MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 200


__ADS_3

"Jangan-jangan dia bisa menghadang makhluk aneh itu?"


Salah satu prajurit yang sudah melarikan diri itu justru menoleh sebentar.


"Monster berwajah hijau itu punya banyak plakat. Kalau dia dan makhluk besar itu saling menghabisi ...." ucapnya sambil menyeringai.


Namun, betapa terkejutnya ia ketika melihat sebuah kenyataan jika kekuatan besar itu bisa dikalahkan Qinli dalam satu kali serangan. Kedua matanya terbelalak mendapati kenyataan itu.


"Ternyata ... dia membunuhnya ... hanya dengan sekali serang ...."


Beberapa saat kemudian, ada hal aneh yang terjadi, Prajurit Tulang Roh yang barusan ia serang kembali memulihkan diri hingga membuat Qinli harus berjaga-jaga lebih banyak.


Qinli menoleh, "Ternyata dia bukan Prajurit Tulang Roh biasa, dia masih belum mati!"


"Monster wajah hijau itu sangat kuat! Makhluk besar ini tidak akan bisa bertahan lama ... Aku harus cepat kabur!"


"Kalau dia sampai menyadari dua plakat yang ada di tanganku ini ...."


"Namun, aku beruntung bertemu dengan monster berwarna hijau ini."


Prajurit itu nampak menghancurkan salah satu plakat yang berada di tangan kanannya lalu menyatukannya dengan plakat yang berada di tangan kiri. Iya bahkan tersenyum sumringah karena mendapatkan hal yang luar biasa. Setelah berhasil menyatukan dua plakat miliknya, ia pun bersiap untuk pergi dari tempat tersebut.


"Akhirnya aku bisa keluar dari tempat mengerikan ini ...."


Namun tiba-tiba saja ada yang meneriaki dirinya.


"Sedang apa kau ...."


Prajurit itu menoleh dan terlihat Qinli sedang menatap ke arahnya sambil tersenyum mengejek. Tidak lupa ia menunjukan gabungan dua plakat miliknya.


"Aku sudah di level dua, Dadah!"


Namun, betapa terkejutnya prajurit tersebut. Awalnya ia berniat untuk mempermalukan Qinli. Namun ketika ia melihat plakat yang berada di tubuh Qinli yang menunjukkan level enam puluh satu matanya terbelalak kaget.


"Level enam puluh satu ...."


Qinli yang tidak menyadari jika dirinya sudah naik ke level enam puluh satu, segera mengambil plakatnya dan melihat apakah benar yang dikatakan oleh prajurit tersebut.


"Kapan aku naik level?" gumam Qinli kebingungan.


Prajurit yang berada di hadapan Qinli yang awalnya sempat meremehkan kekuatan Qinli begitu tidak terima dengan perbedaan plakat mereka.


"Kenapa perbedaan di antara kita terlalu besar?"


Tiba-tiba ada kekuatan yang datang ke arah prajurit itu dan membuat pasir yang berada di sekeliling mengelilingi tubuhnya. Sementara itu Qinli sudah melesat jauh entah pergi kemana.


"Sudah mau naik ke tingkat dua? Tapi kenapa aku tidak merasa senang sedikitpun?"


Wajah prajurit tersebut terlihat tidak bersemangat. Selepas kepergian Qinli, prajurit itu justru tenggelam dalam lautan pasir sehingga ia tidak bisa melihat ke sekelilingnya.


"Aneh, kemana perginya Jenderal Tulang Roh?"

__ADS_1


Ternyata Qinli sudah melesat ke lantai enam puluh satu. Di sana tidak perbedaan yang mencolok sehingga terlihat sama seperti lantai level satu.


"Lantai enam puluh satu ini sepertinya tidak ada bedanya," ucap Qinli sambil melihat ke sekelilingnya.


Qinli melihat ke arah plakat yang digenggamnya.


"Namun ... kenapa aku tiba-tiba bisa naik level enam puluh satu?"


"Apa karena mutiara barusan?"


Qinli segera mengeluarkan mutiara yang baru saja ia dapat. Dengan segera ia memperhatikan dengan seksama barang apa yang ia dapat tersebut. Ternyata di dalam mutiara tersebut ada empat bayangan naga.


"Empat bayangan naga? Jangan-jangan ...."


Qinli segera menggunakan kekuatannya.


"Akan kucoba lagi!"


Tiba-tiba saja tubuh Qinli dikelilingi oleh aura dari bayangan naga yang berwarna biru. Cahaya itu membubung tinggi ke angkasa. Sementara itu bola mutiara yang berisi bayangan empat naga tersebut berada di tengah-tengahnya.


Di sisi lain prajurit yang meremehkan Qinli tadi berada di lantai dua. Ia terus menggerutu karena di lantai dua itu tidak ada apapun yang bisa dilawan, sehingga tidak akan mungkin mendapatkan plakat di lantai dua tersebut.


Semuanya sudah di babat bersih oleh para prajurit sebelumnya. Ia bahkan menjejakkan kakinya ke tanah secara berulang untuk melampiaskan kekesalan.


"Sial! Tingkat dua sudah disapu bersih!" umpatnya kesal.


Salah satu tangannya bahkan memukul udara di sampingnya. Aneh, tangannya justru merasa sakit karena hal itu, padahal di sampingnya hanyalah udara bukan dinding.


Seketika ia menoleh, "Siapa sih ...."


Ternyata Qinli sudah berada di samping prajurit tadi. Ia pun tersenyum ramah kepadanya.


"Hai, kita bertemu lagi," sapanya dengan tersenyum.


"Apakah aku diteleportasi ke tingkat dua lagi?"


"Benar sesuai dugaanku! Mutiara ini akan memindahkanku ke tingkat manapun secara acak!"


Qinli melihat plakat miliknya yang sudah berubah kembali ke tingkat dua.


"Tingkat dua? Sial!"


Seketika prajurit itu berlari ke belakang karena takut dengan kehadiran Qinli.


"Ka-kau ini manusia atau setan?" teriaknya ketakutan.


Qinli mendekati prajurit yang ketakutan itu.


"Kau mau apa?"


"Gawat! Dia tidak mungkin datang untuk membalaskan dendam padaku, 'kan?"

__ADS_1


Qinli mengeluarkan bola mutiaranya.


"Coba tebak!"


Prajurit itu mundur dengan cepat, sementara itu Qinli sudah mendapatkan plakat itu dan melambaikan tangan ke arahnya.


"Dadah ...."


Mengetahui jika dirinya ditinggalkan kembali, ia pun berlari untuk menyusul Qinli.


"Tuan, bawa aku bersamamu ...."


Bukannya dapat menyusul Qinli, prajurit itu justru terjatuh menelungkup. Wajahnya penuh dengan debu dan pasir sementara itu Qinli sudah melesat jauh.


"Kapan dia berubah menjadi sangat kuat?" ucapnya sambil melihat debu yang beterbangan.


Saat ini Qinli sudah berada di lantai empat puluh sembilan sesuai dengan plakat yang dibawa olehnya.


"Di sini tingkat empat puluh sembilan? Kira-kira di tingkat mana formula bola-bola hitam pembangkit roh berada?"


"Logikanya, formula bola-bola hitam level tujuh tidak mungkin berada di tingkat paling bawah ... Sudahlah, aku akan mulai mencari dari tingkat ini."


Sesaat kemudian ia mendengar sebuah suara yang sangat familiar untuknya.


"Akhirnya sudah mau muncul, aku sudah menunggu berjam-jam!"


"Sepertinya itu suara Wei Yun!"


Ternyata benar di salah satu bagian dari hutan tersebut ada sekelompok orang-orang Wei Yun yang sedang menunggu bola-bola Ninghua keluar dari sebuah gelembung berwarna orange.


"Cepat keluarkan bola-bola Ninghua!" teriak Wei Yun secara tidak sabar.


Benar saja sesaat kemudian gelembung itu mengeluarkan bola-bola Ninghua berwarna merah. Saat itu Qinli bersembunyi di belakang batang pohon.


"Apa yang mereka lakukan?"


Qinli merasa ada orang lain di sana, ia memicingkan matanya ke samping. "Ada orang?"


Sesaat kemudian muncul sekelebat cahaya berwarna biru tua melesat ke arah Wei Yun.


"Bagaimana pun Tuan Wei juga harus memberitahuku kalau sudah menemukan gelembung."


Sebuah cahaya itu ternyata berasal dari Keluarga Yu. Tuan Wei mengepalkan tangannya karena marah.


"Sial! Tidak disangka anggota Keluarga Yu berada di sini!"


Kelima prajurit dari Keluarga Yu tersebut kemudian turun dan berada di hadapan Tuan Wei.


"Bukankah kita sudah sepakat kalau kunci di tingkat ini akan diberikan kepadaku, Tuan Wei!"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2