasih Tuan Qin," ucap Nona Xu lega.


Di saat yang sama Kapten Xu hendak pergi meninggalkan tempat itu. Nona Xu yang menyadari hal itu segera bertanya padanya.


"Eh? Kakak, kau mau kemana?"


"Balas dendam!"


...๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ...


Ternyata kepergian Kapten Xu untuk menemui seseorang. Lebih tepatnya orang yang membuat adiknya terbaring lemah di Rumah Sakit saat ini.


"Kenapa adikku bisa keracunan? Kau harus memberikan penjelasan padaku hari ini!" teriaknya sambil membuka pintu rumah itu selebar-lebarnya.


Sedangkan di ujung sana ada seseorang orang yang memakai hodie hitam terduduk di kursi.


"Bukankah kau yang menyuruhku membuatkan obat untuk melumpuhkan kultivasi adikmu? Aku melakukannya sesuai perintahmu!" ucap lelaki berhodie hitam itu.


"Aku hanya mempunyai satu adik laki-laki, aku tidak ingin dia menjadi prajurit dan ikut serta dalam pertempuran."


"Makanya, aku ingin membatasi kultivasinya dan membuatnya menjadi orang biasa!" ucapnya penuh emosi.


"Namun, yang kau berikan adalah racun ganas! Hampir membuatnya kehilangan nyawa!"


Kapten Xu mencengkeram erat kerah baju lelaki itu, tetapi dengan santainya ia tersenyum menanggapi kemarahan Kapten Xu.


"Haha, jangan terlalu emosi! Tenang saja, aku punya batasan. Jika adikmu benar-benar dalam keadaan bahaya, aku akan menyelamatkannya."


Bukan hanya mencengkeram kerahnya, tetapi kali ini Kapten Xu benar-benar telah melempar tubuh pria berhodie hitam itu ke lantai. Kapten Xu kali ini sangat kecewa dan marah pada sahabatnya itu.


"Jangan membodohiku! Racun yang kau berikan pada adikku hanya dapat disembuhkan dengan jantung hewan spiritual, kau sama sekali tak dapat menyembuhkannya!" gertaknya.


"Tujuanmu adalah memancing Qinli pergi berburu binatang spiritual itu agar dia mati di sana dan tidak bisa kembali lagi!" teriak Kapten Xu.


"Aku mendapatkan informasi yang ....."


.

__ADS_1


.


...๐ŸŒนBersambung๐ŸŒน...


__ADS_2